HOME   > REFERENSI  > -Kelistrikan & Pencahayaan

 
 

-Kelistrikan & Pencahayaan

 


 


     

SISTEM PERAWATAN KELISTRIKAN

DAN PENCAHAYANAN

Oleh 

DANIEL MANGINDAAN 

Sekretaris umum 

HIMPUNAN AHLI ELEKTROTEHNIK INDONESIA

BEKERJASAMA DENGAN PT. LAKSANATAMA TIARA FAJARINDO  

Insinyur profesIonal Madya (IPM) 

PERSATUAN INSINYUR INDONESIA 

Direktur 

PT. ELMES EPSILON

(KONSULTAN TEKNIK)

BEKERJASAMA DENGAN PT. LAKSANATAMA TIARA FAJARINDO

(MAINTENANCE BUILDING DAN KONTRAKTOR )

  



 
1.      PENDAHULUAN
    1.1    Sistem Kelistrikan
Instalasi dan peralatan Sistem kelistrikan sebagai salah satu bagian dari sistem utilitas bangunan, sistem dan besarannya bervariasi mengikuti besaran, kompleksitas bangunan maupun fungsinya.
Mengawali bahasan pada Pelatihan Penyegaran Teknik Pemeliharaan ini, guna bahan acuan dan sebagai suatu gambaran umum dari suatu instalasi listrik serta pelayanannya, pada gambar 1.1. ditampilkan sebagai contoh suatu gambar Diagram Satu Garis dari suatu sistem kelistrikan yang relative sederhana dan pada gambar 1.2 ditampilkan suatu gambar Diagram Satu Garis dari suatu sistem kelistrikan yang disebutkan lebih kompleks misalnya melayani gedung bertingkat banyak dan lebih luas.
Dari contoh gambar Diagram Satu Garis ini, secara garis besar peralatan utama suatu Instalasi Sistem Kelistrikan dapat dikelompokkan dan disebutkan antara lain sebagai berikut :
1.             Sumber Daya Listrik.
Dikategorikan sebagai berikut :
a.    Sumber daya listrik PLN; sebagai sumber daya listrik utama yang disiapkan untuk melayani keseluruhan kebutuhan beban listrik.
b.  Sumber daya listrik cadangan atau alternative (Diesel Generator Set, dll); yang disiapkan untuk melayani kebutuhan beban listrik tertentu saja, dapat juga dengan kapasitas untuk melayani keseluruhan beban listrik terantung kepada criteria dan dasar-dasar perencanaan yang ditentukan.;
c.     Sumber Daya Listrik Darurat (Emergency Power Supply);
Sumber daya listrik yang disediakan khusus untuk melayani beban listrik yang dikategorikan sebagai beban listrik darurat.
Beban listrik darurat adalah misalnya : pencahayaan darurat (emergency lighting) dll, yang sumber daya listrik ini disyaratkan sudah harus dapat beroperasi dan dibebani kurang dari waktu 10 detik.
d.   Uninterruptible Power Supply/UPS; sebagai sumber daya listrik yang khusus untuk melayani beban listrik yang khusus untuk melayani beban listrik khusus yang membutuhkan daya listrik yang tidak boleh terputus ataupun yang membutuhkan kwalitas kelistrikan yang tinggi, dll.
Perletakan atau pelayanan UPS dapat dilakukan secara terpusat dapat pula dilakukan secara setempat pada area lokasi beban yang akan dilayani, sebagaimana yang ditentukan di dalam perencanaan.
 
2.              Distribusi Daya Listrik.
Dikategorikan distribusi daya listrik antara lain :
a.  Kabel 20 KV; yaitu dari jenis berinti tembaga ataupun alumunium, berinti tunggal maupun berinti banyak,dll.
b.  Kabel Tegangan Rendah; yaitu dari jenis berinti tembaga maupun alumunium, berinti tunggal maupun berinti banyak, serta kabel khusus tahan api,dll.
c.   Busduct; terutama untuk melayani beban yang besar atau utama atau yang terdistribusi. Baik dari jenis konduktor bahan tembaga maupun alumunium.
d.     Kabel Kontrol,dll.
 
3.              Transformator.
a.     Transformator minyak;
b.     Transformator kering (Dry type transformer).
Baik untuk pemasangan secara terpusat maupun secara tersebar dekat kepada pusat beban mengikuti pertimbangan perencanaan.
 
4.              Panel/Peralatan Hubung Bagi.
a.   Panel Tegangan Menengah 20 KV; sebagai pusat pembagi untuk suatu sistem dengan catu daya listrik 200 KVA keatas (klarifikasi PLN).
1)    Pemutus Daya/Circuit Breaker; dengan jenis-jenis antara lain :
-       Oil Circuit Breaker;
-       SF6 (Gas filled) Circuit Breaker;
-       Vacuum Circuit Breaker;
 
2)    Saklar Pemutus Berbeban/Load Break Switch.
-       Isolator/Saklar Pemisah
-    Sikring/Fuse; digunakan sebagai pengaman / pemutus terhadap arus hubung singkat
-      Busbar (dari bahan tembaga atau alumunium) dan isolator pendukungnya.
-     Instrument Transformer; transformator Arus  dan Transformator Tegangan
-       Rele
                                   
3)   Proteksi; arus hubung singkat, arus beban lebih, daya balik, dll.
 
4)    Auxiliary relays.
-       Meter pengukuran; arus, tegangan, daya aktif, daya reaktif, frekuensi, enersi, factor daya, daya reaktif,dll
 
5)    Penbumian,dll
 
b.     Panel Tegangan Rendah 380V/220V.
1)    Pemutus Daya / Circuit Breaker.
-       Air Circuit Breaker.
2)    Saklar/Pemisah.
3)    Kontaktor
4) Sikring/Fuse, digunakan sebagai pengaman/pemutus terhadap arus hubungan singkat atau sebagai pembatas terhadap arus hubung singkat yang besar dalam hal ini mengamankan Circuit Breaker yang hanya mempunyai Breaking Capacity yang rendah.
5)   Busbar (dari bahan tembaga atau alumunium) dan isolator pendukung.
6) Instrument Transformer : Transformer Arus, Transformator Tegangan.
 
 
7)    Rele :
-    Proteksi : Rele Arus (hubung singkat, beban lebih), Rele tegangan (tegangan lebih, tegangan kurang), Rele Daya balik,dll
 
8)    Auxiliary Relays.
-      Meter pengukuran : arus , tegangan, daya aktif, daya reaktif, frekuensi, enersi aktif, enersi reaktif, dll.
-       Pengetahanan
 
5.              Kompensator factor daya/ kapasitor/Capacitor bank.
6.              Batere/Akumulator.
7.              Beban listrik.
a.     Peralatan sistem pengkondisian udara dan ventilasi;
b.     Peralatan motor-pompa (domestic, kebakaran,dll);
c.     Elevator,escalator;
d.     Peralatan perkantoran;
e.     Pencahayaan;
f.      Dan lain-lain.
 
8.            Peralatan penunjang : rak kabel, conduit, klem, dll.
Elemen atau peralatan-peralatan kelistrikan diatas, pada butir lebih lanjut akan kita bahas dalam hal pemasangan, testing & commissioning, pengoperasian, pemeliharaan dan pergantian / perbaikan sebagai bagian dari suatu instalasi sistem kelistrikan bangunan.
 
 
 
1.2.        Lokasi
Dari gambar dan uraian pada butir diatas, lokasi atau perletakan daripada suatu instalasi sistem kelistrikan dapat disebutkan antara lain :
1.         Pusat listrik/Power House/gardu listrik.
2.         Jalur distribusi; saf listrik, jalur kabel/rak kabel diatas plafon atau
            koridor, dll
3.        Lokasi beban; ruang pompa, ruang chiller, ruang AHU, ruang motor lift, seluruh ruangan untuk pencahayaan, dll.
Sedemikian rupa sehingga berbicara menyangkut instalasi sistem kelistrikan maka dapat dikatakan bahwa tersebar di seluruh area bangunan.
 
 
1.3      Aspek.
           Dari uraian tentang lingkup sistem kelistrikan suatu bangunan, maka dalam pelayanan dan pengoperasian, beberapa hal/aspek perlu untuk diberi penekanan yaitu antara lain :
1.             Melayani seluruh kebutuhan.
Pelayanan dan pengoperasiannya harus dijamin untuk benar-benar dapat melayani kebutuhan daya listrik bagi seluruh utilitas bangunan seperti sistem AC dan ventilasi mekanis, sistem elevator dan escalator, sistem pompa air domestic, sistem pompa kebakaran, sistem pencahayaan, sistem komunikasi dan file alarm, peralatan kerja dan kantor , dll;
2.             Memberi kenyamanan.
Harus dijamin untuk mendapatkan kenyamanan dalam arti bahwa gangguan terhadap operasi sistem kellistrikan akan mengganggu operasi dalam sistem utilitas lain. Untuk itu maka sistem kelistrikan haruslah andal/realible dengantingkat kejatuhan/gangguan/failure rate yang rendah atau kecil.
Suatu failure rate yang tinggi dari suatu instalasi sistem kelistrikan juga akan mengakibatkan kenaikan daripada biaya pengusahaan sistem kelistrikan bangunan.
3.             Aman.
Aspek yang sangat penting adalah bahwa instalasi sistem kelistrikan ini haruslah “aman”. Disadari bahwa instalasi listrik dalam bekerjanya adalah merupakan salah satu sumber atau penyebab terjadinya kebakaran bangunan.
Sedemikian rupa sehingga sangatlah ditekankan bahwa suatu instalasi listrok haruslah memenuhi kaidah-kaidah “fire safety”.
4.             Keselamatan.
Aspek yang sangat penting lainnya bahwa terhadap suatu instalasi sistem kelistrikan didalam pemasangan, pengoperasiannya serta didalam pengerjaan pemeliharaan dan perbaikan maka factor “keselamatan kerja” didalam hal ini terutama “keselamatan kerja” serta keselamatan benda haruslah diutamakan dan dijaga untuk tidak terjadinya malapetaka ini.
Aspek-aspek yang disebutkan diatas terhadap suatu instalasi kelistrikan bangunan adalah menjadi suatu tuntutan untuk diterapkan dalam upaya mencapai suatu sistem serta fasilitas bangunan yang benar.
 
 
 
2.                PEMASANGAN
2.1              Umum
Telah diuraikan diatas bahwa suatu instalasi sistem kelistrikan bangunan selain fungsinya untuk menunjang operasional sistem utilitas bangunan yang lainnya, serta lokasi instalasi yang tersebar diseluryh bangunan ditambahkan dengan beberapa aspek yang harus diperhatikan, maka untuk hal pemasangan instalasi sistem kelistrikan bangunan diuraikan terhadap hal-hal seperti :
1.     Gambar rancangan dan spesifikasi teknis.
2.     Petunjuk pabrik pembuat. 
3.     Persyaratan, peraturan,code dan standard.
4.     Lokasi
5.     “Keselamatan Kerja” dan “Fire Safety”.
6.     Penomoran/identifikasi.           
 
 
2.2              Gambar Rancangan dan Spesifikasi Teknis.
2.2.1           Umum,
Dengan didasarkan kepada gambara rancangan dan spesifikasi teknis yang telah dibuat dan yang kemudian mungkin melalui suatu proses lelang dan lain-lain, telah menjadi dokumen pelaksanaan, terhadapa mana akan dijadikan acuan oleh pihak pelaksana.
Sekalipun pada tahap perencanaan tentunya sudah dilakukan pemeriksaan dan pengecekan mungkin dalam hal seperti : pemenuhan terhadap requirement, TOR, criteria dan dasar perhitungan teknis, code & standard, serta peraturan-peraturan, namun pada tahap pemasangan ini sesungguhnya masih dapat dan sebaiknya untuk dilakukan pemeriksaan kembali.
Pemeriksaan terhadap gambar pelaksanaan antara lain mencakup :
1.     Kesesuaian besaran dan kapasitas elemen/komponen instalasi terhadap
        gambar rancangan dan spesifikasi teknis.
2.     Penyesuaian/pengecekan terhadap lokasi dan dimensi sedemikian rupa
      sehingga dapat diyakini bahwa pemasangan instalasi dan peralatan telah memadai dan cukup untuk dapat beroperasi dengan benar serta dapat dilakukan pemeliharaan dan perbaikan dikemudian hari.
3.     Kemungkinan untuk melakukan penambahan terhadap hal-hal yang
         mungkin belum disertakan maupun dikarenakan adanya permintaan baru.
4.     Menyusun suatu sistem penomoran/marking/identifikasi dari seluruh
        peralatan yang akan dipasangkan.
 
 
2.2.2.        Gambar Kerja/Gambar Pelaksanaan.
Dalam tahap pemasangan, pihak pelaksana menyiapkan Gambar Kerja/Gambar Pelaksaan atau disebutkan juga sebagai Shop-Drawing yang kelengkapannya mencakup antara lain :
1.     Merupakan pendalaman dan pendetailan daripada Gambar
      Perencanaan/Gambar Lelang; didalam mana beberapa hal dibawah ini harus ditunjukan yaitu:
a.       Gambar diagram Satu Garis , digambarkan kembali menjadi
        gambar detail misalnya Gambar Diagram Tiga (3) Fasa yang lengkap
        tertampilkan seluruh peralatan dan komponen dari sistem kelistrikan.
b.    Gambar-gambar harus menggunakan symbol atau LAMBANG-GAMBAR yang sudah baku seperti lambing gambar pada PUIL 1987 yamg meliputi:
-            Lambang Gambar untuk Diagram Saluran Arus Kuat;
-          Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Pusat dan
            Gardu Listrik;
-            Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan
-            Lambang Huruf untuk peralatan/instrument ukur seperti: A (Amper), V (Volt), VA (Volt Amper), W (Watt), Wh (Watt jam), Hz (Hertz) dan lain-lain.
 
Standard lambing gambar dari IEC (International Electrotechnical Commission) yaitu yang dijadikan acuan PUIL serta DIN (Jerman) ataupun Standard dari negara lain sejauh tidak bertentangan dengan apa yang telah ditentukan didalam PUIL, dapat pula digunakan.
2.  Pendetailan secara fisik(tipologi) pemasangan peralatan dan instalasi, lengkap dengan penujang/alat Bantu dan lain-lain.
3.  Untuk peralatan yang dipasang didalam ruang seperti panel listrik, transformator dan lain-lain, penggambaran perletakan lengkap denganukuran-ukuran.
4.     Penomoran/identifikasi dari setiap peralatan, komponen dan unsure dari instalasi sistem kelistrikan (ini akan diuraikan pada bagian lain).
Persetujuan terhadap Gambar Kerj/Shop Drawing serta terhadap Uraian Teknis Peralatan, menyatakan bahwa pemasangan serta pemesanan/pengadaan peralatan dapat dilaksanakan.
 
 
 
2.3.             Lahan/Lokasi
Penyiapan lahan atau lokasi pada mana instalasi akan dipasangkan, perlu memperhatikan hal-hal antara lain :
1.    Koordinasikan dengan pihak lain, bidang Arsitektural, Struktural dan bidang utilitas lainnya;
2.     Penyiapan pelobangan/perkerasan pondasi, dinding, gantungan, dan lain-lain;
3.     Kebersihan ruangan/lokasi; terdapatnya peralatan kelistrikan yang harus terpasang pada tempat yang bersih, tidak panas selain harus teramankan terhadap terpecik air atau kehujanan dan lain-lain;
4.     Ruangan/lahan harus dijamin “Keselamatan Kerja” maupun “Fire Safety” baik selama masa pemasangannya maupun pada tahap operasi dan pemeliharaan;
5.     Tersedia sistem ventilasi yang cukup di dalam ruang listrik;
 
 
2.4.             Petunjuk Pabrik
Untuk peralatan tertentu baik itu peralatan ter-“assembling” seperti Peralatan Hubung Bagi (Panel listrik), Uninterupted Power Supply (UPS) dan lain-lain, maupun untuk peralatan berupa komponen lepas seperti Transformator, Pemutus Daya/Circuit Breaker dan lain-lain yang dipasok oleh pabrik, didalam pemasangannya apabila ada petunjuk yang dikeluarkan oleh pabrik agar diikuti.
Mengikuti petunjuk pabrik pembuat pada saat pemasangan maupun nantinya didalam cara pengoperasian yang benar, ini akan memberikan keuntungan bagi pemilik berkaitan dengan warranty atau jaminan dari pabrik selama kurun waktu tertentu
 
2.5         Peraturan, Code dan Standard
              Dalam pemasangan peralatan suatu instalasi sistem kelistrikan dalam bangunan maka menjadi suatu keharusan untuk mengikuti Peraturan-peraturan yang berlaku serta code dan standard.
              Dapat disebut antara lain :
1.     Peraturan Umum Instalasi Listrik/PUIL (edisi 1987/SNI 225-1987, berhubung PUIL edisi baru masih dalam proses), didalam peraturan ini sudah dirinci hal-hal menyangkut instalasi listrik termasuk sebagai berikut :
2.     Peraturan Dasar;
3.     Pengamanan;
a.     Perencanaan Instalasi Listrik;
b.     Kelengkapan;
c.     Perlengkapan Hubung Bagi;
d.     Penghantar dan Pemasangan;
e.     Ruang Instalasi Khusus;
f.      Pengusahaan Instalasi Listrik.                                 
4.    Keputusan Menteri PU No.441/KPTS/1998, Persyaratan Teknis Bangunan-Bangunan;
5.     Peraturan daerah tekait;
6.     Peraturan keselamatan kerja;
7.    Code dan Standard lainnya, baik itu berupa Standard Nasional Indonesia yang terkait maupun Code dan Standard dari Negara lain sejauh tidak bertentangan dengan yang telah ada dan berlaku di negara kita.
 
 
 
2.6              Penomoran / Identifikasi
Untuk suatu sistem instalasi maka menjadi keharusan untuk memberikan penomoran atau identifikasi atau kode terhadap seluruh peralatan dan rangkaian listriknya.
Peralatan yang dimaksud adalah antara lain :
1.   Peralatan berupa hasil assembling/rakitan seperti : Panel Listrik, UPS, Capacitor Bank, Fixture lampu, dan lain-lain.
2.  Komponen atau elemen yang merupakan bagian dari suatu peralatan assembling seperti : Circuit Breaker, Saklar Pemutus, Transformator Instrument, Rele, Meter Ukur, Alat Kontrol dan aksesori lainnya;
3.     Peralatan lepas seperti : Transformator, UPS, Busduct,dll;
4.     Kabel, baik kabel TR maupun kabel TM, dll.
 
 
Penomoran/identifikasi pada tahap pemasangan akan digunakan selain untuk memudahkan pengecekan terhadap peralatan yang masuk ke lapangan, yang lebih penting lagi adalah mempermudah dan memberi kepercayaan didalam melaksanakan instalasi, misalnya pengecekan terminasi/pemyambungan peralatan dan lain-lain.
Adakalanya untuk suatu peralatan terakit dari pabrik sudah mengikuti suatu sistem penomoran tertentu mengikuti standard dari negara pemasok atau mengikuti cara penomoran yang dilakukan oleh pembuat panel misalnya.
Penomoran/identifikasi peralatan ataupun komponen instalasi kelistrikan selanjutnya akan menjadi penting terutama setelah sistem beroperasi dalam hal ini guna memudahkan pengecekan pada saat pemeliharaan dan perbaikan/penggantian baik itu pada saat terjadi kerusakan maupun dalam melakukan pemeliharaan rutin (repair & maintenance program) dll.
Penomoran atau identifikasi peralatan didalam suatu instalasi sistem kelistrikan, menyesuaikan dengan komplikasi sistem terpasang dapat disusun dengan cara misalnya :
a. Secara terkelompok dinyatakan mengikuti ruangan/bagian bangunan dimana instalasi itu terpasang, kemudian sistem dirinci mulai dari sisi sumber daya berurut sampai kepada beban listriknya termasuk jaringan distribusinya, diberikan suatu sistem penomoran tertentu. Cara ini diterapkan untuk instalasi pada bangunan yang cukup kompleks;
b.  Secara menyeluruh tanpa dilakukan pengelompokkan untuk setiap ruangan, selanjutnya peralatan dirinci mulai dari sisi sumber daya kemudian berurut sampai ke sisi beban listrik termasuk jaringan distribusinya, diberikan suatu sistem penomoran tertentu.
 
 
Sedemikian rupa sehingga untuk setiap peralatan/komponen dari instalasi sistem kelistrikan dengan mudah dapat disebut atau dipanggil identifikasinya baik itu sebagai komponen lepasan seperti transformator, saklar/switch lampu, maupun itu sebagai suatu peralatan rakitan (assembled) seperti panel listrik termasuk rincian komponen-komponen pembentuk panel tersebut.
Untuk cara identifikasi ini maka untuk ruangan / lokasi harus dibuatkan cara penomoran tersendiri dan untuk peralatan/komponen harus pula disusun suatu cara penomorannya tersendiri.
Penomoran atau identifikasi baik untuk ruangan/lokasi maupun untuk peralatan/komponen dan rinciannya, penyusunannya dapat menggunakan alphabetic maupun numeric.
 
 
 
2.7.             Pemeriksaan
1.     Pemeriksaan terhadap material yang tiba dilapangan mencakup antara lain :
a.     Pemeriksaan kesesuaian Daftar Pengiriman material sebelum
     tiba dilapangan tergadap gambar kerja dan uraian teknis yang telah disetujui;
b.     Kesesuaian material yang tiba dilapangan dengan Daftar
     Pengiriman serta persetujuan gambar kerja dan uraian teknis peralatan
c.     Kondisi baru dan bukan barang bekas pakai maupun barang
        yang terlalu tua meskipun belum pernah digunakan;
d.     Material tertentu, tiba dilapangan harus dalam keadaan
        terproteksi/terbungkus dan lain-lain;
e.     Tidak terdapat kerusakan atau terlihat tanda-tanda kerusakan.
 
2.     Pemeriksaan saat pemasangan mencakup antara lain :
a.     Pemasangan harus benar, mengikuti prosedur pemasangan
        yang benar atau mengikuti petunjuk pabrik pembuat;
b.     Pemasangan tidak dilakukan secara paksa;
c.     Periksa terhadap hal-hal seperti : radius bengkokan kabel, klem kabel, jarak antara komponen, terdapatnya ruang untuk operasi dan pemeliharaan;
d.     Estetika pemasangan, dll.
 
 
3.           KOMISIONING.
                    Kata komisioning adalah istilah baku dari istilah bahasa asing “commissioning”. Dalam bahasan Komisioning ini dicakup didalamnya hal-hal sebagai berikut : komisioning instalasi, pengujian peralatan, proses uji-coba dan serah terima (acceptance).
                           Definisi Komisioning : ialah rangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu instalasi listrik untuk meyakinkan bahwa instalasi yang baru diperiksa dan diuji ini, baik itu secara komponen demi komponen maupun sebagai suatu peralatan ter-assembly sampai kepada sebagai suatu sistem instalasi menyeluruh, telah berfungsi semestinya dan memenuhi persyaratan kontrak, sehingga dapat dinyatakan siap dioperasikan dan secara resmi dapat dilakukan proses serah terima kepada pemilik/pemakai.
                            Kadangkala dalam perjalanan suatu proyek pembangunan dimana didalamnya
                            terdapat pemasangan instalasi sistem kelistrikan maupun sistem utilitas lainnya,
                           didalam uraian teknis memang ditemui kata  komisioning (test & commissioning),
                            namun rincian dari testing atau komisioning yang bagaimana terhadap peralatan
                           /instalasi mana yang harus dikomisioning sering tidak kita temui.
                           Untuk hal ini maka biasanya kemudian diserahkan kepada apa yang diusulkan
                            oleh pemborong pelaksana atau bersyukurlah kalau pihak pengawas dapat
                           mengajukan suatu sistem komisioning yang harus dilakukan. Kesulitan
                           lain dapat timbul yaitu kalau cara komisioning yang diajukan oleh pengawas
                           dianggap terlalu “berlebihan” sehingga berada diluar perkiraan biaya/kontrak si
                            pelaksana, padahal apa yang diajukan oleh pengawas itu adalah cara
                            komisioning yang benar.
                           Sehingga memang adalah merupakan kebutuhan dan persyaratan proyek untuk merinci lingkup komisioning ini.
 
 
 
 
3.1              Tahapan Pengujian
Pengujian atau testing merupakan suatu kegiatan yang akan dilakukan terhadap suatu peralatan yang sudah terpasang yang sudah diperiksa dan siap untuk dioperasikan ataupun untuk diberi tegangan kerja.
Pengujian terhadap suatu peralatan/komponen hasil produksi, secara umum mencakup tahapan sebagai berikut :
1.         Pengujian jenis (Type Test)
Pengujian secara lengkap terhadap contoh prototype yang disiapkan oleh pabrik untuk membuktikan apakah contoh tersebut memenuhi semua sifat-sifat teknis yang disebutkan dalam standard yang berlaku.
Lazimnya pengujian ini cukup dilakukan sekali saja, namun jika produsen mengganti salah satu jenis bahan baku maupun konstruksi/desain maka pengujian ini perlu diulang kembali selengkapnya.
Pengujian ini dilakukan di pabrik sebelum melaksanakan produksi massal untuk menjaga kemungkinan adanya kesalahan prinsipil.
 
2.         Pengujian Rutin.
Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap satu-persatu hasil produksi dengan maksud untuk memisahkan hasil produksi yang tidak memenuhi persyaratan standar. Pengujian rutin ini dilaksanakan di pabrik.
Dalam standar ditentukan macam pengujian rutin yang harus dilakukan oleh pabrik pada setiap hasil produksi (satu-persatu) untuk menjamin agar tidak ada defect/cacat yang lolos.
 
3.         Pengujian Serah-Terima (Acceptance Test)
Pengujian yang dilakukan terhadap sejumlah barang (batch-partai) untuk menentukan apakah partai tersebut diterima ataupun ditolak karena tidak memenuhi kriteria yang sebelumnya dengan menerapkan mata-mata uji yang umumnya bersifat tidak merusak (non-destructive) seperti pada pengujian rutin. Pengujian ini bertujuan menguji kembali hal-hal yang seharusnya telah dilakukan oleh pabrik.
Di lapangan, pengujian dalam rangka komisioning dan serah terima ini, dilakukan baik tehadap peralatan maupun juga terhadap instalasi secara menyeluruh.
Catatan :
Untuk beberapa jenis peralatan tertentu ada kalanya dikenakan pengujian khusus yaitu pengujian yang dilakukan atas dasar persetujuan antara fabrikan dan pembeli.
 
 
3.2.        Pengujian Individual dan Pengujian Peralatan.
1.    Pengujian Individual.
       Pengujian individual terhadap peralatan utama, yaitu pengujian karakteristik
       unjuk kerja dari masing-masing peralatan/komponen dapat dilihat pada
       tabel II-I berikut ini.
2.    Pengujian Peralatan.
        Dilaksanakan tahapan pengujian jenis (type test), pengujian rutin dan
      tahapan pengujian serah-terima (acceptance test) terhadap peralatan dapat
       dilihat pada tabel II-2 diberikut ini.
 
Pada tabel II-I (pengujian Individual)  dan pada tabel II-2 (pengujian peralatan), ditemukan sederetan “Mata Uji” yang perlu dilakukan untuk setiap tahapnya. Sederetan mata-uji yang disebutkan ini untuk jenis peralatan tertentu sebenarnya belumlah merupakan keseluruhan mata-uji terutama yang harus dilakukan pada tahapan pengujian jenis (type-test) dan pebgujian rutin, pada tabel II-I dan tabel II-2 diatas sengaja tidak kami tuliskan.
Pada tabel II-I dan tabel II-2 yang terutama ingin dkemukakan disini adala “mata-uji” yang perlu dilakukan pada tahapan “Serah Terima” yaitu pengetesan/pengujian dilapangan sebagai persyaratan komisioning agar dapat dilakukan suatu “uji-coba” dan diberikan tegangan kerja kepada peralatan dan selanjutnya akan dioperasikan setelah dilakukan proses “Serah-Terima”.
Terdapat pula beberapa mata-uji untuk pengujian jenis/”type test” ataupun untuk pengujian rutin, untuk hal-hal tertentu dimintakan juga untuk dilaksanakan dilapangan. Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan, namun kalau pengujian ini dimintakan maka dapat saja dilakukan namun dengan besaran pengujian yang tidak penuh misalnya 75% dari yang disyaratkan.
 
 
3.3         Uji-Coba dan Serah Terima.
              Setelah dilakukan pengujian secara parsial terhadap setiap peralatan atau bagian dari
              instalasi, maka instalasi dinyatakan siap untuk dilakukan “uji-coba”.
              Uji-coba yang dilakukan terhadap keseluruhan sistem adalah untuk mengetahui kinerja
              dari sistem secara menyeluruh dan akan dilakukan baik secara tanpa beban maupun
              dengan berbeban.
              Menjadi catatan dan merupakan hal yang utama, bahwa sebelum melakukan uji-coba,
           selain semua peralatan/bagian instalasi sudah dilakukan komisioning, agar dicek kembali apakah semua peralatan/bagian instalasi sudah dilakukan pengujian atau pengukuran tahanan isolasi.
              Palaksanaan uji-coba instalasi kelistrikan bangunan dilakukan secara berurutan mulai dari sisi sumber daya listrik dan diuraikan sebagai berikut :
1.             Persiapan Umum
a.  Sebelum melakukan uji-coba, maka seluruh instalasi harus terpasang dengan baik dan benar, sudah dilakukan pengujian secara parsial dan siap untuk dilakukan uji-coba;
b.     Semua bagian ruangan yang terkait dengan bagian utilitas yang akan dilakukan uji-coba harus sudah bersih dan ntidak terdapat benda-benda lain menghalangi pelaksanaan uji-coba;
c.   Orang yang bertanggung jawab melaksanakan uji-coba ini adalah orang yang mengetahui dan meguasai seluruh instalasi sistem kelistrikan ini;
d.     Sudah terpasang dan tersambung dengan benar seluruh sistem pengetanahan pengaman, begitu pula sistem pengetahanan netral;
e.   Orang yang tidak berkepentingan agar tidak berada didalam ruang listrik;
f.      Menyiapkan dan menempelkan pada setiap bagian yang sedang diuji-coba, perlengkapan/tanda atau rambu peringatan;
g.     Melakukan pengecekan akhir sebelum melakukan uji-coba;
 
1.  Semua pemutus daya/saklar baik pada sisi masukan (incoming) maupun berada pada  sisi keluaran (outgoing) dari semua panel listrik harus berada pada posisi keluar/off.
2.     Pastikan bahwa seluruh bagian instalasi di semua panel, di semua saklar maupun stop-kontak tidak bertegangan, dilakukan pengukuran tegangan fasa-tanah untuk instalasi TR.
 
 
 
2.            Uji –Coba Bertegangan Tanpa Beban
a.     Masukan sumber daya listrik dari sumber PLN;
b.     Panel Utama 20 kV.
1).     Periksa dan catat keadaan awal panel;
2).     Masukan Pemutus Daya Utama (incoming feeder);
3).     Periksa dan catat, meter pengukuran terutama volt-meter, frekuensi meter;
4).     Periksa dan catat kedaan panel.
c.    Outgoing feeder 20 kV dan transformator.
        1).     Periksa kedaan awal outgoing feeder/kabel 20 kV dan
                  transformator;
        2).     Masukkan Pemutus Daya (outgoing feeder) ke sisi
                  transformator;
3).     Periksa dan catat kedaan kabel 20 kV dan transformator setelah diberi tegangan         kerja;
         -      Apakah ada bunyi/degung yang berlebihan pada
                transformator ?
         -      Apakah ada pemanasan yang drastic pada
                transformator dan pada kabel 20 kV?
 4).     Periksa dan catat keadaan kabel TR atau busduct
           keluaran dari transformator.
                    d.   Panel Utama Tegangan Rendah.
                                 1).  Periksa dan catat keadaan awal panel;
                                 2).  Masukkan Pemutus Daya Utama (incoming feeder) dari
                                       transformator;
                                 3).  Periksa dan catat keadaan panel, lakukan pengukuran
                                       terutama volt
                                        dan frekwensi   dan lain-lain.
                      e.   Outgoing feeder TR.
                                 1).  Periksa dan catat keadaan awal panel.
             2).  Masukkan Pemutus Daya Keluaran (outgoing
                    feeder), ini dilakukan satu persatu;
                                            3).  Setelah memasukkan, periksa dan catat keadaan panel
                                                   terkait, lakukan pengukuran terutama volt dan
                                                   frekwensi dan lain-lain.
                                            4).  Dst-nya dilakukan dengan untuk setiap pemutus
                                                   daya keluaran (outgoing feeder) serta pemeriksaan
                                                   terhadap panel terkait.
              f. Panel Beban.
                                 1).  Dilakukan terhadap seluruh panel beban, dilakukan
                                        satu demi satu;
                                  2).  Masukkan Peutus Daya Masukan (incoming feeder),
                                        kemudian diikuti dengan memasukkan Pemutus Daya
                                        Keluaran;
                                 3).  Periksa dan catat, pengukuran tegangan.
                g. Pada Sisi Beban.
                                 1).  Dilakukan pada setiap panel beban yang melayani
                                        beban seperti: panel lift, panel chiller, panel pompa,
                                        panel pencahayaan dan stop-kontak;
                                 2).  Pekerjaa n seperti yang telah dilakukan pada butir
                                        terdahulu;
                                  3).  Periksa dan catat keadaan pada beban yang terkait
                                       (Lift, Chiller, Pompa, Pencahayaan, dll).
 
 
3.               Uji-Coba Berbeban.
                Dalam keadaan semua panel sudah diberi tegangan,dilakukan pemasukan CB/Saklar/Switch yang melayani beban satu demi satu.
                        Pelaksanaan uji-coba berbeban ini dilakukan secara persetiap
                       panel dengan menjalankan semua beban listrik yang tersambung
                        pada panel tersebut secara berurutan sampai seluruh beban
                        tersambung.
                  Dalam pelaksanaan uji-coba berbeban ini dilakukan pemeriksaan setiap panel dan melakukan pengukuran terhadap arus, tegangan dan factor daya (bila terpasang) sambil memperhatikan unjuk kerja dari setiap peralatan/beban listrik terpasang.
Pencatatan hasil uji-coba berbeban harus dilakukan dan disahkan oleh pengawas dan wakil pemilik adalah merupakan bagian dari dokumen serah terima nantinya.
 
 
Setelah dilakukan uji-coba diatas mulai dari sisi sumber daya listrik sampai ke sisi beban, akan diperoleh data pencatatan hasil uji-coba. Dari hasil yang diperoleh dan dinyatakan “baik” ini, maka pekerjaan instalasi sistem kelistrikan siap untuk dilakukan proses “serah-terima” dan selanjutnya untuk dioperasikan.
 
 
4.               PENGOPERASIAN.
Mengfungsikan seluruh instalasi sistem kelistrikan setelah dilakukan komisioning dan uji-coba termasuk melakukan mode-operasional sesuai dengan apa yang dirancang sehingga dapat dijalankan, baik dengan cara pengoperasian normal, cara pengoperasian dengan sumber daya cadangan maupun cara pengoperasian saat kebakaran.
1.            Pengoperasian Normal
Dimaksudkan disini, mengikuti apa yang disebutkan dalam rancangan, system dioperasikan dengan sumber daya listrik dari PLN.
2.            Pengoperasian Dengan Sumber Cadangan.
a.              Dimaksudkan disini, mengikuti apa yang disebutkan dalam rancangan, system dioperasikan dengan menggunakan Diesel Generator Set sebagai sumber daya listrik. Hal ini kemungkinan disebabkan sumber daya listrik mengalami gamgguan ataupun karena alas an lainnya;
b.              Kapasitas sumber daya listrik darurat/cadangan (Diesel Generator) adalah menyesuaikan dengan besarnya beban listrik yang diklasifikasikan sebagai beban preference;
c.              System switching baik secara otomatis ataupun manual dilakukan mengikuti mode operasional ini.
3.            Pengoperasian Saat Terjadi Kebakaran.
a.              Dimaksudkan disini, mengikuti apa yang disebut dalam rancangan, dilakukan pengoperasian system kelistrikan pada saat terjadinya kebakaran;
b.              Adanya pelayanan secara khusus terhadap peralatan instalasi yang mempunyai kefungsian dalam penanggulangan dan pemadam kebakaran, sepertio : system pompa kebakaran, system udara tekan di tangga kebakaran, system voice evacuation, system pencahayaan darurat dan lain-lain;
c.              Sumber daya listrik pada saat terjadi kebakaran ini dapat saja dari sumber PLN, sumber cadangan Diesel Generator ataupun dari system UPS/Batere;
d.              Untuk system pencahayaan darurat saat terjadi kebakaran, disediakan adanya beebrapa buah lampu dalam setiap area dengan fungsi memberikan pencahayaan saat terjadi kebakaran.
            Lampu khusus ini (inkandesen ataupun fluresen), pada saat keadaan normal mungkin saja ikut menyala sebagai lampu pencahayaan biasa, mungkin saja dalam keadaan mati/tidak menyala, namun yang pasti bahwa pada saat terjadi kebakaran lampu ini harus tetap menyala sekalipun sumber daya listrik PLN ataupun Diesel Generator dimatikan. Lampu-lampu ini dilengkapi dengan system batere secara individual ataupun secara tersentral local.
 
 
5            PEMELIHARAAN/PERAWATAN
5.1         Umum
        Sangat mudah untuk dipahami bahwa lancarnya pelayanan dan beroperasi suatu instalasi system kelistrikan bangunan berarti lancarnya pula pelayanan dan bekerjanya system utilitas lainnya seperti pengkondisian udara, lift, pompa-pompa air, pencahayaan dan stop kontak dan lain-lain.
        Terjadinya interupsi atau gangguan/failures pada suatu instalasi system kelistrikan bangunan akan mengganggu atau melumpuhkan bekerjanya utilitas bangunan atau pelayanan bangunan, dan hal ini harus diupayakan untuk dicegah atau setidaknya diminimalkan.
 
5.1.1.        Pemeliharaan.
Dapat didefinisikan sebagai berikut : pemeliharaan/perawatan instalasi system kelistrikan bengunan meliputi program pemeriksaan/inspeksi, perawatan, perbaikan dan uji-ulang berdasarkan petunjuk pemeliharaan yang sudah ditentukan, agar keadaan instalasi selalu berada dalam keadaan “baik”. Tujuannya agar diperoleh atau terlaksananya pengusahaan instalasi listrik dengan lancer.
Sebelum masuk kepada bahasan lebih lanjut mengenai beroperasinya suatu system, gangguan, pengusahaan instalasi listrik, khususnya pemeliharaan/perawatan, dibawah ini kami sebutkan beberapa terminology/definisi terkait antara lain :
1.                  Komponen : ialah sebuah peralatan, suatu jaringan/sirkit, suatu bagian dari jaringan atau kelompok yang memberikan suatu kefungsian instalasi listrik;
2.                  Gangguan/failure :ialah suatu masalah/kesukaran yang terjadi pada komponen system kelistrikan yang mengakibatkan beberapa hal antara lain:
a.     Jatuhnya atau berhenti beroperasi sebagian atau keseluruhan system atau mengakibatkan system bekerja dibawah standard;
b.     Unjuk kerja yang tidak dapat diterima guna menjalankan peralatan/utilitas lainnya;
c.     Bekerjanya system rele proteksi system kelistrikan atau bekerjanya system darurat, dll.
 
Suatu gangguan/failure mengakibatkan pula “forced outage” pada komponen yang mana mengakibatkan komponen ini tidak dapat bekerja sampai adanya perbaikan atau penggantian. Untuk itu gangguan/failure sering disinonimkan dengan perkataan “forced failure”.
 
3.                  Failure Rate (forced failure rate) : ialah angka rata-rata dari kerusakan/failure  yang dialami oleh sebuah komponen/peralatan.
4.                  InterupsiInteruption :Hilangnya pelayanan daya listrik pada suatu beban atau beberapa beban;
5.                  Interuption Frequency : Perkiraan angka rata-rata terputusnya pelayanan daya listrik kepada suatu beban/pemakai per unit waktu (tahun).
6.                  Outage : Satu status dari sebuah komponen/peralatan yaitu tidak dapat bekerja dengan baik.
7.                  Repair Time : Waktu perbaikan dari suatu komponen yang terganggu sejak kejadian gangguan sampai berfungsi lagi, baik itu karena penggantian maupun karena melalui perbaikan.
8.                  Scheduled Outage : Suatu komponen atau jaringan dilepaskan dari operasi pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya (terjadwal), biasanya untuk kepentingan konstruksi atau karena pemeliharaan/perawatan.
 
5.2.             Pemeliharaan/Maintenance
Tiga jenis pemeliharaan/perawatan dapat disebutyaitu :
1.     Perawatan tidak terjadwal (repair after a failure);
Perawatan/pemeliharaan yang dilakukan setelah terjadinya gangguan atau kejatuhan system;
 
2.     Perawatan Rutin ( ordinary maintenance)
Perawatan rutin yang mencakup perbaikan, penyetelan atau pergantian dari komponen yang terlihat perlu untuk diganti melalui inspaksi visual dalam waktu yang acak sebelum terjadinya suatu gangguan;
 
3.     Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenance);
Mencakup pemeriksaan/inspeksi yang teratur dan terjadwal, serta kegiatan membuka peralatan secara periodic guna mencek suatu bagian yang diperkirakan dapat menjadi penyebab gangguan.
 
Dalam mempersiapkan suatu program pemeliharaan, adalah merupakan hal yang membantu apabila kita mempunyai catatan ataupun data acuan mengenai pengoperasiandan gangguan/kerusakan/ failure dari peralatan atau system kelistrikan.
Data yang dimaksudkan diatas terutama dalam menyusun suatu program Perawatan Rutin dan Perawatan pencegahan antara lain seperti :
1.     Rata-rata kerusakan/failure rate.
2.     Lamanya waktu terganggu persetiap kerusakan.
3.     Jenis kegagalan/gangguan pada peralatan.
4.     Perkiraan tanggung jawab terhadap terjadinya suatu gangguan.
5.     Metode perbaikan terhadap suatu gangguan serta urgensinya dan lain-lain.
6.     Karakteristk gangguan dari peralatan.
 
 
Dapat dibayangkan apabiola dalam suatu pengusahaan instalasi system kelistrikan dalam suatu bangunan, pihak pengelola mempunyai pencatatan terhadap seluruh kejadian dan perangai terdahulu menangkut instalasi listrik bangunan termasuk pencatatan terjadinya kerusakan. Perbaikan, kinerja dan lain-lain, maka untuk perjalanan kedepan dapat dicegah terjadinya gangguan mealui suatt\u program pemeliharaan yang tepat.
Apabila tidak dipunyai data tersebut, maka data serupa dari bangunan lain apabila ada sebenarnya dapat juga digunakan setidaknya sebagai acuan.
Data tersebut diatas adalah sulit diperoleh sebagai data yang actual di Indonesia. Suatu hal yang harus kita akui bersama bahwa dalam banyak hal boperator/pengelola fasilitas sering menganggap tidak paerlu untuk melakukan pencatatan tehadap perangai khususnya menyangkut kepada kerusakan-kerusakan yang terjadi saat perbaikannya didalam suatu instalasi system kelistrikan yang ditanganinya dalam bentuk pencatatan serta analisanya yang terdokumentasi dengan baik.
Kalaupun pencatatan data tersebut dilakukan oleh para operator pengelola, maka menjadi pertanyaan sekarang, yaitu apakah ada badan yang menampung dan mengkompilasi untuk dapat dijadikan bahan acuan dikemudian hari menyangkut perawata/maintenance, perbaikan/repaire, penyediaan suku cadang , dll.
Pada table II-3 s/d table II-8 ini disampaikan berikut ini, disajikan beberapa data menyangkut hal-hal yang disebutkan diatas, yang diambil dari publikasi IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineer).
Penyajian terhadap table II-3 s/d table II-8 ini dimaksudkan untuk dapat memberikan gambaran serta dapat dijadikan acuan didalam melaksanakan cara pemeliharaan terhadap komponen/peralatan dan instalasi kelistrikan.
Table yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Tabel II-3 :         Summary of All-Industry Failure Rate and Wquipmeny Outage Duration Date for 60 Equipment Catagories.
                           Pada table ini terhadap beberapa jenis peralatan instalasi listrikdan sub-jenisnya ditunjukan : angka failure rate dalam setahun, lamanya berhenti peralatan tersebut persetiap gangguan (sampai adanya perbaikan/pegantian).
Table II-4 :         Failure Modes of circuit Breakers
                           Pada table ini khususnya terhadap peralatan circuit Breaker ditunjukan : angka presentasi dari ragam kegagalan bekerjanya.
Table II-5:          Failure characteristics of Other Electrical Equipment.
                           Pada table ini untuk beberapa jenis peralatan instalasi ditunjukkan : karakteristik dari gangguan/kegagalan.
Table II-6 :         Failure, Damage Parts and Failure Type.
                           Pada table ini untuk beberapa jenis peralatan ditunjukkan : angka persentase bagian yang rusak sebagai penyebab kegagalan, angka persentase jenis gangguan
Table II-7 :         Suspected Failure Responcibility, Failure Initiating Cost dan Failure Contibuting Cause.
                           Pada table ini untuk beberapa jenis peralatan instalasi listrik ditunjukkan : angka persentase perkiraan siap penanggung jawab terjadinya gangguan/kegagalan, angka persentase penyebab yang meng-inisiasi terjadinya gangguan dan angka persentase penyebab yang ikut kontribusi terjadinya gangguan.
Table II-8 :         Failure Repair Method and Failure Repair Urgency.
                           Pada table ini untuk beberapa jenis peralatan instalasi ditunjukkan : angka persentase metode perbaikan yang ditempuh saat terjadi gangguan, angka persentase tingkat urgency untuk dilakukan perbaikan saat terjadi gangguan.
 
Dari apa yang diuraikan pada setiap table diatas, kiranya sudah dapat diperoleh gambaran tentang : peralatan mana yang relative mudah mengalami gangguan, penyebabnya, lama perbaikan serta urgency perbaikan dan lain-lain, yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun strategi perawatan, perbaikan sampai kepada penyediaan suku-cadang, dll.
 
Terhadap table II-3 s/d table II-8 beberapa hal perlu kami beri catatan antara lain :
1.     Data yang disajikan diperoleh dari pengalaman di Negara yang sudah maju dimana hal-hal yang fluktuasi tegangan mungkin kecil, prosedur dan cara kerja yang sudah mapan, perawatan rutin atau perawatan pencegahan sudah dijalankan;
2.     Kwalitas komponen serta cara pemasangan yang benar mungkin telah diterapkan denganbaik terhadap seluruh instalasi kelistrikan, mengingat srandard dan code sudah ada dan dipatuhi dengan baik;
3.     keberadaan suku cadang dan pemasok terhadap kebutuhan komponen mungkin tidak menjadi permasalahan, termasuk waktu pengadaannya;
4.     dan hal-hal lainnya sehingga kondisinya mungkin berbeda dengan kondisi yang kita alami di Negara kita.
 
5.3.             Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenance)
Perawatan pencegahan terhadap peralatan dan instalasi system kelistrikan secara umum dapat diartikan sebagai : pemeriksaan/inspeksi, pengetesan, pembersihan, pengeringan, pemantauan, penyetelan/adjusting, modifikasi perbaikan dan pervaikan kecil dan analisanya untuk meminimalkan atau mencegah terjadinya masalah atau gangguan.
Penerapan perawatan pencegahan ini dari segi biaya diharapkan untuk memperkecil biaya setiap kWh pengusaha instalasi listrik.
Tanpa adanya perawatan pencegahan yang efektif, resiko terjadinya gangguan yang serius akan membesar.
Beberapa hal sederhana dapat dikemukeken disini antara lain :
1.     Akumulasi debu, kotoran dan adanya uap air/lembab dapat mengakibatkan konduktor dan terminasi mengalami “flash over”, ataupun terjadinya pemanasan menerus yang akan mengurangi umur alat;
2.     Longgarnya sambungan terminasi merupakan penyebab lain dari suatu kegagalan instalasi listrik. Sambungan-sambungan listrik (electrical connection) perlu selalu diperhatikan untuk selalu berada dalam keadaan kokoh dan kering.
Sambungan dna mounting harus diperiksa pada saat melakukan pemeliharaan rutin;
3.     Gesekan/pergeseran dapat mengakibatkan kebebasan gerak terhadap peralatan listrik dan dapat mengakibatkan gangguan atau suatu kesulitan tertentu.
 
Hal-hal yang disebutkan diatas adalah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dari suatu instalasi system kelistrikan.
Selain perawatan rutin terhadap peralatan instalasi, seiring dengan itu perawatan pencegahan perlu dijalankan.
Suatu program perawatan pencegahan terhadap suatu instalasi system kelistrikan tentunya tidak akan meniadakan sama sekali kemungkinan gangguan/failure, tetapi setidaknya itu akan dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan itu.
Beberapa elemen dalam penyiapan guna menunjang program perawatan pencegahan dapat disebutkan a.1. sebagai berikut :
1.     Penyediaan kepustakann perawatan peralatan yang termasuk didalamnya : manual, brosur/catalog, gambar-gambar skematis dan detail, daftar suku cadang, informasi pemasok dan work shop outside service, laporan/pencatatan gangguan dan analisa. Termasuk pula system penomotan/kode identifikasi peralatan dan instalasi;
2.     setiap gangguan dalam perawatan harus diinvestigasi secara teliti dan ditemukan penyebbnya (failure analysis) serta didokumentasikan. Apabila ditemukan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh kelemahan komponen, kemudian seluruh peralatan sejenis harus dilakukan perbaikan/modifikasi secepatnya.
3.     Mengadakan persiapan dan pelatihan guna menghadapi implementasi program ini. Pelatihan dalam hal inspeksi, pengetahuan tentang peralatan, penggunaan peralatan pengujian/pengukuran dan perawatan, pelaporan, dll.
4.     Mengembangkan system pencatatan data. Mencakup didalamnya :
a.          Tanggal/jam;
b.         Ciri gangguan dan hasil analisa serta langkah yang diambil;
c.          Keberadaan suku cadang, pelayanan manufacture/agen;
d.         Lama perbaikan,dll.
 
5.     Menyiapkan suatu jadwal perawatan secara umum khususnya untuk peralatan utama;
6.     Inspeksi/pemeriksaan harus dilakukan oleh orang yang berkompetensi.
 
 
5.4.             Pekerjaan Perawatan/Pemeliharaan Terhadap Peralatan.
Berikut ini disajikan beberapa pekerjaan perawatan yang perlu dilakukan terhadap beberapa peralatan dalam suatu instalasi system kelistrikan serta waktu periode perawatannya.
 
1.         Jaringan/Pengabelan/wiring.
a.   Bulanan.
      Memeriksa jaringan kabel terhadap kemungkinan terganggu oleh adanya getaran dll.
b.   Tahunan.
1.         Lakukan inspeksi menyeluruh;
2.         Cek, lakukan pemgukuran amper beban pada beberapa jaringan yang dianggap penting; bila cenderung over lakukan tambahan kabel atau beban disebar;
3.         Bila ada kabel pasangan sementara, ganti dengan yang permanent;
4.         Periksa/perbaiki;support/tunjangan kabel, conduit,dll;
5.         Bersihkan dan cat kembali conduit dan box yang terkorosi;
6.         Lindungi terminasi kabel pada motor yang rentan sentuhan fisik atau minyak/air;
7.         Periksa pengetanahan pengamanan di panel, rak-kabel, conduit, dll;
8.         Periksa manholes dan shaft;
9.         Lakukan pengukuran tahanan isolasi. Tahanan isolasi harus mencapai minimal 100 ohm per-volt tegangan kerjanya.
 
 
2.      Kabinet/Panel dan Box Konduit.
         a.   Bulanan.
         Periksa dan bersihkan panel pada lokasi yang diduga berdebu. Apabila kondisinya parah, lakukan persetiap minggu.
1.         Tiup/isap debu dengan kompresor/pengisap;
2.         Pindahkan adanya benda-benda asing;
3.         Periksa kondisi penutup dan pintu. Gasket penutup harus kondisi baik dan pada letaknya;
4.         Periksa pengetanahan.
 
 
 
3.      Sikring dan Pemutus Termal (Thermal Cutouts)
         a.   Semi-tahunan.
1.         Periksa rating amper terhadap beban terpasang. Tempelkan gambar sirkit didalam panel untuk meyakinkan bila melakukan penggantian;
2.         Perhatikan adanya pemanasan pada sikring;
3.         Pemasangan harus kokoh, cegah timbulnya bunga api dan pemanasan;
4.         Periksa fuse-link, tidak boleh pakai kawat, ganti baru.
 
 
4.      Motor.
         a.   Mingguan
1.         Tiup debu, gunakan kompresor, kalau parah lakukan lebih sering;
2.         Periksa oli pada bearing, periksa; perputaran harus bebas;
3.         Periksa temperature Bearing dan bagian lain dengan tangan, bila ragu gunakan thermometer;
4.         Ukur daya masukan motor (amper);
5.         Periksa baut, pulleys, kapling, gear, damper,dll.
 
 
b.   Tahunan.
      Buka, bersihkan dan overhaul motor diatas 5 HP:
1.         Cuci sisa-sisa (deposit) oli, menggunakan naphta solvent dengan flash-point yang tinggi (110ºF);
2.         Periksa sambungan listrik yang kendor;
3.         Periksa tahanan isolasi kumparan;
4.         Periksa bearing wear dan rotor clearance;. Periksa bunyi pada bearing bila ada;
5.         Cuci, baharui grease pada ball/roller bearing;
6.         Ukur tahanan isolasi. Bila rendah dan terlihat adanya tanda kelembaban, panaskan 80-115ºC sekitar 6-12 jam atau sampai tahanannya konsisten baik;
7.         Bila varnish/pernis memburuk, celupkan kedalam varnish. Panaskan/baker (ikuti petunjuk pabrik)
 
c.   Setiap Tiga Tahun.
      Buku tutup motor, bersihkan, overhaul secara total.
 
5.      Motor Control Equipment.
         a.   Bulanan.
               Bila penggunaan dalam sehari sangat sering lakukan setiap minggu.
1.         Periksa copper-arcing tips, bila kasar gosok dengan kertas pasir yang halus;
2.         Bersihkan dan kuatkan sambungan-sambungan listrik, beri pelumas pada bearing;
3.         Penutup harus kokoh.
 
b.   Tahunan.
1.         Baharui kontak-2 bila 2/3 nya sudah usang;
2.         Hilangkan deposit pada arc-chute dan pemisah/barrier;
3.         Ganti barrier/pemisah bila telah cacat bekas terbakar/loncatan bunga api;
4.         Periksa kontak, tekanan dan letaknya;
5.         Periksa setting unit trip otomatis termasuk mekanisnya.
 
 
6.      Oil Circuit Breaker.
         Setiap operasi otomatis (trip) karena gangguan, periksa semua bagian-bagian CB.
a.     Tahunan.
Lakukan overhaul 1x setahun.
1.         Test oli Dielectric strength rendah lakukan penyaringan atau ganti baru;
2.         Bersihkan seluruh bagian-bagiannya. Beri pelumas seperlunya;
3.         Periksa kontak-2, alignment dan adjustment, bila perlu ganti;
4.         Kontak digosok dengan kertas pasir halus.
 
 
7.      Air Circuit Breaker.
         Setiap operasi otomatik (trip) karena gangguan, periksa bagian-bagian CB.
         a.   Tahunan.
               Lakukan perawatan seperti pada oil CB. Bersihkan arc- quenching atau ionizing mechanism dari CB. Periksa bahwa arc-chamber sudah benar aligned dan kokoh.
 
 
8.      Transformator Minyak (Oil Transformer)
         Transformator bekerja terus menerus tahunan. Pemeriksaan regular dilakukan.
         a.   Mingguan.
1.      Periksa temperature, temperature oli maximum 80ºC;
2.      Periksa tinggi oli, apakah ada kebocoran?;
3.      Periksa konservator;
4.      Adakah suara tidak normal, cari dan temukan.
 
b.     Bulanan.
1.         Ukur arus beban;
2.         Bersihkan dari kotoran dan debu luaran.
 
c.     Tahunan.
1.         Test dielectric-strength dan keasaman, bila jelek disaring atau ganti;
2.         Bersihkan dan test bushing terhadap kemungkinan keretakan tak terlihat dan kerusakan lain;
3.         Ukur tahanan isolasi kumparan primer/sekunder;
4.         Periksa tap charger, mekanisme;
5.         Periksa sambungan pengetanahan.
 
 
9.      Tranformator Kering (Dry Transformer)
         a.   Minggu Bulanan.
1.      Tiup dengan udara bertekan (kering) bila dicurigai kemungkinan adanya debu.
 
b.   Tahunan.
1.         Buka semua penutup, tiup dan bersihkan seluruh bagian termasuk bushing/terminal. Pembersihan dengan cairan jangan dilakukan;
2.         Periksa dan kuatkan baut-baut dan sambungan listrik;
3.         Periksa tap charger;
4.         Ukur tahanan isolasi.
 
 
10.    Transformator Aus dan Transformator Tegangan.
         a.   Tahunan.
1.     Inspeksi, bersihkan bila kotor dan berdebu;
2.     Ukur tahanan isolasi.
 
 
11.    Rele.
         a.   Semi-Tahunan.
1       Periksa rele dan kondisi kontak;
 
b.   Tahunan.        
1.         Bersihkan contact, ganti bila perlu;
2.         Periksa bearing;
3.         Kalibrasi rele dan setting operasi.
 
 
12.      Batere.
Harian       : Periksa tegangan;
Bulanan     : Periksa level cairan dan specific gravity.
 
 
 
5.5.             Pengeringan Peralatan Listrik.
Untuk kepentingan perawatan maupun pada sebelum serah-terima, melakukan pengukuran tahanan isolasi tehadap suatu peralatan ataupun system pengabelan merupakan hal yang utama dan harus dilaksanakan.
Peralatan yang dikarenakan oleh terlalu lamanya tidak digunakan ataupun pernah terpecik air/cairan maupun adanya penyebab lainnya, sering ditemukan mengalami penurunan tahanan isolasi sampai kepada nilai dibawah yang dipersyaratkan.
Guna menaikkan tahanan isolasi peralatan/instalasi agar dicapai nilai yang dipersyaratkan, maka dapat ditempuh beberapa cara a.1:
1.     Ditiup dengan menggunakan udara kering bertekanan atau melalui pengisapan;
2.     Pemanasan denfan mengguanakan lampu filament/inkandesen atau alat pemanas, dll;
3.     Melakukan arus dengan memberikan sumber tegangan yang bertahap agar timbul pemanasan didalam kumparan sehingga terjadi pemanasan pada isolasi, dengan menjaga bahwa tidak melebihi nilai-nilai nominalnya.
Untuk Transformator dengan memasukkan tegangan yang tidak melewati tegangan impendance voltage pada sisi primer dengan sisi sekunder dihubung-singkat.
5.6.             Pengukuran Panas Menggunakan Sinar Infra Merah.
Pemanasan pada peralatan ataupun pada jaringan dapat terjadi dalam suatu instalasi system kelistrikan. Pemyebabnya dapat dikarenakan oleh adanya pembebanan yang berlebih, mungkin adanya gangguan, mungkin juga disebabkan terjadinya kendor pada sambungan/koneksi listrik dll.
Mengukur adanya panas tersebut pada saat awal dan spontan dapat dilakukan dengan meraba dengan tangan atau kalau panasnya cukup tinggi mungkin udara sekitarnya pun sudah menjadi panas.
Menjadi masalah kalau akan meraba panas pada bagian yang bertegangan dan telanjang seperti konduktor busbar, terminasi/bushing, bantalan berputar ,dll.
Untuk itu salah satu cara adalah dengan menggunakan alat pengukur panas yang disebut “Infrared (IR) Radio Thermal Imaging Radiometers”.
Dengan alat ini tanpa harus menjamah bagian yang panas dan bertegangan ini serta tanpa harus menghentikan beroperasinya system/peralatan, dapat diketahui apakah panas pada obyek yang ditujuitu masih normal atau berada diatas ambang yang ditentukan. Melalui alat ini, secara pencatatan dapat juga mengeluarkan hasil : IR photographs, Visual photographs dan IR images in video cassette dan print out serta hasil diagnostic, sebagai bahan laporan fdan lain-lain.
 
 
5.7.             Pengukuran Besaran Listrik dan Masalah Kelainan Pengukuran.
Pengukuran besar-besaran listrik seperti Ampere, Volt dan lain-lain dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan peralatan pengukur, mulai dengan yang sederhana sampai kepada yang kompleks. Namun pengukuran besaran listrik pada gedung-gedung lebig ditunjukkan pada pertama mengenai normal tidaknya tegangan satu daya, kedua apakah arus listrik masih pada batasan-batasan yang diperbolehkan dan baru terakhir adalah pencatatan penggunaan daya listrik.
Pada saat ini meluasnya penggunaan peralatan-peralatan elektronik, baik dalam pengendalian daya ataupun hal lainnya, mengakibatkan munculnya bentuk-betuk gelombang listrik yang tidak sesuai dengan bentuk dasarnya yaitu gelombang listrik berfrekuensi 50 Hz murni. Bentuk-bentuk gelombang listrik yang muncul itu disebut sebagai harmonisa dari gelombang asli yang berfrekuensi yang muncul itu mungkin berupa berbagai kombinasi kelipatan genap maupun ganjil daripada 50 Hz seperti 100, 150, 300 dan sebagainya. Semua ini akan mengakibatkan panas atau unjuk kerja yang tidak standar pada kabel ataupun peralatan lainnya seperti motor dan lain-lain.
Karena itu pengukuran-pengukuran berkala pada jala-jala listrik kita harus dapat menunjukkan adanya permasalahan ini. Sayangnya tidak semua peralatan pengukur dapat mengukur besaran-besaran listrik yang tidak standar ini (besaran-besaran non linear). Umumnya peralatan listrik yang ada hanyalah mengukur secara rata-rata atau average. Pengukuran ini mengandaikan bahwa gelombang listrik yang diukur adalah sinus murni. Untuk mengukur besaran listrik yang tidak standar ini diperlukan meter-meter True RMS. Meter-meter ini memang lebih mahal daripada meter-meter umum yang berdasarkan average.
Hanya Meter True RMS atau Root Mean Squqre (RMS) yang menunjukkan keadaan energy sebenarnya, yang dapat dirasakan sebagai panas atau sebagai getaran yang abnormal.
Sebagai contoh bila kita mendeteksi adanya panas pada kabel, terminal ataupun circuit breaker, pada hal deteksi arus dengan meter biasa ataupun perhitungan tidak menunjukkan adanya penggunaan berlebihan, begitu pula perhitungan jumlah arus tiap fasa pun mungkin tidak cocok dengan apa yang terbaca di kabel netral., maka kita harus mencurigai adanya masalah harmonisa. Sekalipun ampremeter biasa yang kita miliki juga menunjukkan pengukuran arus yang tinggi, itu tidak dapat diyakini kebenarannya, hanya peralatan meter-meter true RMS saja yang dapat menunjukkan dengan pasti nilai RMS yang setara atau sebanding dengan panas yang ditimbulkannya.
Contoh lain adalah getaran pada motor yang abnormal. Getaran ini pada akhirnya juga bermanifestasi sebagai panas. Getaran ini diakibatkan oleh frekuensi-frekuensi yang berbeda yang menginduksi putaran-putaran yang berlawanan dengan putaran aslinya. Getaran ekstra ini dapat memperpendek umur motor karena aus, maupun merusaknya pada jangka panjang karena panas yang berlebihan.
 
 
6.                 PERBAIKAN.
Dalam pengoperasian suatu system kelistrikan, timbulnya suatu kerusakan dari peralatan baik itu yang diakibatkan oleh gangguan dari system sendiri seperti hubung singkat, tegangan naik dan lain-lain maupun yang diakibatkan oleh kurangnya pemeliharaan dan lain-lain, mau tidak mau perbaikan harus dilakukan atau mengganti parts.
Perbaikan dapat dikategorikan sebagai berikut :
1.         Perbaikan Ringan.
Disebut juga sebagai perbaikan kecil yang mungkin pelaksanaannya masih dapat dikerjakan sambil jalan yaitu tidak sampai harus mematikan system secara menyeluruh atau sebagian besar.
Perbaikan ringan ini biasanya masih dapat dilakukan oleh pihak teknisi dari pengelola sendiri ataupun pihak ketiga yang melakukan kontrak pemeliharaan dan lain-lain.
Dalam perbaikan kecil ini, penggantian suku-cadang biasanya diambil dari penyimpanan/stock sendiri atau dari pasaran kalau parts tersebut memang mudah diperoleh dipasaran.
Melalui pelatihan tertentu serta sudah terbiasanya menangani system dan melakukan perbaikan, pekerjaan ini dapat saja dilakukan oleh tenaga biasa dari pengelola.
Kurun waktu elakukan perbaikan untuk kerusakan kecil ini, selain karena sederhana dan sudah pernah mengalaminya, maka tidak terlal sulit untuk memperkirakan lama waktu perbaikan ataupun menentukan waktu berhentinya sebagai system.
 
2.         Perbaikan Berat.
Kerusakan berat yang membutuhkan berat pula, mungkin diakibatkan oleh adanya gangguan dari system seperti hubung-singkat atau kegagalan system dan lain-lain,
Dapat juga dikarenakan sebagai akibat fatal dari tidak dilaksanakannya suatu pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) ataupun pemeliharaan rutin.
Untuk kerusakan berat ini, selain proses untuk mengetahui penyebabnya serta penanganannya yang mungkin memerlukan waktu yang lama, maka dalam perbaikannya akan juga memakan biaya serta waktu yang lebih besar.
Hal-hal diatas akan berakibat kepada terhentinya pelayanan system untuk waktu yang lebih lama.
 
3.         Overhaul.
Suatu kegiatan overhaul baik itu yang dilkukan secara parsial ataupun secara menyeluruh/bagian besar, sejauh sudah diprogramkan baik dari segala pemilihan waktu pelaksanaannya, segi penyediaan peralatan/suku-cadangnya, penentuan pihak ketiga bila diperlukan sampai kepada penyediaan dana dan lain-lain, dalam suatu kegiatan overhaul yang mungkin pula sebagai bagian dari program pemeliharaan maka dampak negative terhadap pelayanan dan kefungsian system tidak terlalu merugikan atau setidaknya dapat ditekan.
Menghadapi kegiatan perbaikan terutama untuk perbaikan berat sebagaimana diuraikan diatas, maka dipunyainya data/pencatatan dari hal serupa yang pernah dialami dan dilakukan atau adanya informasi lain ataupun data acuan (dengan penyesuaian) dari table II-3 s/d table II-8 diharapkan dapat membantu.
Dari data dan informasi diatas dilaksanakannya pekerjaan perbaikan dimana dengan itu sudah dapat terukur/diperkirakan hal-hal seperti : keberadaan suku-cadang, keberadaan pelaksana yang terampil atau pihak ketiga, lama perbaikan, biaya perbaikan sampai kepada kemungkinan diadakannya peralatan pengganti sementara.
 
 
7.                 AM/FM-AUTOMATIC MAPPING AND FACILITY MANAGEMENT
pada masa kini mulai banyak dipergunakan orang perangkat computer untuk mengelola semua fasilitas bangunan. Jenis piranti lunak untuk pengelolaan itu dinamakan AM/FM. AM/FM mungkin berdiri sendiri, namun mungkin juga digabungkan dengan system BAS – Building Automation System sehingga tercapai system yang secara optimum dapat membantu manajemen dalam memutuskan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan dalam menjaga kesinambungan pelayanan fasilitas gedung secara efektif dan efisien.
Pada dasarnya suatu AM/FM adalah gabungan suatu system basis data – database dengan suatu system penggambaran dan penayangan peta atau denah gedung selengkapnya. Setiap entitas fasilitas gedung tercatat dan tergambar pada system ini. Setiap perubahan dapat langsung dilakukan baik pada basis datanya, maupun pada gambar tekniknya. Sejarah unjuk kerja dan segala pergantian suku cadang yang terjadi, dan perlakuan pada entitas itu tercatat pada basis data berikut segala gambarnya.
Senua komponen peralatan M&E tergambar pada peta atau denah gedung dan atau diagram tunggal listrik atau gambar-gambar lain di computer. Dengan meng-klik tiap bagian gambar itu (misalnya Circuit Breaker) kita akan mendapatkan data mutakhr mengenai CB itu, kapan dibeli, kapan diganti, modifikasi apa yang telah dilakukan pada CB tersebut, kapan dilakukan pengecekan terakhir, pokoknya seluruh sejarah CB tersebut. Dengan koordinasi dengan BAS komponen-komponen yang penting dapat ditayangkan unjuk kerjanya sekarang, apakah dalam keadaan off atau on, berapa arus yang melaluinya dan sebagainya.
Perubahan pada jaringan dapat langsung dilakukan pada peta yang akan mempengaruhi perubahan pada databasenya dan sebagainya. Sehingga tiap saat dapat di print out gambar keadaan system yang mutakhir.
Tiap data pada komponen dapat dikaitkan dengan catatan, manual teknis untuk perbaikan, sehingga teknisi dapat segera mengakses data teknis mengenai komponen, apa langkah-langkah perbaikannya dan bagaimana dan kepada siapa (perusahaan servis atau suplayer komponen) ia harus dihubungkan agar komponen atau peralatan itu dapat bekerja kembali seperti semula. Tiap tindakan perbaikan dapat dicatat waktu dan juga ongkos perbaikannya sehingga dapat menjadi bahan bagi perencanaan perawatan gedung di masa mendatang baik dari segi strategi tindakan perawatan berkalanya, perencanaan pengadaan suku cadang maupun perencanaan biaya.
Data mengenai komponen itu dapat tembus kepada management pengadaan, sehingga dapat dikenali telah beberapa kali suatu komponen diganti, kepada siapa barang itu dibeli, siapa yang bertanggung jawab dan berapa harganya.
Seluruh potensi computer pada masa kini seperti teknik multi media, basis data yang dicanggih, teknologi dokumentasi text dengan cara HTML – Hyper Text Macro Language seperti yang sekarang biasa dipakai pada fasilitas Internet dapat didaya gunakan sehingga akan sangat mempermudah pengelolaan dan tiap pengambilan keputusan mengenai pengelolaan fasilitas gedung tersebut.
Term fasilitas sesungguhnya luas dan tidak sekedar terbatas pada bidang M & E. Term ini mencakup pengelolaan seluruh asset gedung yang dapat dipindah-pindahkan dan dirubah/diperbaiki, termasuk dalamnya meja, kursi, lemari dan lan-lain.
 
 
8.           PEMELIHARAAN INSTALASI SISTEM PENCAHAYAAN.
8.1.        Umum.
              Instalasi system pencahayaan yang adalah juga merupakan bagian yang erat dari utilitas bangunan, didalam menjalankan kefungsiannya serta untuk mendapat hasil yang optimal dari kefungsian itu perlu juga untuk dilakukan pmeliharaan.
              Tujuan dari pemeliharaan dari system instalasi system pencahayaan adalah untuk mempertahankan tingkat pencahayaan yang diinginkan serta untuk mendapatkan iluminasi dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang minimum dan penggunaan energi yang efektif.
              Menyangkut kepada system pencahayaan, beberapa hal kamiuraikan dibawah ini :
 
8.1.1.        Jenis Lampu
Mengawali uraian ini, pada gambar 2, ditampilkan suatu klasifikasi dari jenis lampu yang secara umum terdiri atas 2 (dua) kelompok yaitu :
1.     Jenis Lampu Incandescent (lampu pijar) yang didalamnya termasuk jenis :
a.          Lampu GLS, glass shell, fuel gas, filament.
b.         Lampu dengan rekletor
c.          Lampu Halogen
 
2.     Jenis lampu pelepasan gas (Gas Dischage Lamp) termasuk di dalamnya :
a.          Bertekanan Tinggi :
1.      Lampu-lampu Mercury : High Pressure Mercury-Fluorescent Lamp dan lampu, Metal Halide.
2.      Lampu-lampu sodium.
 
b.         Bertekanan Rendah:
1.         Low Pressure Mercury : tubular & compact fluorescent lamp.
2.         Low Pressure Sodium.
 
3.     Jenis blended light lamp: yang merupakan gabungan jenis incandencent dan discharge.
 
 
8.1.2.        Beberapa Istilah Dalam System Pencahayaan (Perlampauan)
1. Armatur              : Rumah lampu yang dirancang umtuk mengarahkan, untuk tepat dan melindungi lampu serta untuk menempatkan komponen-komponen listrik, disebut juga luminar;
2. Balast                  : Alat yang dipasang pada lampu Fluoresen dan pelepasan gas berintensitas tinggi untuk membantu dalam penyalaan dan pengoperasian lampu-lampu tersebut;
3. Tingkat Pencahayaan (iluminasi)   : Fluks luminus yang dating pada permukaan atau hasil bagi antara Fluks cahaya dengan luas permukaan yang disinari;
4. Rentang efikasi : Rentang angka perbandingan antara Fluks luminus (lumen) dengan daya listrik masukan (lumen per watt) suatu sumber cahaya;
5. Luminasi (kandel) : Perbandingan intensitas cahaya pada arah tertentu terhadap luas sumber cahaya;
6. Renderasi warna   : Efek psikofisik suatu sumber cahaya atau lampu terhadap warna obyek-obyek yang diterangi, dinyatakan dalam suatu angka indeks (Ra) yang diperoleh berdasarkan perbandingan dengan efek warna sumber cahaya alami pada kondisi yang sama;
7. Rugi-rugi ballast  : Kehilangan daya listrik (dalam watt) akibat penggunaan ballast;
8. Temperature warna (Tc) :
     a.                   Warm white (warna putih kekuning-kuningan) dengan temperature warna <3300K.
     b.                   Cool white (warna putih netral) dengan temperature warna antara 3300K sampai 5300K.
     c.                   Daylight (warna putih) dengan temperature warna >3300K
 
 
8.2.             Kerugian Pencahayaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerugian pencahayaan:
1.     Suhu Keliling Armature.
Bila suhu keliling armature terlalu tinggi atau telalu rendah akan menurunkan lumen dari lampu (Ideal untuk TL 25ºC)
 
2.     Tegangan masuk pada armature.
                                              Tegangan naik lumen naik, tegangan turun lumen turun.
 
3.     Faktor Balast
                                               Pilih jenis dengan rugi-rugi ballast rendah.
 
4.     Depresiasi Permukaan Armatur.
                                               Cat reflector armature akan luntur bila terkena sinar UV dari
                                               lampu discharge.
 
5.     Depresiasi Ruang Kantor.
                                              Refleksi/pantulan yang tinggi dari ruangan, memanfaatkan
                                              cahaya paling efisien.
 
6.     Lampu tidak menyala.
                                               Jika dua lampu dipasang sama, satu lampu mati, maka yang
                                               kedua akan mati
 
7.     Depresiasi Lumen dari Lampu.
                                               Penurunan lumen sebagian factor umur, untuk itu diperlukan
                                               rancangan “relamping”.
 
8.     Depresiasi Pergantian Armature.
        Akumulasi penyinaran permukaan armature
       menyebabkan hilangnya sebagian cahaya lamp.
 
Untuk itu target daripada pemeliharaan instalasi system pencahayaan adalah meniadakan atau setidaknya meminimalkan factor-faktor kerugian terhadap system pencahayaan diatas.
 
 
8.3.             Perbersihan Armature
Pembersihan armature lampu merupakan salah satu pekerjaan dalam rangka pemeliharaan instalasi system pencahayaan selain pengganti komponen.
Beberapa hal dapat dikemukakan :
1.   Metode Pembersihan Armature dilakukan sebagai berikut :
a.     Lepas material penutup dan juga lampunya, louver, plastic atau panel gelas dan lain-lain. Dan lampu diambil dari armature dan diteruskan pada orang yang dilantai.
b.     Buatlah armature bebas goncangan. Harus diperhatikan untuk melindungi goncangan jika bekerja dekat soket listrik. Sirkit listrik dapat putus.
c.     Bersihkan unit dasar. Kotoran-kotoran yang banyak pada permukaan paling atas dibersihkan dengan mencuci, melap dan penyedot debu. Kemudian seluruh unti dibersihkan dan dibilas.
d.     Membersihkan material penutup dan lampu-lampu. Sementara orang membersihkan item 3, orang yang ada dibawah membersihkan material penutup dan lamp. Lampu harus dilap kering sebelum dipasang. Material dari plastic digosok dengan kain lembab, jika memakai kain kering akan timbul muatan elektro static.
Lampu pijar dan armature lampu dengan pelepasan listrik tidak memerlukan banyak langkah seperti unit lamp TL tetapi secara umum metode tersebut dapat dipakai untuk pembersihan semua peralatan listrik.
 
2.         Campuran Pembersih
            Dalam membersihkan armature, penggunaan bahan pembersih yang disesuaikan dengan bahan armature akan memberikan keuntungan waktu dan biaya, bahan pembersih sesuai bahan sebagai berikut :
            a.   Alumunium
                  Sabun lunak dan kain pembersih dapat digunakan pada alumunium dan tidak merusak lapisan terluar. Setelah itu dibilas dengan air bersih, janganlah menggunakan campuran alkalin.
b.     Porselein Email
Detergen baik untuk membersihkan porselein enamel.
              c.                         Email Sinsesis
Detergen dapat diguanakan untuk membersihkan bahan ini, janganlah menggunakan alcohol atau pembersih yang keras dapat merusak lapisan terluar.
d.   Gelas
      Seperti pada porselein email, detergen baik untuk membersihkan gelas.
e.   Plastik
      Debu mudah sekali menempel pada bahan plastic karena pengaruh “static charge” / “magnit static”. Pada umumnya digunakan detergen, setelah dibilas jangan dikeringkan dengan kain, biarkan kering sendiri.
 
 
 
3.         Peralatan Pembersih.
            Disesuaikan dengan jenis lampu, luas ruangan, halangan yang ada, waktu dan biaya digunakan peralatan antara lain :
            a.   Tangga
                  Tangga sering digunakan untuk pemelihaaan system pencahayaan karena ringan, murah dan sederhana.
            b.   Scaffolding
      Scaffolding pada umumnya lebih aman dan lebih bebas bergerak daripada tangga. Pada umunya scaffolding harus ringan, kuat, mudah diatur, mudah untuk berpindah tempat (mobile) mudah disusun dan mudah dibuka, mahal.
c.   Telescoping scaffolding
      Peralatan ini digunakan untuk mencapai lampu yang terletak jauh diatas secara cepat. Peralatan ini mempunyai bermacam-macam ukuran, mempunyai panggung yang dapat dinaik-turunkan, mahal.
d.   Lift Truck
      Alat ini paling cepat dan efisien. Panggung dapat dinaik dan diturunkan secara otomatis, mahal.
e.   Alat Pengganti Lampu
      Penggantian lampu dapat disederhanakan dengan menggunakan alat pengganti lampu. Dengan pemegang lampu yang digerakkan secara mekanis atau dengan tekanan udara, alat pengganti lampu dapat digunakan untuk mengganti lampu.
f.    Catwalk, kurungan dan lain-lain.
      Rumah lampu dapat dibersihkan dengan menggunakan catwalk, kurungan dan lain-lain. Catwalk/kurungan ini dipasang sepanjang unit lampu. Perawatan dengan mengguanakan sarana ini akan lebih aman, cepat dan efisien.
g.   Vacum cleaner dan blower.
      Alat ini digunakan untuk menyedot debu yang ada pada unit lampu ini tetap harus dicuci. Penggunaan vacum cleaner secara periodic dapat memperpanjang waktu pembersihan.
h.   Tangki Cuci.
Tangki cuci diperlukan untuk pemeliharaan rumah lampu dan tangki ini harus mempunyai bagian pencuci dan pembilas disesuaikan dengan ukuran lampu yang dicuci. Terdapat unit pemanas untuk menjaga campuran pembersih tetap panas. Louver atau reflector dapat disimpan dalam rak untuk mengeringkan sementara unit lain dibersihkan. Tangki khusus untuk armature fluorescent sekarang telah direncanakan.
i.    Pembersihan ultra sonic.
      Metode pembersih alat ini adalah menghilangkan benda asing dari logam plastic, gelas dan sebagainya. Dengan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi. Peralatan terdiri atas generator, transduser dan tangki generator menghasilkan energi frekuensi tinggi kemudian diubah menjadi gelombang suara frekuensi tinggi oleh transduser yang menjalar melalui campuran pembersih.
 
 
8.4    Pemeliharaan Pada Lampu Fluoresen.
         Pemeliharaan terhadap lampu fluoresen sebagai contoh diuraikan
         pada table berikut :
 
INSTALASI LAMPU FLUORESCENT (TL)
 
GEJALA
 
KEMUNGKINAN PENYEBAB
 
CARA-CARA
1. Lampu tidak menyala
1. Lampu
Gantilah dengan lampu yang baru
 
2. Catu
Periksalah tegangan catu dan terminal-terminal primair pada ballast.
Tegangan yang baik ;
220 V ± 10%
 
3. Pemegang Lampu
  (Lampholder)
Periksalah pengkabelan dan kotak-kotak dari dan kepemegang lampu/dudukan lampunya (pin lampu).
 
4. Starter
1.     Starter yang baik kontaknya akan tertutup secukupnya, untuk memungkinkan pemanasan katoda-katoda lampu.
2.     Kemudian terbuka lagi kontaknya setelah lampu menyala.
3.     Harus dapat menghasilkan tegangan awal yang tinggi untuk memungkinkan.
4.     Kalau hal diatas tidak tepenuhi, gantilah dengan starter yang baru.
 
5. Ballast
1.     Periksalah pengkabelan dari ballast itu sendiri.
2.     gantilah dengan ballast baru.
2. Lampu berkedip-kedip
 
Segera dimatikan
 
1. Pengkabelan
Periksalah apakah tegangan pada terminal-terminal primair pada ballast 220 V + 10 %
 
2. Pemegang lampu
   (lampholder)
Perksalah pengkabelan dan kontak-kontak dari dank e pemegang lampu/dudukan lampunya (pin lampu)
 
3. Starter
Gantilah dengan starter yang baru yang sesuai.
 
4. Lampu
Lampu sudah habis umurnya
3. Mati lampu
1. Lampu
Lampu yang sudah habis umurnya
 
2. Catu (power supply)
Tegangan input terlalu tinggi atau terlalu rendah
 
3. Ballast
- Ballast tidak sesuai ratingnya
- Ballast rusak
 
4. Starter
Starter tidak sesuai
 
 
 
 
 
GBR. 3.1 DIAGRAM LAMPU FLUORESEN 1X 18W
 
 
GBR. 3.2 DIAGRAM PENGABELAN LAMPY FLUORESEN 2 X 18W
   
 by admin@ptltf.com

 

 

 

PT. LTF Indonesia

Pilihan Bahasa