HOME   > REFERENSI  > -Perawatan Genset

 
 

-Perawatan Genset

 


 



INSTALASI DIESEL GENERATING SET





Oleh 
SOEKARTONO SOEWARNO

Ketua Umum 
IKATAN AHLI FISIKA BANGUNAN INDONESIA
1999 ~ 2002

Koordinator
FORUM KOMUNIKASI ASOSIASI PROFESI TEKNIK
BIDANG ENERGI BANGUNAN GEDUNG (FKAP-EBG)

Insinyur professional Madya (IPM)
PERSATUAN INSINYUR INDONESIA

Direktur Utama 
PT.POLYCON EMAS CIPTA
(Konsultan Teknik)
 
Bekerjasama dengan
PT.Laksanatama Tiara Fajarindo





INSTALASI DIESEL GENERATION SET

 
 
1. KESELAMATAN KERJA .
1.1. Umum
 
Sebelum mengoperasikan Genset , baca terlebih dahulu Manual Operasi, dan biasakan menggunakannya . Mengoperasikan dengan aman dan efisien yang dapat di terima, hanya dapat dilakukan jika genset beroperasi dan dipelihara dengan benar .
Simbol – symbol dibawah ini sering digunakan pada manual untuk memperingatkan kondisi rawan pada operator dan petugas pemelihara.
 
 
Simbol ini memperingatkan akan bahaya yang dapat mencelakakan sejumlah petugas atau kematian .
 
Simbol ini memperingatkan adanya bahaya atau ketidak amanan yang dapat mencelakakan sejumlah petugas atau kematian.
 
Simbol ini memperingatkan akan bahaya atau tidak aman yang dapat mencelakakan petugas atau kerusakan harta benda atau produk.
 
 
1.2. Bahan bakar dan gas yang mudah terbakar. 
Kebakaran dan peledakan dapat terjadi dalam pengoperasian yang kurang benar.
1. Jangan mengisi tangki bahan baker pada saat Genset sedang beroperasi. Bahan baker yang kontak dengan Genset yang panas atau knalpot, rawan terhadap bahaya kebakaran.
2. Jangan membolehkan adanya nyala rook, lilin untuk pencahayaan, percikan bunga api, atau sumber pembakaran lain, dekat dengan Genset atau tangki bahan bakar.
3. Pipa bahan bakar harus cukup aman dan bebas dari kebocoran. Sambungan pipa bahan bakar ke Genset harus dibuat dari pipa fleksibel . Jangan menggunakan pipa tembaga untuk pipa fleksibel ini, karena tembaga menjadi rapuh karena getaran atau pembengkokan yang berulang.
4. Jamin, semua pasokan bahan bakar mempunyai katup penutup positif .
5. Jangan merokok selama merawat battery lead acid. Baterry lead acid memungkinkan  meledak bila gas hydrogen yang di timbulkannyan dapat dibakar oleh nyala listrik atau rokok.
 
 
1.3. Gas buang yang mematikan. 
 
1. Lengkapi system gas buang secukupnya sehingga pelepasan gas buang ke atmosphere sesuai ketentuan. Lihat dan dengarkan setiap pipa gas buang terhadap kemungkinan bocor pada saat pemeliharaan. Jamin bahwa pipa gas buang aman dan tidak bengkok . jangan menggunakan gas buang untuk alat pemanas.
2. Jamin, Genset memperoleh ventilasi yang baik
 
 
1.4. Bagian yang bergerak dapat melukai sejumlah petugas atau kematian.
 
1. Jagalah tangan, berpakaianlah dan jauhkanlah barang berharga dari bagian bagian genset yang bergerak.
2. Sebelum memulai pekerjaan perawatan pada genset, pertama-tama lepaskan dahulu sambungan kabel negative (-) dari battery. Ini dapat mencegah kecelakaan awal. 
3. Yakini bahwa semua sambungan pada genset aman. Kencangkan penunjang dan klem, jaga pelindung dalam kedudukan di luar fan, sabuk penggerak, dan lain-lain.
4. Jangan melepaskan pakaian yang dipakai atau menggunakan barang berharga di sekeliling bagian-bagian yang bergerak, atau bekerja dengan peralatan listrik. Barang berharga dapat menyebabkan hubung singkat listrik dan menyebabkan kejutan atau terbakar.
5. Jika penyetelan mengharuskan Genset beroperasi, hati-hatilah bila berada di sekelilinh pipa gas buang yang panas, bagian-bagian yang bergerak dan lain-lain.
 
 
1.5. Kejutan listrik dapat menyebabkan sejumlah petugas terluka atau mati.
 
1. Pindahkan sumber daya listrik sebelum memindahkan pelindung proteksi terhadap sentuhan peralatan listrik. Gunakan tikar isolasi dari karet yang diletakkan pada lembaran kayu kering diatas lantai logam atau beton sekeliling peralatan listrik.
2. Hati-hati bila bekerja pada bagian-bagian listrik. Tegangan tinggi dapat menyebabkan kecelakaan atau kematian. Jangan mengandalkan interlock.
3. Ikuti semua tahapan dan persyaratan kelistrikan local (PUIL). Semua pemasangan instalasi listrik harus dilakukan oleh teknisi listrik yang memiliki Surat Ijin Bekerja Listrik. Buka sakelar untuk mencegah kecelakaan.
4. Jangan menghubungkan Genset langsung ke setiap system kelistrikan bangunan. Tegangan yang berbahaya dapat mengalir dari Genset ke jaringan utilitas. Ini menimbulkan potensi bahaya listrik atau kerusakan. Penyambungan hanya melalui sakelar isolasi atau pengaman paralel yang memenuhi syarat.
 
1.6. Persyaratan umum keselamatan.
 
1. Air pendingin di bawah tekanan mempunyai titik didih lebih tinggi dari air biasa. Jangan membuka tutup radiator atau alat pemindahan kalor selama genset beroperasi. Biarkan genset dingin dahulu dan pertama-tama lepaskan tekanan air pada system.
2. Bensin dan timah terdapat pada bahan bakar gas, telah diidentifikasi bahwa keduanya dapat menyebabkan kanker atau keracunan. Bila memeriksa, mengeluarkan atau mengisi bahan bakar tersebut, berhati-hatilah, jangan menghisap gasnya atau menyentuh bahan bakar tersebut . 
3. Minyak pelumas yang digunakan, telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker atau keracunan. Bila memeriksa atau mengganti minyak pelumas genset , jangan sampai menghisap atau menyentuh .
4. Lengkapi Alat Pemadam Kebakaran yang sesuai dan pasang pada lokasi yang strategis. Tanyakan pada Dinas Kebakaran setempat jenis pemadam kebakaran yang sesuai penggunaannya. Jangan menggunakan busa pada kebakaran listrik Penggunaan alat pemadam kebakaran jenis ABC harus sesuai dengan NFPA.
5. Yakinkan bahwa kain pembersih tidak tertinggal atau berada di dekat genset.
6. Bersihkan semua minyak gemuk yang tidak perlu dan minyak pelumas yang menempel pada genset. Pengumpulan minyak gemuk dan minyak pelumas dapat menyebabkan panas lebih dan kerusakan genset dan berpotensi terhadap bahaya kebakaran.
7. Jaga genset da sekelilingnya selalu bersih dan bebas dari hambatan. Bersihkan setiap kotoran dari genset dan berpotensi terhadap bahaya kebakaran.
8. Jangan bekerja pada saat mental dan fisik lelah, atau setelah mengkonsumsi alcohol atau obat yang membuat beroperasinya genset menjadi tidak aman.
 
 
2. PEMASANGAN.
 
Dalam pemasangan instalasi genset, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
 
• Lokasi.
• Pondasi.
• System gas buang.
• System ventilasi.
• System pasokan bahan bakar.
• System kelistrikan.
 
Pada gambar 2. ditunjukan instalasi Diesel Generator Set.
 
 
 
Gambar 2.
Instalasi Diesel Generator Set
 
 
2.1. Lokasi
 
2.1.1. Umum. 
1. Lokasi genset ditentukan terutama oleh system yang berhubungan dengan ventilasi, pengkabelan, bahan bakar dan gas buang. Penentuan lokasi sebaiknya jauh dari temperature udara luar yang tinggi dan lindungi genset dari kondisi cuaca yang merugikan. Lokasi genset sebaiknya berdekatan dengan panel utama distribusi listrik bila dimungkinkan.
 
2. Ruang genset harus culup besar, termasuk ruangan untuk asesorinya seperti battery, control, panel, dan tangki bahan bakar harian. Ruang juga harus cukup untuk merawat dan memperbaiki genset. Tidak kurang dari 1,2 meter jaraknya dari sekeliling genset harus bebas. Disana juga harus tersedia jalan keluar untuk mengganti genset tanpa harus membuka genset ataupun asesorinya. Perencanaan ruangan harus hati-hati. Lengkapi pencahayaan yang cukup sekeliling genset. Dinding tahan api biasanya dipersyaratkan untuk ruang genset.
 
3. Lokasi harus berventilasi cukup untuk memasok udara pembakaran dan mengeluarkan panas yang dipancarkan oleh mesin, generator, asesori lainnya dan radiator.
 
 
4. Lokasi harus memungkinkan untuk menyalurkan gas buang ke luar. System gas buang berhenti pada lokasi dimana lubang keluar gas buang mesin dikeluarkan dari bangunan dan memasukan udara segar ke dalam bangunan.
 
 
2.1.2. Lokasi di luar.
 
1. Genset yang ditempatkan di luar harus dilindungi dari cuaca.
2. Jika penempatan Genset di luar, pertimbangan risiko gangguan oleh angin, banjir, petir, api, gempa bumi dan pencurian.
 
2.1.3. Pertimbangan masalah kebisingan.
 
Tempat lokasi genset dimana tingkat kebisingan mesin, Fan, dan saluran gas buang masih dapat diterima. Gambar 2.1.3. menunjukan pengaruh dari beragam metoda peredaman kebisingan.
 
 
 
Gambar 2.1.3.
Efektifitas relative dari metoda peredaman kebisingan
 
2.2. Pondasi.
2.2.1. Umum.
Pondasi genset dipasang pada prmukaan dasar yang rata. Pondasi dinaikkan tingginya untuk memfasilitasi pemeliharaan. Pondasi atau stuktur penyangga, harus mampu menyangga berat genset dan perlengkapannya, seperti tangki bahan bakar. Pondasi harus mampu menahan beban dinamis dan tidak memindahkan kebisingan dan getaran . Perencana genset yang dipasang di atap atau pada lantai yang tertinggi.
 
2.2.2. Kontrol getaran.
 
Genset kecil mempunyai isolator getaran dari karet yang dipasang antara rakitan mesin dan generator. Penambahan isolator biasanya tidak diperlukan. Isolator getaran jenis pegas baja yang digunakan untuk pemasangan genset dengan kapasitas 200 kW atau lebih (lihat gambar 2.2.2). isolator ini dapat meredam getaran sampai dengan 98%.
 
 
 
Gambar 2.2.2.
Isolator getaran jenis pegas baja.
 
2.2.3. Pondasi  lantai beton.
 
Apabila genset dipasang pada lantai beton, telapak kaki beton biaanya diletakkan pada permukaan lantai. Telapak kaki harus dari beton yang diperkuat dengan kekuatan tekan tidak kurang dari 170 kg/cm². Telapak kaki ini harus tidak kurang dari 150 mm dalamnya dan diperpanjang tidak kurang dari 150 mm dibawah dudukan pada semua sisi. Baut jenis J atau L harus digunakan sebagai angker dudukan atau isolator getaran.
 
 
2.2.4. Pemasangan pondasi isolasi.
1. Untuk menahan beban dinamis, berat (W) pondasi isolasi harus tidak kurang 2 kali berat genset. Gambar 2.4.1.1 menunjukan jenis pondasi isolasi.
 
 
 
 
 
 
Gambar 1.2.4.1
Jenis pondasi isolasi.
 
 
2. Penjelasan berikut perlu dipertimbangkan bila merencanakan pondasi isolasi
a. Pondasi harus diperpanjang tidak kurang dari 150 mm di bawah dudukan pada semua sisi. Ini menentukan panjang (L) dan lebar (B) dari pondasi.
b. Hitung tinggi (H) dari pondasi untuk menentukan berat (W) yang dibutuhkan, dengan menggunakan persamaan berikut :
 
H =  
.
dimana :
D = kepadatan beton = 2.322 kg/m³.
c. Pondasi harus ditinggikan 150 mm diats lantai untuk memudahkan pemeliharaan genset .
d. Pondasi harus dari beton yang diperkuat selama waktu 28 hari dan kekuatan tekannya tidak kurang dari 170 kg/cm².
e. Berat Total (BT) genset dan perlengkapannya dan pondasi, biasanya menghasilkan Beban Bantalan Tanah (BBT) yang besarnya kurang dari 1 kg/cm².
Menghitung Beban Bantalan Tanah (BBT) menggunakan rumus :
 
BBT = 
Dimana :
L dan B = panjang dan lebar pondasi.
f. Baut jenis J dan L harus digunakan untuk angker dudukan isolator getaran pada pondasi.
 
 
2.3. Sistem gas buang.
2.3.1. Umum.
 
1. Tujuan sistem gas buang adalah untuk membuang gas buang langsung dari mesin dan memungkinkan untuk dilepas ke atmosphere. Knalpot harus disambungkan ke dalam sistem gas buang. Untuk memperoleh effisiensi maksimum dan mencegah kerusakan mesin, perencanaan sistem gas buang harus tidak menimbulkan kelebihan tekanan balik pada mesin. Pilih ukuran pipa, penyambungan dan knalpot yang tepat agar mesin beroperasi dengan benar.
  
2. Bila gas buang harus melewati lantai, langit-langit, ruang atap dan ruang tersembunyi, pipa buang harus di arahkan melalui bagian dalam metal, dinding atau cerobong lainnya yang memenuhi syarat.
3. Sistem gas buang genset tidak boleh disambungkan ke sistem gas buang yang melayani peralatan lain. Jelaga, kondensat yang korosif, dan temperature gas buang yang tinggi dapat merusak peralatan yang tidak jalan yang dilayani oleh sistem gas buang yang umum.
4. Genset yang dipasang diluar dengan rumah pelindung cuaca dipasang dengan knalpot jenis residential. Lokasikan genset dengan gas buang mesin jauh dari bangunan, lubang udara masuk bangunan, tidak akan menghitamkan dinding dan jendela dan jelaga.
 
2.3.2. Pemipaan gas buang
1. Setiap ketentuan harus diperhatikan untuk mencegah tekanan balik yang berlebihan pada mesin. Tekanan balik yang berlebihan dapat di sebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
 
➢ Pipa terlalu panjang 
➢ Diameter pipa terlalu kecil
➢ Hambatan dalam sistem gas buang
➢ Terlalu banyak belokan tajam dala pipa
➢ Timbulnya karbon dalam sistem gas buang.
 
2. Pipa gas buang harus memenuhi ketentuan yang berlaku dan ketentuan umum keselamatan sebagai berikut :
 
➢ Pipa gas buang haruis dari bahan besi tempa atau baja... dan harus cukup kuat. Pipa besi skedul 40 disarankan.
➢ Pipa gas buang harus berdiri bebas, tidak disangga oleh mesin atau knalpot.
➢ Pipa gas buang harus menggunakan sambungan fleksibel tahan getaran.
➢ Pipa gas buang harus dilindungi untuk mencegah kontak dengan orang atau benda yang mudah terbakar.
➢ Pipa gas buang harus ditinggikan untk menghindari alat deteksi kebakaran dan kepala sprinkler kebakaran.
➢ Pipa gas buang harus dihubungkan ke atmosphere yang jauh dari pintu, jendela dan lubang ven bangunan.
 
 
3. Puncak saluran pmbuangan yang ke arah bawah dan terletak jauh dari genset pada jalur horizontal perlu dipasang perangkap kondensasi dengan lubang pengering yang diletakkan pada pipa pembuangan yang mulai naik.
Gambar 2.3.2.3 menunjukan jenis perangkap kondensasi. Yakinkan bahwa bagian pipa fleksibel pada mesin disangga dengan benar.
 
 
 
 
 
Gambar 2.3.2.3.
Perangkat lubang pengeringan kondensasi
 
 
4. Bagian pipa fleksibel
 
Tabung gas buang yang fleksibel dari bahan baja tahan karat berombak dengan panjang 300 mm harus dihubungkan ke lubang keluar mesin untuk mengatasi ekspansi panas, gerakan genset dan getaran.
tabung mempunyai panjang 460 mm untuk genset dengan kapasitas 200 kW atau lebih besar, dipasang dengan isolator getaran jenis pegas.
Tabung fleksibel harus tidak boleh digunakan untuk belokan atau mengkompensasi pemasangan pipa yang tidak lurus.
Ekspansi pipa gas buang mendekati 1,14 mm per meter per 100ºC terhadap kenaikan temperature gas buang dan temperature ruangan.
 
2.3.3. Selubung dan tutup hujan
1. Selubung yang memenuhi syarat harus digunakan dimana pipa pembuangan menembus dinding, partisi, atau atap. Pemasangan tutup tudung pada selubung bila dipasang tegak ditunjukan pada gambar 2.3.3.1.
 
 
  
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.3.3.1.
Selubung pipa pembuangan.
 
2. Tutup hujan dipasang pada ujung pelepasan dari pipa tegak gas buang. Klem tutup hujan dipasang pada ujung pipa dan terbuka selama genset beroperasi dengan gaya pelepas keluar. Bila genset berhenti, tutup hujan otomatis tertutup, melindungi sistem pembuangan dari lingkungannya.
 
2.3.4. Penyangga sistem pembuangan.
Knalpot dan pipa harus disangga dengan penggantung atau penyangga yang tidak mudah terbakar, dan tidak dengan lubang pembuangan mesin. Berat pada lubang pembuangan mesin dapat menyebabkan kerusakan ke mesin atau mengurangi umur turbocharger.
 
 
2.3.5. Tekanan balik gas buang
 
a. Tekanan balik gas buang terhaap genset bila diukur pada beban penuh dengan kecepatan mesin yang terkendali, harus tidak lebih dari nilai yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.
b. Ukuran pipa buang, jumlahdan jenis belokan, fiting, pemilihan dan lokasi knalpot akan menentukan besarny tekanan balik gas buang. Ukuran pipa untuk pemasangn harus menganggap jari-jari belokan pendek dan adanya reduser. Belokan yang rapat biasanya memberikan kontribusi yang tinggi pada tekanan balik. Hambatan berbanding terbalik pangkat lima terhadap diameter pipa dan kenaikan kecil diameter pipa akan mengurangi hambatan yang cukup berarti pada tekanan karena pipa.
c. Tekanan balik gas buang harus dihitung dengan metoda seperti ditunjukan dibawah ini. Tekanan balik harus diukur pada lubang gas buang pada saat mesin beroperasi dengan beban penuh.
 
4. Contoh perhitungan tekanan balik pembuangan
 
Prosedur berikut dapat digunakan untuk menentukan besarnya tekanan balik dari sistem gas buang didasarkan pada komponen yang dibutuhkan pada sistem lengkap.
 
1. Denah dari sistem pembuangan dalam contoh menyebutkan komponen dalam sistem yang terdiri dari :
a. Tabung fleksibel mempunyai diameter 5 inci dengan panjang 24 inci, pada lubang pembuangan mesin.
b. Diameter kritis dari knalpot pada lubang masuk 6 inci.
c. Diameter pipa 6 inci dan panjang 20 feet.
d. Terdapat 3 buah belokan 90º panjang dengan diameter 6 inci.
e. Pipa tegak dengan diameter 8 inci dan tinggi 200 feet.
2. Aliran gas buang 2.656 CFM dan tekanan balik gas buang yang diizinkan maksimum 41 inch kolom air.
3. Tentukan tekanan balik gas buang untuk setiap elemen (tabung fleksibel, knalpot, belokan, dan pipa-pipa), kemudian dibandingkan jumlah tekanan balik dengan tekanan balik gas buang yang diizinkan.
4. Gambar 2.3.5.4.d, menunjukan grafik tekanan balik gas buang terhadap kecepatan gas pada knalpot sesuai yang dikeluarkan pabrik.
5. Gambar 2.3.5.4.e, menunjukan grafik tekanan balik gas buang terhadap aliran gas melalui diameter pipa yang umum,.
6. Berdasarkan grafik ini, kemudian di tentukan langkah-langkah sebagai berikut :
1 ). Tentukan tekanan balik gas buang menggunakan gambar 2.3.5.4.d untuk knalpot, sebagai berikut :
a. Menggunakan gambar 2.3.5.4.d penting untuk mengubah aliran gas buang dalam CFM menjadi kecepatan gas dalam FPM pada lubang masuk knalpot. FPM (ft/menit) dapat ditentukan dengan membagi CFM dengan luas penampang (ft²) lubang masuk knalpot. Luas penampang untuk beragam diameter lubang masuk ditunjukan pada table 2.3.5.4.(1).
Untuk contoh ini : 
2.656 CFM
Kecepatan pegas =                          = 13.530 FPM
0,1963 ft²
b. Untuk contoh ini, garis putus-putus dalam gambar 2.3.5.4.d menunjukan tekanan balik pada knalpot sebesar 21 inci H2O.
 
Tabel 2.3.5.4.d.
Luas penampang tehadap diameter lubang masuk
 
Diameter lubang masuk (inci) Luas lubang masuk (ft²)
1,5 0,0123
2 0,0218
2,5 0,0341
3 0,0491
3,5 0,0668
4 0,0873
5 0,1363
6 0,1963
8 0,3491
10 0,5454
12 0,7854
 
2). Menggunakan gambar 2.3.5.4.d untuk menentukan tekanan balik gas buang pada pipa dan fiting. Garis putus-putus menunjukan tekanan balik gas buang per ft panjang pipa, untuk diameter pipa 5, 6 dan 8 inci, pada aliran gas mesin yang digunakan dala contoh.
Untuk fiting, tentukan panjang ekuivalen pipanya dengan menggunakan ketentuan berikut, kemudian gunakan gambar 2.3.5.4.e untuk menentukan tekanan balik.
a. Kalikan panjang dari tabung fleksibel dengan 2 untuk memperoleh panjang ekuivalen pipa.
b. Kalikan diameter belokan 90º jari-jari medium dengan 30 untuk memperoleh panjang ekuivalen pipa.
c. Kalikan diameter belokan 90º jari-jari panjang dengan 16 untuk memperoleh panjang ekuivalen pipa.
3). Tambahkan tekanan balik untuk elemen-elemen pada contoh sebagai berikut :
Tabung fleksibel 5 inci = 0,37 x 2x 2 ft = 1,3
Knalpot 21,0
6 inci pipa = 0,14 x 20 ft
3 buah belokan 90º radius panjang diameter 3,4
6 inci = 0,14 x 3 x (0,5 ft x 16 ) =
pipa tegak 8 inci = 0,03 x 200 ft 6,0
Total tekanan balik gas buang 
(dalam inci kolom air ) : 34,5
 
4). Perhitungan menunjukan denah pipa cukup, karena jumlah tekanan baliknya lebih kecil dari pada yang dipersyaratkan.
 
 
Kecepatan gas buang dalam feet per menit (FPM)
KALIKAN INCI HG DENGAN 13,59 UNTUK MEMPEROLEH INCI H20
KALIKAN mm HG DENGAN 0.54 UNTUK MEMPEROLEH INCI H20
KALIKAN kPa DENGAN 4 UNTUK MEMPEROLEH INCI H20
KALIKAN METER DENGAN 3,28 UNTUK MEMPEROLEH FEET
KALIKAN mm DENGAN 0,039 UNTUK MEMPEROLEH INCI
KALIKAN M3/MENIT DENGAN 35 UNTUK MEMPEROLEH CFM
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.3.5.4.d
Tekanan balik gas buang terhadap kecepatan pada knalpot
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.3.5.4.e
Tekanan balik gas buang terhadap aliran gas buang
2.3.6. Knalpot
.1. Pilih knalpot yang akan mengurangi kebisingan pada sistem gas buang sampai tingkat yang dipersyaratkan diluar. Tiga jenis knlapot yang ada, yaitu :
a. Knalpot industri, sesuai untuk daerah industri atau instalasi jarak jauh, dimana kebisingan menjadi tidak kritis.
b. Knalpot residensial, sesuai dimana kebisingan rendah diharapkan
c. Knalpot kritikal, sesuai untuk daerah rumah sakit, rumah susun, atau dimnaa kebisingan dibutuhkan minimal.
2. Alat peredam mengurangi suara, dan peredaman dinyatakan dalam decibel. Tingkat peredaman knalpot gasbuang adalah sebagai berikut :
Knalpot industri : 12 s/d 18 dBA
Knalpot residensial : 18 s/d 25 dBA 
Knalpot  kritikal : 25 s/d 35 dBA
3. Menentukan pengurangan tingkat suara untuk jarak yang berbeda terhadap sumber suara, dengan mengurangi 6 decibel setiap kali jarak digandakan. Contoh, tingkat suara 92 decibel pada jarak 100 ft (30 meter), akan berkurang menjadi 80 decibel pada jarak 400 ft (120 meter).
4. Lokasi.
Pasang knalpot sedekat mungkin dengan mesin. Knalpot yang dingin dapat mengakibatkan pengumpulan sisa karbon dan uap air yang tidak diinginkan. Pengeringan dan perawatan knalpot biasanya lebih mudah jika dipasang dekat mesin.
5. Pemasangan
 
Knalpot dan pipa gas buang harus dilindungi atau diisolasi untuk mencegah kebakaran. Selain itu juga dapat mengaktifkan detector kebakaran atau kepala sprinkler jika terlalu dekat.
 
 
2.4 Sistem pendinginan mesin
2.4.1 Umum
Mesin yang didinginkan dengan cairan, menggunakan zat pendingin yang dipompakan melalui celah-celah dalam silinder blok mesin, kepala silinder dan kadang-kadang melalui selimut air yang mengelilingi pipa cabang pembagi ( manifold) gas buang.
Zat pendingin dipompa dengan tekanan seluruh sistem.
Zat pendingin mengalir ke mesin dan menyerap kalor dari mesin. Zat pendingin kemudian didinginkan dengan radiator atau alat perpindahan kalor cairan ke cairan.
 
2.4.2. Pendinginan dengan radiator.
Radiator dengan pendinginan menggunakan Fan Radiator yang digerakkan oleh mesin. Gambar 2.4.2. menunjukan jenis radiator ini.
Fan yang digerakan mesin, biasanya merupakan ventilator utama dari ruang genset. Radiator dipasang pada bagian muka dari genset. Fan pendingin radiator menarik udara keluar mesin dan mendorongnya melalui radiator. Gerakan ini melayani pendinginan permukaan mesin bersama-sama dengan pendinginan dari zat pendingin mesin dalam radiator. Cara pendinginan ini bebas dari pengaruh utilitas yang dipasok menara pendingin.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.4.2.
Genset dengan sistem pendinginan radiator
 
2.4.3. Pendinginan dengan alat perpindahan kalor
Alat perpindahan kalormenggunakan rangka (shell) dan tabung (tube), dengan rancangan untuk cairan ke cairan.
Gambar 2.4.3 menunjukan alat perpindahan kalor ini. Sistem ini membatasi kebutuhan untuk radiator dan Fan pendingin yang berkaitan. Air (dari PDAM atau sumber air lain) dipakai sebagai pendingin dari zat pendingin. Zat pendingin mesin di dalam alat perpindahan kalor tidak bercampur pada air di PDAM atau sumber air lain. Air dari PDAM atau sumber air lain mengalir melalui tabung dan menghisap panas mesin dari zat pendingin disekeliling rangka (shell).
Sumber air harus mampu memasok air pada laju aliran dan temperature seperti ditujukkan pada buku petunjuk genset yang dikeluarkan pabrik.
Laju aliran dikendalikan secara manual atau dengan katup otomatis. Katup manual harus disetel untuk pendinginan mesin yang benar pada beban operasi penuh.
Jika katup otomatis dipakai, temperature keluar dari zat pendingin harus dipakai sebagai dasar penyetelan. Katup solenoid dipakai pada sisi pipa air yang datang dan membuka selama genset beroperasi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.4.3.
Genset dengan sistem pendinginan dengan alat perpindahan kalor
 
 
2.4.4. Pendinginan dengan radiator jarak jauh.
Beberapa pemasangan mensyaratkan radiator dan Fan yang berhubungan dipasang terpisah dari genset. Pemakaian radiator jarak jauh membutuhkan perencanaan yang hati-hati. Gambar 2.4.4.1 menunjukan jenis sistem pendingin radiator jarak jauh.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.4.4.1
Sistem pendinginan dengan radiator jarak jauh.
 
 
Ukuran radiator dan Fan sebaai pendingin temperature, tidak boleh melebihi maksimum yang tertera pada spesifikasi produk. Aliran zat pendingin dan panas yang dikeluarkan dari zat pendingin juga tertera pada spesifikasi.
Ukuran radiator yangpanjangnya 6 inci sampai 18 inci (152 mm sampai 457 mm) harus sesuai dengan SAE 20RI atau standar yang setara, harus dipakai untuk menyambung pipa zat pendingin ke mesin. Slang radiator juga akan meredam getaran genset selama beroperasi. Penempatan katup pengering pada bagian terendah dari sisitem pendinginan.
1. Dearasi.
Dearasi adalah proses mengeluarkan udara dari dalam cairan. Karena udara masuk kedalam sistem pendinginan, maka radiator harus di ven
Radiator dan radiator jarak jauh dipasang dengan ven melalui tutup ven bertekanan atau katup.
Radiator dengan tangki atas radiator atau tangki tambahan harus tidak kurang 15 % dari total volume zat pendingin dalam sistem untuk menyediakan zat pendingin bila kapasitasnya menurun dan ruang untuk ekspansi panas.
Mesin dan pipa ven radiator harus dilengkapi dan miring keatas, tanpa perangkap udara, untuk ruang deaerasi dalam tangki atas radiator atau tangki tambahan.
 
2. Gesekan zat pendingin/tekanan stastik.
Tekanan eksternal dari gesekan zat pendingin ke mesin (kerugian tekanan karena pipa, sambungan dan gesekan pada radiator) dan tekanan static zat pendingin (tinggi kolom cairan ditunjukkan dari pusat poros mesin) harus tidak melebihi apa yang tertera dalam spesifikasi produk.
 
 
Contoh perhitungan :
Denah pemipaan awal untuk sistem pendinginan radiator jarak jauh menunjukan :
a. Diameter pipa 3 inci, sepanjang 120 ft.
b. 8 buah belokan panjang.
c. Dua buah katup sorong, untuk mengisolasi radiator pada saat pemeliharaan mesin.
d. Satu tee, untuk menyambung pipa tambahan air dari tangki tambahan.
 
Dalam contoh ini dari spesifikasi diperoleh aliran zat pendingin 123 gpm dari tekanan gesekan yang diperbolehkan sampai dengan 15 psi.
Prosedur untuk menentukan kerugian tekanan untuk tekanan gesekan yang diperbolehkan.
Gambar 2.4.4.2, menunjukan data kerugian tekanan untuk pipa dan sambungan-sambungannya. Pabrik radiator dapat melengkapi data kerugian tekanan radiator. 
Perhitungan tekanan gesekan zat pendingin adalah sebagai berikut :
1. gambar 2.4.4.2. menunjukan kerugian tekanan sebesar 1,65 psi untuk pipa diameter 3 inci dan panjang 100 ft pada aliran 123 gpm.
2. Tentukan panjang pipa ekuivalen untuk setiap elemen dengan menggunakan tabel 2.4.4.1. Tambahan panjang ekuivalen ke panjang pipa lurus sebagai berikut :
- 8 buah belokan panjang =  8 x 5,2 = 41,6
- 2 buah katup =  2 x 1,7 =   3,4
- 1 buah tee =  1 x 5,2 =   5,2
- pipa lurus =    = 120
Total panjang pipa ekuivalen    = 170,2
 
3. Untuk contoh ini :
1,65 psi x 170,2 ft  
Kerugian pipa = = 2,8 psi
100 ft
 
4. Untuk contoh ini, dianggap spesifikasi data dari pabrik radiator, kerugian tekanannya 1 psi pada aliran 123 gpm.
5. Tambahan pipa dan kerugian radiator, sebagai berikut :
Kerugian pipa = 2,8 psi
Kerugian radiator = 1,0 psi
 
Total kerugian tekanan dalam sistem = 3,8 psi
6. Perhitungan menunjukan bahwa denah sistem pendinginan dengan radiator jarak jauh cukup, dimana tekanan gesekan dari zat pendingin tidak lebih besar dari yang di spesifikasikan pabrik pembuat.
7. Jika perhitungan menunjukan kelebihan tekanan gesekan zat pendingin, ulangi perhitungan dengan ukuran yang lebih besar.
Kemudian bandingkan keuntungan dan kerugian pemakaian pipa yang lebih besar dengan penggunaan pompa pendingin tambahan (dijelaskan pada bab lain)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.4.4.2.
Grafik kerugian tekanan pada pipa tehadap aliran zat pendingin
 
 
 
 
 
 
Tabel 2.4.4.1.
 
TAHANAN ALIRAN DARI JENIS SAMBUNGAN PIPA DINYATAKAN SEBAGAI FEET EKUIVALEN DARI PIPA LURUS
 
 
TYPE OF PIPE FITTING NOMINAL PIPE DIAMETER IN INCHES
1,5 2 2,5 3 4 5 6
90º ELBOW 4,4 5,5 6,5 8 11 14 16
45º ELBOW - 2,5 3 3,8 5 6,3 7,5
LONG SWEEP ELBOW 2,8 3,5 4,2 5,2 7 9 11
CLOSE RETURN BEND - 13 15 18 24 31 37
TEE, STRAIGHT RUN - 3,5 4,2 5,2 7 9 11
TEE, SIDE INLET OR OUTLET 9,3 12 14 17 22 27 33
GLOBE VALVE, FULLY OPEN - 55 67 82 110 140 -
ANGLE VALVE, FULLY OPEN - 27 33 41 53 70 -
GATE VALVE, FULLY OPEN - 1,2 1,4 1,7 2,3 2,9 3,5
GATE VALVE, HALF OPEN - 27 33 41 53 70 100
 
 
 
2.5 SISTEM VENTILASI
2.5.1. Ventilasi
Sistem ventilasi penting untuk mengeluarkan panas dan asap yang ditimbulkan oleh mesin, generator, kelengkapan-kelengkapan dan peralatan-peralatan lain di dalam ruang generator. Sistem juga dibutuhkan untuk menyediakan pasokan udara bersih yang cukup untuk pengapian.
 
Bagian berikut menerangkan komponen utama dan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan sistem ventilasi khusus.
Sistem yang dijelaskan adalah untuk genset radiator, alat penukar kalor atau radiator pendinginan jarak jauh.
 
2.5.2 Vent dan Ducting.
Vend an ducting merupakan sarana ventilasi ruang genset. Ukuran dari ven ini ditentukan oleh lubang masuk udara, penurunan total tekanan yang diijinkan dan macam sistem pendinginan yang dipakai.
Bila perencanaan sistem mengacu pada saran ASHRAE Handbook untukperencanaan ducting, perlu dicatat bahwa lubang ducting udara masuk harus diukur untuk mengatasi kombinasi aliran udara untuk pengapian dan udara untuk ventilasi. Lembaran spesifikasi mencantumkan aliran udara untuk pengapian.
Umumnya lubang udara masuk dan lubang udara keluar dalam ruangan bersikulasi. Susun ven sehingga udara tidak hilang tanpa pertama-tama melewati luasan genset. Penempatan lubang keluar yang terlalu tinggi daripada lubang masuk memungkinkan konveksi arus aliran udara. Bukan lubang masuk udara dan lubang keluar udara harus ditempatkan atau dilindungi sekecil mungkin dari kebisingan Fan dan pengaruh angina pada aliran udara.
Jika aliran udara bebas dirintangi oleh kisi-kisi atau saringan, tambahkan luas tabung ven 25 sampai 50%.
 
2.5.3. Damper
Damper dan kisi-kisi (louvre) melindungi genset dan ruang mesin dari lingkungan luar. Operasi membuka dan menutupnya dikendalikan oleh beroperasinya genset. Damper harus dibuka bila genset beroperasi.
Ada 4 kategori utama damper sebagai berikut :
➢ Otomatis –damper membuka setiap saat genset beroperasi .
➢ Manual-damper dibuka dan ditutup secara manual.
➢ Dikendalikan dengan thermostatic-damper, dikontrol oleh thermostat yang menyensor temperature lubang udara keluar.
➢ Damper tetap, ialah damper yang terbuka tetap dan tidak dapat ditutup.
 
Penutup thermostatic dapat digunakan mengontrol aliran udara untuk memelihara rentang temperature yang diinginkan.
Mengatur aliran udara selama operasi dan menutup saat genset diberhentikan.
 
 
2.5.4. Ventilasi pada radiator
Mesin enggerakan Fan, menarik udara kedepan dan mendorongnya melalui radiator. Sambungan fleksibel ducting harus disediakan pada radiator untuk meredam getaran dari genset.
 
Aliran udara yang melalui radiator biasanya cukup untuk ventilasi ruang genset. Ventilasi tambahan mungkin penting jika kenaikan temperature udara rendah perlu dipertahankan..
Kenaikan temperature udara ruangan adalah perbsdaan antara temperature udara ruang genset yang diperbolehkan (yang dispesifikasikan dalam persyaratan teknik) dan temperature udara pada lubang masuk keruangan (biasanya di ambil udara luar).
 
2.5.5. Ventilasi pada alat penukar kalor atau radiator jarak jauh
Sistem pendinginan dengan alat penukar kalor dan radiator jarak jauh mempunyai sistem ventilator yang unik yang dipersyaratkan pada saat perancangan. Fan ventilasi harus disediakan untuk ruang genset.
Fan radiator jarak jauh harus diukur terutama untuk mendinginkan radiator. Tergantung pada lokasinya, dapat juga digunakan untuk ventilasi ruang genset. Penempatan fan dan lubang udara masuk harus dapat menarik udara ventikasi kedepan mesin. Radiator dan fan ventilasi harus digerakkan oleh daya dari genset. Konsumsi daya untuk radiator dan Fan ven harus dikurangi dari daya untuk memperoleh daya bersih genset.
 
2.5.6. Kebutuhan udara pendingin
Contoh berikut digunakan untuk menentukan kebutuhan aliran udara untuk mengeluarkan panas dari genset, pipa cabang utama gas buang, da pipa gas buang dari selubung atau ruangan.
Contoh perhitungan :
Spesifikasi menyebutkna panas masuk 4.100 BTU/menit  keruangan dari genset (mesin dan generator). Pipa cabang utama gas buang dengan panjang 10 ft dan diameter 5 inci juga ditempatkan didalam ruang genset. Persyaratkan lokal mengharuskan temperature udara ruangan maksimum 100ºF. Temperature udara luar 90ºF.
1. Tambahan masukan panas ke ruangan dari semua sumber. Tabel 2.5.6. menunjukan kerugian panas dari pipa gas buang dengan diameter 5 inci adalah 138 BTU/menit per ft panjang pipa cabang utama gas buang.
Penambahan masukan panas keruangan sebagai berikut :
Masukan panas dari genset 4,100
Masukan panas dari pipa gas buang 10 x 132 1,320
Masukan panas dari pipa gas cabang utama gas buang 2,500
Total masukan panas ke ruang genset (BTU/menit) 7,920
 
2. Kenaikan temperature udara ruangan harus tidak melebihi beda antara temperature udara ruangan yang diperbolehkan dan temperature udara masuk lubang udara.
Dalam hal ini = 100ºF ─ 90ºF = 10ºF.
 
3. Dibutuhkan aliran udara sama dengan masukan panas dibagi dengan kenaikan temperature udara ruangan :
58 x H (BTU/menit) 58 x 7.920
CFM = =   = 45.936.
ΔT 10
 
 
 
 
 
Tabel 2.5.6.
Kerugian panas pipa gas buang yang tidak diisolasi dan knalpot
 
Diameter pipa inch (mm) BTU/menit per ft (kJ/Meter/menit) BTU/menit (kJ/menit) untuk knalpot jenis kritikal)
1,5 (38) 47 (162) 297 (313)
2 (51) 57 (197) 490 (525)
2,5 (64) 70 (242) 785 (828)
3 (76) 84 (291) 1.100 (1.160)
3,5 (98) 96 (332) 1.408 (1.485)
4 (102) 108 (374) 1.767 (1.864)
5 (127) 132 (457) 2.500 (2.638)
6 (152) 156 (540) 3.550 (3.745)
8 (203) 200 (692) 5.467 (5.768)
10 (254) 249 (862) 8.500 (8.968)
12 (305) 293 (1.014) 10.083 (10.638)
 
 
2.6. Sistem pasokan bahan bakar.
2.6.1. Umum
Untuk pengoperasian yang aman, sistem pemasokan bahan bakar harus direncanakan dan dipasang secara berhati-hati. Bagian ini menjelaskan sistem pemasokan bahan bakar cair.
Gambar 2.6.1. menunjukan sistem pasokan bahan bakar diesel.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.6.1.
Sistem bahan bakar Diesel
 
 
2.6.2. Sistem pasokan bahan bakar cair.
 
1. Tangki penyimpanan
 
Konstruksi tangkipemasok bahan bakar, lokasinya, pemasangannya, ven, pemipaan, pengujian dan inspeksinya harus memenuhi ketentuan tekhnik (Code) yang berlaku. Tangki pemasok harus dapat menyimpan bahan bakar yang cukup untuk beroperasi dalam jumlah jam tertentu tanpa pengisian ulang.
Perhitungan ukuran tangki dapat didasarkan spesifikasi pabrik pembuat untuk konsumsi bahan bakar perjamnya.
Untuk sistem daya darurat, Code mungkin tidak mengijinkan pasokan bahan bakar digunakan untuk tujuan lain.
Diesel dengan tangki bahan bakar di atas tanah kapasitasnya antara 55 sampai 560 gallon (208 sampai 2120 liter).
Tangki ini dapat menyediakan untuk pengisian pipa, pipa ven, tabung turun dan dua pipa balik.
Untuk pemasangan beberapa genset, tangki harian disambungkan ke setiap genset secara sendiri-sendiri untuk memasok bahan bakar. Ini akan mencegah setiap genset dari kemumgkinan kekurangan bahan bakar bila semua genset beroperasi dan mencegah masuknya udara ke dalam sistem bahan bakar pada genset yang tidak beroperasi.
 
2. Lokasi tangki.
 
Tangki bahan bakar harus dipasang sesuai dengan Code. Lokasi tangki bahan bakar sedekat mungkin dengan genset. Karena pompa bahan bakar berpengaruh terhadap lokasi bahan bakar, periksa kapasitas daya isap pompa bahan bakar.
Jika total tekanan bahan bakar turun dan daya isap vertical melebihi kapasitas daya isap pompa bahan bakar standar, gunakan pompa bahan bakar tambahan dan tangki harian.
  
3. Tangki harian.
Tangki harian adalah tangki perantara bahan bakar yang digunakan bila pompa bahan bakar standar dari mesin tidak dapat mengisap untuk menarik bahan bakar dari tangki pasokan (membutuhkan pompa tambahan).
Untuk tangki bahan bakar yang mengganntung di atas, tangki harian digunakan untuk mengganti tekanan bahan bakar yang seharusnya dilakukan oleh komponen sistem bahan bakar mesin.
 
4. Pengisian tangki dan pipa ven.
Pipa pengisian dan sambungan ven harus rapat udara dan uap air. Gunakan kawat saringan, kira-kira berukuran mesh 1/16 (1,6 mm), yang mudah diganti pada leher pipa pengisian untuk perangkat kontaminasi bila tangki diisi. Pipa ven harus harus cukup tinggi agar mengurangi asap.
 
5. Plambing bahan bakar.
Apabila pipa bahan bakar di tanam, gunakan pipa bahan bakar dan sambungannya yang dapat mencegah elektrolisis. Gunakan pipa baja hitam untuk pipa bahan bakar Diesel.
 
 
Gunakan pipa fleksibel antara mesin dan pipa pasokan bahan bakar untuk menahan getaran genset.
Pipa bahan bakar diesel membutuhkan pipa balik. Semua pipa bahan bakar dan sambungan tangki harus ditempatkan secara benar dan kedap udara untuk mencegah udara masuk ke dalam pipa bahan bakar.
Pipa bahan bakar dan pompa, ukurannya harus dipilih untuk mengatasi laju aliran tiga kali lebih besar dari pada laju konsumsi bahan bakar pada beban penuh seperti yang dispesifikasikan pabrik pembuat. Pipa balik bahan bakar ukurannya harus dipilih dua kali aliran.
 
 
2.7 Sistem kelistrikan
2.7.1. Umum 
Sistem kelistrikan terdiri dari daya AC, Kontrol DC. Daya AC dan kabel control DC harus dalam konduit logam yang terpisah.
 
Semua konduit, ukuran kabel, sabungan-sambungan dan komponen-komponen harus sesuai dengan spesifikasi, instruksi pemasangan, semua kode pemakaian dan peraturan-peraturan.
 
 
2.7.2. Kontrol listrik DC
Genset menggunakan control 12 DVD atau 24 VDC. Pemasangan kabel control DC dalam conduit metal padat dengan metal conduit fleksibel pada kotak control. Penggunaan kabel tembaga 18 AWG untuk kabel control sampai dengan panjang 1000 ft. Konduit fleksibel melindungi sambungan dari gerakan genset dan getaran selama beroperasi. 
 
2.7.3. Starting Listrik DC. 
Daya battery 12 VDC atau 24 VDC menstart motor yang digunakan untuk mengoperasikan genset. Battery harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk memutar poros engkol sesuai yang dispesifikasikan pabrik pembuat. Battery yang digunakan dari jenis Lead Acid atau Nickel Cadmium.
1. Lokasi battery.
standar set battery terdiri dari battery yang dipasang pada rak battery dan kabel battery. Pada beberapa pemasangan, battery dipasang di lokasi yang jauh.
Tahanan pada kabel sirkit starter mempunyai pengaruh yang berarti pada kemampuan battery dari mesin. Jadi, sebaiknya penempatan battery sedekat mungkin ke genset. Penempatan battery harus mudah dikeluarkan untuk pemeliharaan.
Jika battery ditempatkan relative jauh dari motor starter, diperlukan penambahan ukuran kabel untuk mencegah penurunan tegangan yang berlebihan.
 
2 Battery Charger.
Alternator yang digerakkan mesin dan pengatur tegangan otomatis (Automatic Voltage Regulator) harus dilengkapi untuk mengisi kembali battery selama oerasi. Banyak genset cadangan yang jarang memlihara tegangan battery. Battery charger dihubungkan ke sumber jaringan komersial AC bila daya normal ada.
Code biasanya menspesifikasikan waktu pengisianbattery. Ketentuan berikut dapat dipakai untuk menentukan battery charger.
 
Ukuran pengisian battery yang dibutuhkan =
 
1,2 x Kapasitas battery (Amper – Jam)
Waktu pengisian maksimum (Jam) yang diijinkan oleh Code
 
Charger jenis mengambang tidak direncanakan untuk pengisian battery secar cepat. Battery charger jenis mengambang SCR sudah dilengkapi dengan pengatur waktu pengisian. Laju aliran pengisian maksimum sampai dengan 10 Amper untuk sistem 12 VDC, dan sampai dengan 6 Amper untuk sistem 24 VDC.
Untuk pengisian yang cepat, pengatur waktu dapat di setel secara manual, untuk setiap periode waktu sampai 12 jam. Pabrik battery umumnya menyarankan 24 jam pengisian untuk setiap bulannya.
Penyetelan pengatur waktu dengan menaikan keluaran charger dan memelihara pengisian voltage yang tinggi untuk waktu yang dipilih.
Setelahperiode ini, pengatur waktu sakelarnya otomatis kembali ke voltage mengapung.
Nickel Cadmium battery tidak membutuhkan pengisian battey.
 
3. Ukuran kabel battery.
Tahanan kabel battery harus menyebabkan penurunan tegangan lebih dari 1 volt untuk sistem 12 VDC  atau 2 volt untuk sistem 4 VDC antara battery dan motor starter.
Contoh berikut menunjukakan bagaiman menentukan ukuran kabel battery yang benar.
Contoh perhitungan :
Gensetdengan sistem start menggunakan 2 buah battery 12 volt yang dihubungkan seri (lihat gambar 2.7.3.3.1).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.7.3.3.1.
Jenis sambungan motor starter
 
Panjang kabel total 450 inci ( termasuk kabel antar battery). Ada 6 sambungan kabel. Spesifikasi pabrik menyebutkan arus penggerak poros engkol 565 Amper.
Menghitung ukuran kabel yang dibutuhkan sebagai berikut :
a. Dianggap tahanannya 0,00020 Ohm untuk kontrak starter solenoid.
b. Dianggap tahanannya 0,00021 Ohm untuk setiap sambungan kabel.
c. Rumus berikut adalah perhitungan dasar :
Tahanan kabel yang dijinkan =
Penurunan tegangan yang dijinkan
- jumlah tahanan
Amper poros engkol
 
d. Untuk contoh :
Tahanan kabel yang dijinkan =
 2 Volt - 0,00020 Ohm–(6 x 0,00001 Ohm) = 0,00382 Ohm
565 amper  
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.7.3.3.2.
Tahanan vs panjang kabel
 
e. Menunjuk pada gambar 2.7.3.3.2 untuk AWG (American Wire Gauge) tahanan kabel :
Untuk contoh ini, garis putus-putus menunjukan kabel AWG No. 00, kabel ukuran terkecil yang menghasilkan penurunan tegangan kurang dari 2 volt antara battery dan motor starter selama memutar poros engkol.
 
2.7.4. Sistem daya listrik AC.
Sistem pasokan daya listrik AC membutuhkan perencanaan yang hati-hati. Gambar 2.7.4 menunjukan skematik diagram dari sistem daya darurat.
 
 
 
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 2.7.4.
Skematik diagram sistem daya darurat
 
Pemasangan kabel tenaga AC dalam Konduit metal fleksibel. Lindungi kabel di dalam conduit fleksibel dan sambungan-sambungan ke genset dari tegangan dan getaran selama beroperasi.
Sakelar pemindah bukuan dibutuhkan untuk mencegah kecelakaan pada antar sambungan bila lebih dari satu sumber daya dipakai untuk melayani beban.
Instruksi untuk sakelar pemindah ada di dalam peralatan sakelar pemindah.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Code listrik (PUIL) tentang cara pembumian dan segala ketentuannya harus diikuti.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
3. PENGUJIAN
Pengujian genset terdiri dari :
➢ Pengujian kemampuan (Performance Test)
➢ Pengujian daya tahan (Endurance Test)
➢ Pengujain jaminan mautu (Quality Assurance Test).
 
 
3.1 Pengujian kemampuan (performance Test)
Terdiri dari :
1. Kenaikan temperature (40ºC s/d 50ºC)
2. Kemampuan daya maksimum
3. Kemampuan Starter Motor
4. Kemampuan Response Transient
5. Stabilitas pada kondisi mantap
6. Konsumsi bahan bakar
7. Penerimaan beban block
8. Evaluasi Torsi dari sistem putaran (keduanya menggunakan model computer dan verifikasi pengujian actual).
 
3.2 Pengujian daya tahan (endurance Test).
Beroperasi pada kondisi standby penuh, kondisinya sebaik kondisi prime.
 
3.4 Pengujian jaminan mutu (Quality Assurance Test).
Terdiri dari :
1. Pemeriksaan fungsi
2. Pengendalian frekuensi
3. Beroperasi dengan benar dan aman
4. Pemeriksaan kebocoran minyak pelumas dan zat pendingin
5. Respon Transient
6. Kemampuan start panas
7. Kemampuan start dingin
8. Penanganan kejutan/getaran
9. Operasi pada temperature yang ditinggikan
10. Konsumsi bahan bakar
11. Kemampuan Teknisi
 
 
 
 
PT. POLYCON EMAS CIPTA Date :7 jan 1994
Time :
VOLTAGE REGULATOR TEST REPORT.
 
 
Item test
LOAD
0%
25%
50%
75%
100%
110%
Note
 
ENGINE
Engine speed 1520 1520 1500 1500 1500
Water temp 3 2,8 2,5 83 88
Oil pressure 3 2,8 2,5 2,5 2,5
 
ALTERNATOR
Output Voltage RS 380 `380 380 380 380
ST 380 380 380 380 380
TR 380 380 380 380 380
Averg.
RN
SN
TN
Averg.
Output current R 85 170 250 328 360
S 85 172 255 350 385
T 85 165 245 325 385
Averg.
Cos phi-output.
Frequency-output: 52 51,5 51,2 50,8 50
Actual power
Time; (minute) 15 15 15 15 15
Schematic Diagram/Data equipment :
Merk : Denyo – 270 KVA. Serial No. 1334707.
Type  : SPK – 300.
Result : Performance at full load : Good.
Stability Voltage : Good
Test Engineer : Witnes 
 
                                      BRAM MANUAIAN.                                                                 SOEKARTONO.
Gambar 3.4.1
3.4 Formulir pengujian di lapangan
Pengujian di lapangan umumnya dilakukan dengan menggunakan “Dummy Test”. Dummy Test yang digunakan biasanya “HEATER” yang dapat di atur bebannya. Salah satu bentuk formulir penngujian di lapangan ditunjukan pada gambar 3.4.1.
 
4. PENGOPERASIAN
4.1 Power Rating (Laju daya).
Dalam pengoperasian genset, ada 2 (dua) kondisi power rating (pembebanan) yang sering dibicarakan (gambar 4.1) :
 
 
 
 
 
20%
 
 
10% 
gambar 4.1.
 
 
 
 
 
 
 
4.1.1. Prime Power Rating
Prime Power Rating, digunakan untuk memasok daya listrik sebagai pengganti (standby) daya listrik PLN. Pemakaian Prime power (daya utama) harus dalam bentuk salah satu dari kategori dibawah ini :
1. Prime Power yang berjalan tanpa batas waktu.
a. Prime Power digunakan tanpa bats waktu per tahun pada pemakaian beban variable.
Variable beban tidak melebihi 70% dari rat-rata Prime Power Rating selama periode operasi 250 jam.
Waktu beroperasi total pada 100% Primer Power harus tidak melebihi 500 jam per tahun. Kemampuan beban lebih 100% dipakai untuk jangka waktu satu jam didalam periode 12 jam beroperasi.
Waktu total operasi pada beban lebih 10% harus tidak melebihi 25 jam per tahun.
b. Pemakaiannya :
1. Sebagai daya pengganti (standby) pada area yang sering dayanya berlebihan.
2. Genset untuk kapal 
3. Peralatan yang disewakan 
4. Pemotong beban puncak
5. Pemutus daya (yang digunakan untuk pembatas daya) yang di operasikan pada beban konstan.
 
2. Prime Power yang berjalan dengan pembatas waktu
a. Prime Power yang digunakan untuk pemakaian beban yang tidak variabel, dibatasi jam pemakaiannya.
Genset ini benar-benar untuk pemakaian dalam membatasi penggunaan daya. Mungkin dioperasikan parallel dengan PLN sampai dengan 750 jam per tahun pada taraf daya tidak melebihi Primer Power Rating.
Pelanggan harus menyadari, bagaimanapun juga umur dari setiap mesin akan berkurang dengan pengoperasian pada beban tinggi yang konstan. Setiap pengoperasian melebihi 750 jam per tahun pada kondisi Prime Power Rating sebaiknya menggunakan Continuous Power Rating.
 
 
 
b. Pemakaiannya 
1. Memotong beban puncak pada beban konstan .
2. Daya pemutus (yang digunakan untuk pemutus daya) yang dioperasikan pada beban konstan.
 
4.1.2 Standby Power Rating
Standby Power Rating dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu :
➢ Continuous Power Rating
➢ Maximum Power Rating
 
1. Continuous Power Rating
a. Continuous Power Rating atau sering juga disebut Base Power Rating, digunakan untuk memasok pemakaian daya pada beban konstan 100% tanpa batas waktu per tahun.. kemampuan untuk beban lebih tidak ada.
b. Pemakaiannya :
1. Daya pemutus dimana batas Prime Power dilewati.
2. Memotong beban puncak dimana batas Prime Power dilewati.
3. penggerak listrik kapal
4. pembangkit listrik
 
2. Maximum Power Rating.
a. Maximum Power Rating digunakan untuk memasok daya darurat selama kelebihan penggunaan daya. Kemampuan beban lebihnya tidak ada. Mesin ini tidak diijinkan dalam kondisi di parallel dengan penggunaan umumpada standby Power Rating. Rating ini digunakan dimana keandalan pemakaian daya diinginkan.
Mesin dengan standby rating dipakai untuk maksimum 80% dari factor beban rata-rata dan pemakaian 200 jam per tahun.
b. Pemakaiannya :
1. Daya darurat rumah sakit 
2. Daya darurat untuk pencahayaan/pompa-pompa pada bangunan gedung.
3. Cadangan pemakaian untuk sistemm computer.
 
 
 
c. Tidak diijinkan untuk dipakai sebagai :
1. Daya pengguna
2. Memotong beban puncak
3. penggerak kapal
4. Genset yang disewakan
 
   
Standby Duty Maximum Power ( ³ ) Typical Electrikal kWe 176 220 264 308 339 352 400 440 484 554 634 704
kVA 220 275 330 385 424 440 500 550 605 693 792 880
Engine bhp 256 321 385 449 488 507 577 628 691 790 904 944
kWn 191 239 287 335 364 378 430 468 515 589 674 741
Continuous Power ( ¹ ) Typical Electrikal kWe 160 200 240 280 308 320 364 400 440 504 576 640
kVA 200 250 300 350 385 400 455 500 550 630 720 800
Engine bhp 233 292 350 408 444 461 524 571 628 718 822 904
kWm 174 218 261 304 331 344 391 426 468 536 613 674
 
Baseload Power ( ¹ ) Typical Elektrik kWe 145 182 218 254 280 291 331 364 400 458 524 582
kVA 182 227 273 318 350 364 411 455 500 575 655 727
Engine bhp 212 265 318 371 404 420 477 519 571 653 747 822
kWm 158 198 237 276 301 313 356 387 426 487 557 613
Gambar 4.1.2
5. PEMELIHARAAN.¹
5.1. Pedoman menjalankan msesin.
5.1.1. Bahan bakar Motor Diesel putaran tinggi.
1. Pada umumnya minyak ringan dapat dipakai sebagai bahan bakar motor diesel. Namun, minyak berat dapat pula dipakai apabila hal tersebut diatas dinyatakan oleh pabrik pembuatnya. Akan tetapi, oleh karena saringan untuk masing-masing jenis bahan bakar yang sesuai. Untuk Motor Diesel putaran tinggi biasanya dipakai bahan bakar dengan spesifikasi sebagai berikut :
 
Tabel 5.1.1.(1).
Minyak ringan
Berat jenis 0,83 sampai 0,89
Kekentalan Redwood 30 sampai 40detik (30ºC)
Distilasi fraksional Penurunan pertama :210ºC maximum
Distilasi 90% : 350ºC maximum 
Bilangan setama 45 minimum
Reaksi Netral
Titik nyala     50ºC minimum
Kadar abu     0,03% maximum
Kadar air     0,1% maksimum
Kadar belerang     0,7% maksimum
Titik mengalir                 - 10% maksimum
Nilai kalor     10.000 kcal/kg minimum
 
 
 
Tabel 5.1.1.(2)
Minyak berat A
Berat jenis  0,83 sampai 0,89
Kekentalan  Redwood 30 sampai 40 detik (pada 50ºC)
Bilangan Setana  45 minimum
Reaksi  Netral
Titik nyala  60ºC minimum
Kadar abu  0.03% maksimum
Kadar air  0.1%
 
2. Usaha terpenting yang harus diperhatikan adalah mencegah adanya air dan kotoran di dalam bahan bakar. Maka untuk memperoleh keadaan tersebut, perlu diperhatikan beberapa hal tersebut dibawah ini :
a. Sebelum bahan bakar dialirkan dari tangki penyimpanan ke tangki bahan bakar (harian) mesin yang bersangkutan, sebaiknya bahan bakar di dalam tangki penyimpanan di biarkan dulu selama ± 24 jam. Hal tersebut terakhir dimaksudkan supaya air dan kotoran yang ada di dalamnya sempat mengendap. Maka bagian atas dari bahan bakar itu merupakan bagian yang bersih. Bagian inilah yang diambil dan dialirkan kedalam tangki bahan bakar mesin. Hindarilah goncangan pada waktu pengambilan atau pengisapan.
b. Sebelum membuka tutup kedua tangki tersebut di atas, usahakanlah supaya tidak ada kotoran yang dapat masuk kedalam tangki. Kotoran dapat masuk kedalam bahan bakar misalnya karena pemakaian pipa yang kotor, ember yang kotor, corong yang kotor, tangan yang kotor dan sebagainya. Oleh karena itu, bersihkanlah dahulu setiap bagian alat yang hendak dipergunakan untuk menyalurkan bahan bakar.
c. Sebaiknya, dipergunakan kain untuk menyaring bahan bakar, pada waktu menuangkan bahan bakar ke dalam tangki mesin.
d. Disamping itu, hendaknya diusahakan agar tangki bahan bakar mesin selalu terisi penuh setiap kali mesin dipergunakan. Dengan jalan demikian, maka jumlah udara di dalam tangki menjadi berkurang sehingga kemungkinan terjadi pengembunan air yang ada di dalam udara, terutama pada cuaca yang dingin atau pada malam hari, juga kecil.
e. Sekali-kali bukalah katup yang ada di bagian bawah tangki-tangki tersebut dengan tujuan mengeluarkan air atau endapan kotoran yang ada atau sebaikny6a tangki dibersihkan atau dicuci.
 
5.1.2. Minyak  pelumas untuk Motor Diesel putaran tinggi.
1. Oleh karena minyalk pelumas motor diesel bekeja pada keadaan yang lebih berat daripada minyak pelumas motor bensin pada umumnya, maka diperlukan kualitas minyak bumi yang lebih baik. Untuk itu minyak pelumas motor diesel harus memenuhi beberapa persyaratan tersebut dibawah ini :
a. Stabilitas terhadap panas dan oksidasi. Pelumasan yang paling sukar adalah pelumasan bagian mesin yang panas, yaitu pelumasan antara torak dengan dinding silinder. Apabila pada tempat tersebut, minyak pelumas menguap dan kemudian terbakar, maka akan terjadi kerak-kerak yang apabila terjadi pada alur cincin torak dapat menimbulkan kemacetan cincin torak (“piston ring sticking”) atau kerusakan lainnya. Oleh karena itu kedalam minyak pelumas perlu diberi zat tanbahan untuk mencegah kerusakan tersebut diatas.
Kebanyakan minyak pelumas diberi dua macam zat tambahan, yaitu untuk mencegah terjadinya oksidasi dan memperbesar kemampuannya untuk membersihkan dan melarutkan kerak-kerak itu. Maka dengan mempergunakan zat penting itu, minyak pelumas tugas – berat (“heavy duty”) dapat memperbesar daya tahan atau umur torak, cincin torak, silinder, bantalan dan komponen lainnya.
b. Kekentalan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan temperature. Untuk mempermudah start pada temperature rendah, sebaiknya dipakai minyak pelumas yang encer. Namun, kekentalannya harus cukup tinggi supaya masih dapat memberikan lapisan minyak pelumas pada permukaan bagian yang bergerak, khusus nya pada keadaan beban yang berat atau pada waktu mesin harus menghasilkan daya tinggi.
c. Tidak menyebabkan korosi pada logam.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut di atas maka minyakk pelumas digolongkan menjadi beberapa jenis, sesuai dengan berat tugas nya masing-masing. Menurut American Petroleum Industries (API), minyak pelumas dengan klasifikasi DG menunjukan kebolehannya melayani beban biasa, DM untuk beban sedang dan DS untuk beban berat. Dalam hal ini, D adalah symbol yang menunjukan penggunaannya untuk motor “Diesel“, G adalah “General”, M adalah “Moderate” dan S adalah “Severe”. Sedangkan kekentalan minyak pelumas yang dianjurkan dipakai untuk berbagai terperature lingkungan kira-kira adalah sebagai berikut:
 
 
 
 
Tabel 5.1.2.3.
Temperatur Kekentalan
Diatas 40ºC SAE 40
-10ºC sampai 40ºC SAE 30
Dibawah – 10ºC SAE 20W SAE 10W
 
 
d. Didalam setiap buku pedoman menjalannkan mesin biasanya dicantumkan kapan minyak pelumas harus diganti. Akan tetapi, oleh karena laju kerusakan minyak pelumas sangat dipengaruhi oleh kondisi operasinya, maka sebaiknya diadakan pemeriksaan secara berkala untuk mengetahui kapan minyak pelumas harus diganti. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan jalan meneteskan sejumlah minyak pelumas keatas sehelai kertas saringan. Adanya kotoran dan kerusakan minyak pelumas akan terlihat dengan jelas. Namun, sebaiknya keterangan detail tentang hal tersebut ditanyakan kepada pabrik pembuatnya.
 
2. Ada beberapa hal yang diperhatikan pada waktu menambah atau mengganti minyak pelumas, yaitu
a. janganlah mencapur minyak pelumas dengan jenis lain, oleh karena besar kemungkinan terdapat perbedaan pada zat tambahannya (“additives”). Sesudah dipakai beberapa saat lamanya, minyak pelumas akan bertambah hitam. Namun, kita tidak perlu cemas oleh karena hal tersebut menunjukan hasil kerja dari zat pencuci (“detergent”) yang ada didalam minyak pelumas.
b. Pada waktu mengisikan minyak pelumas harus dijaga jangan sampai ada kotoran yang masuk kedalam mesin. Maka lubang pengisian, corong, kaleng minyak pelumas dan tangan harus dibersihkan terlebih dahulu.
c. Pembuangan minyak pelumas yang lama harus dilakukan justru pada waktu mesin masih panas, yaitu segera setelah mesin dimatikan. Setelah itu, mesin boleh diisi dengan minyak baru.
 
 
5.1.3. Menjalankan mesin baru
1. Persiapan yang perlu diperhatikan sebelum menjalankan mesin yang masih baru meliputi beberapa hal sebagai berikut :
a. Periksalah semua sekrup dengan baut, kokohkanlah apabila ada yang longgar. Jangan lupa memeriksa keadaan saringan udara, sebab umur mesin akan menjadi pendek apabila saringan udara tidak dalam keadaan baik. 
b. Pakailah minyak pelumas dan gemuk sesuai dengan yang dicantumkan dalam buku pedoman menjalankan mesin.
c. Untuk motor Diesel dengan pendinginan air, isilah radiator dengan air yang bersih. Berilah larutan anti beku apabila ada kemungkinan terjadi pembukuan air pendinginnya, khususnya pada waktu sedang tidak dipakai.
d. Periksalah apakah tangki bahan bakar dan salurannya ada dalam keadaan bersih. Sesudah itu isikanlah bahan bakar yang bersih dan buanglah udara dari dalam saluran bahan bakar, dari tangki sampai ke penyemprot bahan bakar. Cara membuang udara dari bahan bakar dapat dibaca dalam butir 5.2.3.
e. Periksalah semua bagian mesin yang akan bergerak supaya dapat diketahui apakah ada yang kurang baik atau rusak.
2. Boleh dikatakan bahwa umur mesin sangat tergantung pada cara menjalankan dan menangani mesin tersebut pada waktu masih ada dalam keadaan baru. Dalam hal tersebut cermatlah dalam memeriksa keadaan minyak pelumas dan hal lainnya yang menyangkut masalah perawatannya. Maka selama 60 jam yang pertama, beberapa hal tersebut dibawah ini perlu diperhatikan :
a. Sesudah mesin dapat distart, panaskan mesin terlebih dahulu dalam keadaan tanpa beban beberapa saat lamanya. Setelah itu barulah mesin boleh dibebani.
b. Usahakanlah tidak menjalankan mesin pada putaran tinggi.
c. Demikian juga beban supaya dibatasi pada 70-80% dari beban nominalnya saja.
 
 
5.1.4. Pemeriksaan sebelum menyetart mesin.
Sebelum menyetart mesin, lakukanlah beberapa hal sebagai berikut :
1. Periksalah jumlah minyak pelumas dengan menggunakan batang pengukur minyak pelumas. Tariklah batang tersebut dari dalam mesin dan bersihkanlah dengan lap yang bersih, kemudian kembalikan ke tempat semula. Tariklah batang pengukur tersebut sekali lagi dan periksalah apakah batang tersebut dibasahi minyak pelumas sampai batas yang diminta. Apabila tidak, tambahkan minyak pelumas, tetapi jangan melampaui batas.
2. Periksalah keadaan air pendingin, apakah jumlahnya sesuai dengan yang dicantum didalam buku pedoman. Jangan sampai kekurangan air pendingin. Untuk mesin dengan pendinginan udara periksa keadaan kipas udara dan saluran udara pendinginnya yang harus bersih serta tidak ada kemungkinan terjadi kebocoran udara.
3. Periksalah jumlah bahan bakar didalam tangki, kemudian bukalah keran bahan bakarnya. Jumlah bahan bakar harus mencukupi kebutuhan sehingga mesin tidak akan mati karena kehabisan bahan bakar. Apabila mesin sudah lama tidak dipergunakan, maka sebelum mesin distart buanglah udara dari dalam saluran bahan bakarnya.
4. Periksalah hubungan listrik dai baterai ke motor starter atau tekanan udara yang diperlukan untuk menyetart.
5. Periksalah apakah mesin sudah tidak dibebani, mesin tidak boleh dibebani dalam keadaan distart.
 
 
5.1.5 Hal-hal yang harus diperhatikan setelah mesin dapat distart.
1. Prosedur menyetart mesin biasanya diberikan dalam buku pedoman menjalankan mesin. Maka patuhilah petunjuk yang sudah diberikan itu.
2. Setelah mesin dapat distart, jalankan mesin pada putaran sedang tanpa beban selama kurang lebih 5 menit, sampai setiap bagian mesin dan air atau minyak pelumas mencapai temperature kerjanya yang normal. Sementara itu perhatikanlah beberapa hal berikut :
a. Tekanan minyak pelumas. Untuk setiap mesin diberitahukan berapa besar tekanan minyak pelumas yang normal, tetapi pada umumnya berkisar diantara 2 sampai 4 kg/cm². segera setelah mesin dapat distart, tekanan minyak pelumasnya dapat mencapai bilangan yang tinggi, karena kekentalannya masih tinggi., tetapi akan berkurang apabila mesin sudah panas. Kalau tekannya tidak naik, segera matikan mesin dan selidiki sebabnya dengan prosedur tersebut dalam butir 5.2.2.3. Apabila tidak, maka besar kemungkinan akan terjadi keausan dan kemacetan.
b. Bunyi dan getaran. Biasanya mesin berbunyi keras pada permukaan start, tetapi bunyi tersebut berangsur-angsur akan menjadi lunak setelah mesin menjadi panas.
c. Warna gas buang.
d. Kebocoran air atau minyak pelumas
 
3. Apabila mesin sudah dipanaskan, beban baru boleh dipasang. Namun, sementara itu temperature air pendingin, arus listrik pengisi baterai dan hal pada butir 1 sampai 4 tersebut diatas tetap harus diperhatikan selama mesin dijalankan.
Temperature air pendingin yang normal adalah kira-kira 80ºC, kecuali apabila thermostat diatur sehingga baru terbuka pada temperature yang lain. Kalau terjadi kepanasan (“overheating”), maka hal tersebut mungkin disebabkan karena kekurangan air pendingin, tali kipas udara yang kendor, thermostat yang rusak, pipa radiator tersumbat, pompa air rusak, dan sebagainya. Dalam keadaan dimana temperature air pendinginnya terlalu rendah, sebaiknya radiator ditutup sebagian atau seluruhnya sehingga hubungan dengan udara luar dapat dibatasi.
4. Perlu diingat bahwa arus listrik pengisi baterai adalah besar apabila gaya elektromotif dari baterainya kecil dan akan terus menurun apabila arus pengisinya makin besar. Maka arus pengisinya tak ada sama sekali, maka hal tersebut menunjukan adanya kerusakan.
 
 
 
5.1.6 Mematikan mesin
1. Janganlah mematikan mesin dengan tiba-tiba. Lepaskan bebannya terlebih dahulu secara berangsur-angsur, kemudian biarkanlah mesin bekerja tanpa beban pada putaran rendah, kira-kira 5 menit, sehingga mesin menjadi agak dingin. Sesudah itu mesin baru boleh dimatikan. 
2. Ada dua cara mematikan mesin. Yang pertama adalah menutup alirn bahan bakar dan yang kedua adalah dengan cara menekan atau menarik tuas dekompresi sehingga tidak terjadi proses kompresi. Cara yang kedua dikatakan lebih menguntungkan oleh karena dalam hal tersebut mesin akan berhenti pada kedudukan poros engkol yang sembarang. Hal ini berarti bahwa pada waktu mesin berhenti, posisi beberapa gigi roda gaya tehadap pinion motor starter boleh dikatakan berubah-ubah. Dengan demikian, maka keausan gigi roda gaya karena kerja motor starter boleh dikatakan merata. Apabila tidak dipakai dekompresi, boleh dikatakan bahwa pada waktu mesin berhenti, posisi beberapa gigi roda gaya terhadap pinion motor starter boleh dikatakan konstan sehingga kausan gigi roda gaya tidaklah merata.
3. Untuk menyetop aliran bahan bakar dari mesin governor pneumatic, tariklah tuas penyetop pada gambar 5.1.6.3. kea rah pengurangan bahan bakar sampai mencapai posisi yang terjauh sehingga mesin berhenti bekerja. Kalau tuas tersebut tidak ditarik penuh, dikhawatirkan mesin akan bekerja pada putaran poros engkol yang berlawanan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.1.6.3.
Beberapa macam sistem penyemprotan bahan bakar.
4. Apabila putaran mesin terbalik, maka katupisap akan berfungsi sebagai katup buanng sehingga gas buang akan keluar melalui saringan udara dan biasanya disertai dengan bunyi. Apabila terjadi hal tersebut diatas, segera matikan mesindengan beberapa cara tersebut dibawah ini. Kalau tidak, maka putaran pompa pelumas juga akan terbalik sehingga pompa tidak bekerja sebagaimana mestinya.
a. Setel governor untk daya maksimum, yaitu membuka selebar-lebarnya katup udara dari ruang tekanan udara. Sesudah itu tarik tuas penyetopnya.
b. Pasang beban atau jalankan alat peredam (kalau ada) yaitu suatu cara mematikan mesin dengan memberikan beban-beban mesin punter.
c. Tutup atau sumbat pipa buang dengan kayu atau apasaja yang dapat menghalangi udara atmosfir masuk kedalam mesin.
 
5. Apabila mesin sudah berhenti bekerja, lakukanlah tindakan lanjut sebagai berikut 
a. Kembalikan letak tuas dekompresi pada posisi jalan
b. Tutuplah keran bahan bakar
c. Putarlah kunci kotak starter pada posisi “off”
d. Tutuplah keran air pendingin
e. Apabila ada kemungkinan pembekuan air pendingin, bukalah keran pembuangan sehingga air keluar dari blok mesin.
 
5.1.7 Menyetart mesin pada temperature rendah (dingin)
1. Pada temperature rendah, mesin tidak mudah distart karena beberapa hal sebagai berikut :
a. Karena minyak pelumas lebih kental pada temperature rendah, maka diperlukan momen puntir yang lebih tinggi untuk menyetart.
b. Untuk mesin yang harus distart dengan motor listrik, mungkin timbul kesulitan karena kapasitas baterai pada temperature rendah sehingga arus listrik yang diperlukan untuk start tidak dapat mencukupi kebutuhan.
c. kalau temperature udara masuk mesin telalu rendah, maka temperature udara pada saat bahan bakar disemprotkan ke dalam silinder kurang tinggi sehingga bahan bakar tidak dapat terbakar.
d. Karena kekentalan bahan bakar lebih tinggi pada temperature rendah, maka bahan bakar lebih sukar dikabutkan dan didistribusikan.
2. Untuk mengatasi keadaan tersebut diatas maka perlu dilakukan beberapa hal tersebut dibawah ini :
a. Pakailah minyak sesuai yang sesuai baik untuk mesin maupun untuk saringan udaranya (kalau jenis “oil bath”). Kalau minyak dari saringan udara tersebut terlalu kental maka hal tersebut akan menyebabkan penyumbatan saluran udaranya.
b. Panaskan baterau, misalnya dengan menaruhnya di tempat yang panas. Larutkan elektrolit dari baterai harus diusahakan sekurang-kurangnya 1.25 untuk mencegah pembekuan.
c. Apabila tidak dipakai zat anti beku maka sebaiknya dipakai air hangat sebagai fluida pendinginnya. Namun air tersebut harus dikeluarkan dari mesin setelah mesin dimatikan, yaitu untuk mencegah pembekuan.
d. Panaskan minyak pelumas dengan alat pemanas minyak pelumas yang dimasukkan ke dalam bak pelumas.
e. Pada cuaca yang sangat dingin, sebaiknya dipakai bahan bakar ringan dengan kekentalan yang serendah-rendahnya.
f. Dalam keadaan tesebut diatas besar kemungkinan air yang ada di dalam bahan bakar akan membeku. Oleh karena itu, sebaliknya baut pembuang pada tangki dan sarinagn bahan bakar dibuka secara berkala supaya air yang mungkin ada didalam bahan bakar itu dapat dikeluarkan.
 
5.1.8 Menyetart mesin pada temperature tinggi.
1. Pakailah minyak pelumas yang sesuai. Untuk daerah yang panas, pakailah minyak pelumas yang lebih kental.
2. Jangan lupa mengisi air pendingin dan jagalah supaya tidak kekurangan atau jangan sampai ada kebocoran. Oleh karena itu, kemungkinan berkarat lebih besar dalam cuaca yang panas, sebaiknya air pendingin diganti secara berkala dan bersihkanlah salurannya daripada kotoran-kotoran. Jadi, pakailah air pendingin yang bersih.
3. yakinlah bahwa pompa air bekerja dengan baik. Maka usahakanlah supaya tali kipas tidak kendor. Demikian juga temostat dan radiatornya, ganti atau perbaikilah jika rusak.
4. Jika mesin kepanasan dan air pendinginnya mendidih, jangan sekali-kali mematikan mesin dengan tiba-tiba. Jalankan mesin pada keadaan tanpa beban sampai temperaturnya turun, sesudah itu metikan mesin dan carilah sebab-sebabnya.
5. Periksa air baterai dan isilah jika kurang. Sebaiknya baterai tidak menjadi panas, oleh karena itu taruhlah ditempat yan dingin.
 
5.2 Perawatan berkala
Supaya keterangan yang akan diberikan disini menjadi lebih jelas, maka sebagai contoh akan dipakai sebuah motor Diesel untuk mobil denan 4 silinder, 4 langkah dengan pendinginan air dan volume langkah totalnya kira-kira 2 liter. Jadi, sebuah mesin dengan spesifikasi dan keadaan operasi tertentu.
 
5.2.1. Pelumasan 
Tabel 5.2.1. berisi petunjuk standar tentang pelumasan.
1. Bak minyak pelumas
a. Periksalah isi minyak pelumas setiep kali sebelum mesin distart (misalnya setiap 10 jam).
b. Gantilah minyak pelumas sesudah dipakai 120 jam, kecuali untuk mesin yang masih baru ataubaru selesai direparasi besar (“overhaul”) penggantian minyak pelumas dilakukan setelah 60 jam pertama.
Penggantian minyakk pelumas dilakukan dengan terlebih dahulumembuang minyak pelumas yang lama dengan jalan membuka baut pembuangannya pada waktu mesin masih panas, yaitu segera setelah mesin berhenti bekerja.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tabel 5.2.1.
Diagram perawatan berkala (bag I)
 
 
Catatan Buang minyak dari saringan minyak pelumas dan pendingin minyak pelumas . ganti elemen saringan minyak pelumas
 
 
Jumlah 3 sampai 5 tetes
Interval 500 jam ○
250 jam
120 jam ○ ○ ○ ○ ○ ○
60 jam * ○ ○ ○
10 jam (setiap hari) ○ □ □
 
Minyak 
Pelumas
 
MM
 
MM MD
 
MM
 
MM MM G
 
 
Prosedur Periksa minyak pelumas
 
Ganti minyak
Periksa dan tambah Ganti  mnyak pelumas Lumasi diafragma Periksa dan tambah Ganti minyak pelumas Periksa dan tambah Ganti minyak pelumas dan cuci bak minyak Lumasi bantalan-bantalan Berikan gemuk pada bantalannya
 
 
Tempat
 
Bak minyak pelumas Bak minyak pelumas pompa penyemprot bahan bakar Governor (pneumatik)
 
Governor (mekanikal)
Saringan udara (jenis minyak)
Motor starter Puli penarik tali kipas
 
Keterangan : 
1. ○ :  pada umumnya 2. MM : minyak pelumas mesin
    □ : dalam keadaan sangat kotor     MD :  minyak diafragma
      * : perawatan pertama pada mesin baru atau setelah direparasi besar .         G :  Gemuk
 
Hal tersebut terakhir dimaksudkan agar supaya semua minyak dan kotorannya dapat dikeluarkan dari mesin dengan mudah. Disamping itu minyak pelumas juga harus dikeluarkan dari dalam saringan dan pendingin minyak pelumas. Kalau perlu, gantilah kertas saringannya.
Jika semua minyak pelumas yang kotor sudah dikeluarkan dari mesin, pasanglah kembali baut pembuangannya dan isikanlah minyak secukupnya minyak pelumas yang baru dan bersih. Kemudian jalankan mesin beberapa menit lamanya dalam keadaan tanpa beban. Sesudah itu periksalah sekali lagi isi minyak pelumasnya.
 
2. Minyak pelumas dari pompa bahan bakar
a. Periksalah isi minyak pelumas dari pompa bahan bakar setiap kali mesin akan distart atau bias juga setiap 60 jam. Kalau ternyata terdapat kebocoran, cari sebabnya dan perbaikilah dengan segera.
b. Gantilah minyak pelumas setiap 120 jam atau kalau ternyata minyak pelumas menjadi encer karena adanya bahan bakar yang masuk kedalamnya. Pengeluaran minyak pelumas yang lama dilakukan dengan jalan membuka baut pembuangannya.
 
3. Governor pnumatik.
Supaya diafragma yang biasabya dibuat dari kulit hewan tidak lekas rusak, berikanlah 3 sampai 5 tetes minyak yang khusus (“diaphragma oil”) kedalamnya setiap 120 jam. Janganlah mempergunakan minyak pelumas mesin untuk hal tersebut diatas.
4. Governor mekanis 
Periksalah minyak pelumas setiap 60 jam dan gantilah 120 jam. Perhatikanlah barang kali ada kkebocoran.
 
5. Minyak saringan udara
a. Kalau dipakai saringan udara jenis “oil bath”, periksalah minyak pelumasnya setiap 60 jam. Isinya tidak boleh terlalu banyak karena selain menghambat aliran udara, minyak tersebut juga akan terisap masuk kedalam silinder dan terbakar bersama-sama dengan bahan bakar. Akan tetapi, minyak yang terbakar itu meninggalkan kerak yang mengotori ruang bakar, jadi tidak baik. Sebaliknya, jika isinya terlampau sedikit, maka proses penyaringan udaranya tidaklah efektif.
b. Ganti minyak setiap 120 jam. Hal ini berlaku pada umumnya, tetapi apabila ternyata minyak sudah kotor atau apabila daerah operasinya sangat berdebu, sebaiknya minyak segera diganti atau jangka waktu penggantiannya dipersingkat. Cuci saringan dan komponennya dengan minyak ringan.
 
6. Starter
Lumasi bantalan motor starter setiap 5000 jam
 
7. Puli penegang tali kipas udara
Kalau mesin diperlengkapi dengan sebuah puli pengatur tegangan tali kipas udara, puli tersebut berputar bebas pada bantalan peluru. Masukkanlah gemuk melalui putting gemuknya setiap 120 jam.
 
 
5.2.2. Perawatan sistem pelumasan.
Berikut ini adalah beberapa keterangan tambahan untuk tabel 5.2.2
1. Bak minyak pelumas 
Bukalah bak minyak pelumas setiap 500 jam dan bersihkan bak tersebut dan saringan isap dari pompa minyak pelumas dengan mempergunakan minyak ringan atau minyak cuci.
 
2. Saringan minyak pelumas
Pada waktu mengganti kertas saringan minyak pelumas seperti telah diterangkan pada butir 5.2.1.1.a., cucilah rumah filter sebersih-bersihnya dengan mempergunakan minyak ringan atau minyak cuci, sementara itu periksalah keadaan kertas saringan yang lama dan minyak pelumasnya. Apabila terlihat adanya kotoran, serbuk logam berwarna putih atau warna tembaga, maka hal itu menunjukkan teerjadinya keausan pada bantalan-bantalannya. Kalau sekiranya sudah parah, segera lakukan tindakan perbaikannya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tabel 5.2.2.
Diagram perawatan berkala (bag 2)
 
 
 
Catatan Sekali  gus pada waktu mengganti minyak pelumas atau apabila lampu  tanda peringatan tekanan minyak pelumas menyala.
Interval 1000 jam ○
500 jam ○ ○ ○
250 jam ○ ○
120 jam ○ ○ ○ * * ○
60 jam * ○
10 jam (setiap hari) ○
 
 
Prosedur Cuci bak dan saringan isap minyak pelumas Ganti elemen saringan Cuci rumah saringan Cuci Buang bahan bakar, kotoran dan air Ganti elemen saringan Bersihkan saringan Periksa tekanan penyemprotan dan kondisi pengabutannya Bersihkan kerak karbon dan kotoran Periksa dan kuras dengan bahan bakar. Buang dan bersihkan Kotoran dan air Cuci 
 
 
Tempat Bak minyak pelumas Saringan minyak pelumas Pendingin minyak pelumas
 
Saringan bahan bakar Pompa pengisi bahan bakar
Penyemprot bahan bakar
 
 
 
Tangki bahan bakar 
 
Tabel 5.2.2. (lanjutan)
Diagram perawatan berkala (bag.2)
 
Lakukan sebelum dan sesudah penggunaan zat anti-beku Setiap 2 minggu Setiap minggu
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
○ ○
○ □ * ○ ○ ○ ○ *
○ □ ○
Bersihkan prasarngan Bongkar dan bersih-bersih,cuci elemen saringan Bersihkan rumah dan elemen . Ganti elemen Periksa dan setel celah bebas katup Ukur tekanan kompresi Periksa banyaknya air pendingin Ganti air pendingin dan cuci radiator Bersihkan sirip-sirip pendingin Periksa dan setel tegangannya Periksa dan ganti sikat-sikatnya Periksa komutator Periksa sikat-sikat dan komutator Bongkar dan periksa kopling pinion Periksa jumlah air baterai Ukur berat jenis air baterai Kokohkan 
 
Saringan udara (jenis minyak)
Saringan udara (jenis kertas)
 
 
Radiator Kipas udara
 
Generator
 
Motor starter
 
Baterai Baut-baut utama
 
 
○ : pada umumnya ;        □ : kalau sangat kotor ; *: perawatan pertama pada mesin baru atau setelah direparasi besar
3. Tekanan minyak pelumas
Kalau tekanan minyak pelumas tidak dapat mencapai bilangan yang disyaratkan oleh pabrik pembuatnya, matikanlah mesin dan lakukanlah pemeriksaan berikut ini :
a. Apakah isi minyak pelumas di dalam bak minyak pelumas cukup ?
b. Apakah ada kerusakan pada pipa atau alat pengukur tekanan minyak pelumasnya ?
c. Apakah ada kebocoran minyak pelumas dari saluran-salurannya ?
d. Apakah pompa minyak pelumas bekerja dengan baik, atau apakah udara masuk ke dalam saluran minyak pelumas ?
e. Apakah ada bantalan yang rusak ?
f. Apakah alat pengatur tekanan minyak pelumas bekerja dengan baik ? 
Biasanya kotoran didalam saluran minyak pelumas menyebabkan gangguan pada sistim pelumasannya.
 
5.2.3. Perawatan sistem bahan bakar 
Berikut ini adalah beberapa keterangan tambahan Tabel 5.2.2.
1. Saringan bahan bakar (lihat gambar 5.2.3.1.)
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.3.1
Saringan bahan bakar jenis saringan kertas.
 
a. Bersihkan saringan terhadap debu, air atau endapan lainnya setiap 60 jam.
b. Gantilah elemen saringan dengan yang baru setiap 1000 jam.
 
2. Saringan pipa isap pompa bahan bakar 
Saringan tersebut harus dibersihkan setiap 120 jam
 
3. Pembuangan udara 
Adanya udara didalam bahan bakar sangat mengganggu kelancaran kerja mesin dan menyebabkan mesin sukar distart. Oleh karena itu, udara harus dikeluarkan dari saluran bahan bakar, terutama apabila terasa ada gejala gangguan tersebut pembuangan udara dilakukan sebagai berikut :
a. Kendorkan baut pembuang udara pada saringan bahan bakar kemudian gerakan pompa (tangan) pengisi bahan bakar seperti terlihat pada 5.2.3.3.a. Maka bahan bakar yang berbusa akan mengalir melalui baut pembuang udara tersebut. Kalau bahan bakar tersebut sudah tidak berbusa lagi, maka hal itu menunjukan bahwa udara telah tidak ada lagi dan kokohkanlah kembali baut pembuang udara tersebut.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.3.3.a.
Pompa pengisi bahan bakar
 
b. Untuk mengeluarkan udara dari dalam pompa penyemprot bahan bakar, kendorkanlah sekerup pembuang udara yang ada pada pompa tersebut, seperti terlihat pada gambar 5.2.3.3.b. Gerakan pompa (tangan) pengisi bahan bakar sampai bahan bakar yang keluar itu tidak berbusa lagi. Sesudah itu kokohkanlah kembali sekerup pembuang udara tersebut.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.3.3.b.
Alat pembuang udara pada pompa penyemprot bahan bakar dengan governor pneumatic
 
c. Sesudah itu kendorkan sekerup penyambung pipa tekanan bahan bakar pada penyemprot bahan bakar. Setel pengatur bahan bakar pada posisi penyemprotan maksimum, kemudian engkol atau putarlah poros engkol dengan motor starter beberapa saat saja. Apabila bahan bakar yang keluar melalui sekrup tersebut tidak berbusa, maka hal itu menunjukkan bahwa bahan bakar sudah bebas udara. Maka kokohkanlah kembali sekrup penyambung tersebut diatas.
 
4. Pemeriksaan dan penyetelan penyemprot bahan bakar .
Periksalah penyemprot bahan bakar setiap 250 jam. Namun, setiap saat gas buang menunjukan warna yang tidak normal atau apabila pembakaran terasa tidak berlangsung dengan baik, maka penyemprot bahan bakar perlu diperiksa. Untuk mesin yang masih baru, sebaiknya penyemprot bahan bakar diperiksa setelah 120 jam yang pertama. Dalam hal tersebut sebaiknya anda minta pertolongan bengkel atau perusahaan yang menjual mesin tersebut.
a. Pengujian penyemprot bahan bakar dilakukan dengan mempergunakan alat penguji (“nozzle tester”). Dalam hal ini penyemprot bahan bakar dipasang pada ujung pipa tekan dari alat penguji tersebut diatas. Tekanlah tuas penekannya perlahan-lahan, sementara itu perhatikanlah besarnya tekanan yang dapat dibaca pada manometer yang terpasang pada alat penguji, justru pada saat bahan bakar mulai keluar dari penyemprot bahan bakar. Kalau tekanan penyemprotan tersebut diatas tidak sesuai dengan yang disyaratkan, maka keadaan tersebut dapat diatasi dengan menyetel pegas pengatur tekanan penyemprotan yang ada pada penyemprotan yang ada pada penyemprotan bahan bakar yang bersangkutan, sesuai dengan prosedur yang diberikan oleh pabrik pembuatnya.
b. Pada waktu tuas penekan ditekan perlahan-lahan, maka pada suatu tekanan tertebtu penyemprot akan mengeluarkan kabut bahan bakar secara terputus-putus. Pancaran kabut bahan bakar yang tidak normal merupakan bentuk selubung kerucut yang terpecah, terpuntir atau miring satu arah.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.3.4.c.
Beberapa bentuk pengabutan yang tidak baik
 
c. Apabila tuas penekan ditekan dengan tiba-tiba, maka penyemprot bahan bakar akan menyemprotkan bahan bakar serupa dengan keadaan yang terjadi didalam mesin. Untuk mesin dengan ruang bakar turbulen, kerucut kabut bahan bakar dipancarkan dari penyemprot dengan sudut puncak ± 40º. Namun besarnya sudut puncak tersebut dapat berbeda, tergantung daripada konstruksi nozelnya. Penyemprot bahan bakar yang rusak tidak dapat mengabutkan bahan bakar, dalam keadan tersebut bahan bakar keluar dalam bentuk titik-titik yang relative besar. Disamping itu, akan terlihat bahwa pemutusan pancaran bahan bakar tidak dapat dilakukan sekaligus dan pada ujung penyemprot terlihat adanya tetesan bahan bakar Gbr 5.2.3.4.c. menunjukkan bentuk semprotan bahan bakar yang baik dan tidak baik, daripenyemprot yang direncanakan membentuk kerucut kabut bahan bakar dengan sudut puncak 4º.
d. Apabila pengabutannya tidak baik, bukalah nozel dari penyemprotannya. Kemudian lepaskanlah katup yang ada di dalam nozel tersebut dengan bensin yang bersih. Sesudah itu pasangkan kembali setelah kedua bagian tersebut dibasahi dengan minyak diesel (solar). Jika anda membersihkan beberapa penyemprot sekaligus, jangan sampai keliru memasang katup pada nozel yang lain.
e. Kalau nozel yang telah dibersihkan itu ternyata tidak juga menghasilkan pengabutan yang baik , sebaiknya nozel dan katup tersebut diganti dengan yang baru.
Pada waktu melakukan pekerjaan tersebut diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Pada waktu hendak melepaskan penyemprot dari kepala silinder, terlebih dahulu membersihkan bagian-bagian disekitar penyemprot tersebut. Sesudah itu lepaskan pipa bahan bakar dari penyemprot dan tutuplah ujung pipa tersebut dan lubang saluran bahan bakar pada penyemprot, supaya debu dan kotoran tidak masuk ke dalamnya.
2. Lepaskanlah penyemprot dari kepala silinder, kemudian bersihkanlah kotoran yang ada pada pemukaan kontak antara penyemprot dan kepala silinder. Sesudah itu tutuplah lubang penyemprot pada kepala silinder supaya debu dan kotoran tidak masuk ke dalam silinder.
3. bersihkan penyemprot dengan alat terbuat dari bahan yang lunak, misalnya kayu. Jangan sekali-kali mengorek-korek lubang nozel dengan kawat logam karena dapat merusak permukaannya.
4. hati-hatilah dalam hal membuka atau memasang paking, jangan sampai rusak permukaannya. Paking yang rusak permukaannya harus diganti dengan yang baru
5. Pompa penyemprot bahan bakar
Boleh dikatakan pompa penyemprot bahan bakar tidak memerlukan perhatian yang terus menerus. Hal itu disebabkan karena pompa jarang rusak. Namun, apabila terasa adanya gejala kerusakan pompa sebaiknya diperiksa dan disetel oleh bengkel yang berwenang. Janganlah merusak atau merubah bagian-bagian yang disegel.
 
 
5.2.4. Perawatan sistem udara.
Dalam hal ini akan diberikan beberapa keterangan tambahan untuk Tabel 5.2.2.
1. Saringan udara dengan minyak (gambar 5.2.4.1).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.4.1
Saringan udara dengan minyak
 
a. Pada waktu hendak memberikan saringan udara ini, metikanlah mesin supaya debu dan kotoran tidak masuk ke dalam mesin.
b. Kotak saringan pendahuluan biasanya transparan, sehingga debu atau kotoran yang ada didalamnya dapat dilihat dengan jelas. Periksalah dan bersihkan setiap pagi.
c. Kalau minyak menjadi kental karena banyak mengandung debu, maka sebaiknya segera diganti meskipun hal tersebut terjadi sebelum saat penggantian yang ditetapkan.
d. Paakilah minyak ringan atau minyak tanah untuk mencuci kotak saringan dan elemennya.
 
2. Saringan udara dengan saringan kertas (gambar 5.2.4.2).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.4.2
Saringan udara dengan kertas
 
a. Matikan mesin selalu membuka saringan udara.
b. Setiap 120 jam, ambilah elemen saringan kemudian bersihkan kotaknya. Elemen saringan tersebut dibersihkan dengan meniupkan udara tekan pada bagian dalamnya. Jika tidak tersedia udara tekan maka elemen dapat dibersihkan dengan mengetukkannya diatas lantai. Janganlah membasahinya dengan air. Kalau mesin bekerja di daerah berdebu untuk jangka waktu lama, sebaiknya saringan udara dibersihkan lebih sering daripada jangka waktu yang telah ditetapkan.
c. Gantilah elemen saringan dengan yang baru setiap 500 jam.
 
3. Menyetel celah bekas katup (gambar 5.2.4.3.a dan 5.2.4.3.b)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.4.3.a.
Menyetel celah katup.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.4.3.b.
Peralatan disekitar tuas.
 
 
Untuk mesin baru atau yang baru direparasi, periksa dan setel celah bebas katup setelah 60 jam yang pertama. Selanjutnya ulangi proses tersebut setiap 250 jam berikutnya. Namun, pemeriksaan dan penyetelan celah bebas katup juga harus dilakukan apabila terdengar bunyi yang tidak normal, terutama pada putaran rendah.
 
4. Mengukur tekanan  kompresi di dalam silinder
Pengukuran ini sebaiknya dilakukan oleh bengkel yang biasanya memiliki alat yang diperlukan. Pengukuran tekanan kompresi tersebut dilakukan setiap 500 jam, sehingga dari data yang diperoleh itu dapat ditentukan kapan mesin harus direparasi. Penurunan tekanan kompresi disebabkan terjadinya kebocoran antara lain sebagai akibat dari :
a. Kontak tak sempurna antara katup dan dudukannya.
b. Keausan dinding silinder
c. Kerusakan cincin kompresi atau macetnya cincin kompresi di dalam alurnya.
d. Lain-lain
Bila diperhatikan bahwa pengukuran tekanan kompresi hendaknya dilakukan setelah penyetelan celah bebas katup seperti yang telah disebutkan dalam butir 3 tersebut diatas.
 
 
5.2.5. Perawatan sistem pendingin.
Dalam hal ini diberikan beberapa keterangan tambahan untuk Tabel 5.2.2.
1. Radiator
a. Periksalah isi air pendingin seperti telah diterangkan dalam butir 5.1.4.2.
b. Supaya proses pendinginan dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya, bersihkan radiator dan mesin dari kerak dan kotoran, setiap 250 jam atau dua kali dalam setahun. Dalam hal tersebut, bukalah keran pembuang yang ada pada bagian bawah radiator. Sementara itu, masukanlah air bersih melalui lubang pengisinya dan jalankan mesin selama kurang lebih 20 menit.
Apabila ternyata terdapat banyak kotoran atau kerak, sebaiknya radiator diisi cairan pembersih atau larutan soda kustik. Jalankan mesin selama kurang lebih 30 menit, sesudah itu kuraslah dengan jalan membuka keran pembuang pada radiator dan isikan air bersih untuk beberapa saat lamanya melalui lubang pengisinya.
Untuk operasi di daerah dingin dimana besar kemungkinan terjadi pembekuan air pendinginnya, maka radiator dan mesin pun harus dikuras terlebih dahulu sebelum dan sesudah mempergunakan zat anti beku.
c. Jika konstruksi pipa air pendingin tidak sederhana maka besar kemungkinan terdapat udara di dalam air pendingin. Hal tersebut harus dapat diatasi karena adanya udara di dalam air pendingin sangat mengganggu alirannya, sehingga terdapat bagian mesin yang menjadi terlalu panas. Dalam hal tersebut udara dapat dikeluarkan dengan jalan membuka katup pembuang udara .
d. Bersihkan debu atau kotoran yang merekat pada sirip pendinginradiator dengan jalan meniupkan udara tekan atau semprotan air, dari sebelah kipas udara (gambar 5.2.5.1.c) supaya pendinginan air di dalam radiator dapat berlangsung dengan baik. Janganlah mempergunakan batang logam untuk membersihkan sirip tersebut untuk mencegah kemungkinan perusakan pipa radiator
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.5.1.c.(7.15)
Sistem pendinginan air sebuah mobil penumpang.
2. Tegangan tali kipas udara
a. Periksa dan setel tegangan tali kipas udara setiap 60 jam. Kalau tali kipas kendor maka selain mengurangi efektivitas pendinginan, tali kipas udara akan cepat rusak. Sedangkan tali kipas udara yang terlalu tegang akan menyebabkan kerusakan bantalan-bantalan pompa air pendingin dan generator. Disamping itu, tali kipas udaranya pun akan cepat rusak.
b. Periksalah apakah tali kipas udara masih dalam keadaan baik . bersihkanlah tali kipas udara dari pada minyak yang gemuk.
 
3. Termostat
Apabila temperature air pendingin terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka hal tersebut juga dapat disebabkan karena thermostat rusak atau tidak bekerja sebagaimana mestinya.
 
 
5.2.6. Perawatan sistem listrik
Sebelum memeriksa dan memperbaiki sistim listrik, semua switch harus dimatikan dahulu. Berikut ini adalah beberapa keterangan tambahan untuk Tabel 5.2.2
1. Generator
Tabel 5.2.2 berlaku untuk generator arus-searah (DC) dimana komutatornya harus dirawat. Apabila dipakai generator arus bolak-balik (AC) maka tidak terdapat komutator, tetapi kombinasi ring selip dan sikat yang harus diperiksa atau diganti sikatnya setiap 2500 sampai 3000 jam. Dalam hal tersebut terakhir daya listrik arus searah dan dipergunakan untuk mengisi baterai.
Dalam hal dipergunakan generator arus searah :
a. periksalah sikat-sikatnya dengan cermat dan bersihkan dari debu karbon yang ada disekitarnya. Sikat-sikat harus dapat bergerak bebas di dalam pemegang sikat. Jika permukaan kontak dari sikap ada dalam keadaan kasar atau aus melebihi batas yang diperbolehkan, gantillah dengan sikat baru meskipun belum waktunya sikat diganti, misalnya karang dan pada 500 jam. Sikat yang masih baru sebaiknya digosok terlebih dahulu permukaan kontaknya (dengan kertas gosok #250), supaya kontak antara sikat dan komutator terjadi dengan sebaik-baiknya.
b. Periksalah komutator setiap 500 jam, tergantung daripada laju keausannya, gosoklah dengan kertas gosok #400, kemudian bersihkanlah dengan lap yamng dibasahi bensin. Keadaan “mika tinggi” (gambar 5.2.6.1.b.) akan menyebabkan loncatan-loncatan listrik sehingga sikat-sikatnya akan cepat rusak. Oleh karena itu, mika isolatornya harus dipotong sampai keadaan standard, seperti terlihat pada gambar 5.2.6.1.b. tersebut.
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.6.1.b.(10.4)
Kondisi komutator
 
 
2. Motor starter
a. Periksa dan rawatlah sikat-sikat dan komutatornya seperti telah dijelaskan dalam 1.a. tersebut diatas
 
 
 
 
Gambar 5.2.6.2.b.1.
Gerakan pinion motor starter
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 5.2.6.2.b.2.
Kopling pinion motor starter
 
b. Kopeling motor starter terletak di bagian yang menjadi satu dengan pinion, seperti terlihat pada gambar 5.2.6.2.b.1. dan gambar 5.2.6.2.b.2. Apabila pelat kopeling aus, maka pinion tidak kan berhubungan sempurna dengan roda gigi gelang pada roda gaya. Jadi pinion tidak meluncur dengan sempurna atau langkah pinion berkurang beberapa mm. apabila karena keausan pada pelat kopeling. Langkah pinion berkurang 2.5 mm, bongkarlah kopeling pinion dan tambahkan pelat penyetel.
 
3. Baterai
Meskipun mesin tidak dijalankan, tegangan baterai pun dapat berkurang. Oleh karena itu , selain pemeriksaan berkala yang harus dilakukan setiap 60 jam, periksalah keadaan baterai sekali setiap satu minggu.
a. Bukalah tutup baterai dan periksalah air baterai. Permukaan air baterai harus diusahakan kira-kira 10 mm diatas pelat sel. Kalau berat jenis air bateri bertambah besar karena penguapan, tambahkan air baterai. Dalam hal air baterai meluap atau bocor dari baterai (dimana dalam hal tersebut berat jenis air baterai tidak berkurang), isilah baterai dengan air asam (sulfat) baterai yang mempunyai berat jenis 1.280 (pada 20ºC).
b. Dengan mengukur berat jenis air baterai dapatlah diketahui muatan baterai. Dibawah ini adalah pedoman yang dapat dipakai untuk mengetahui muatan baterai pada 20ºC.
Tabel 5.2.6.3.
Muatan Berat jenis
Penuh            1,280 sampai 1,300
¾ penuh 1,250
½ penuh 1,220
¼ penuh 1,190
kosong (mati) 1,160
 
Hubungan antara berat jenis dan temperature t º C dapat dikatakan persamaan :
S20 = S + 0,0007.(t – 20)
Dimana S20 dan S berturut-turut adalah berat jenis air baterai pada 20º dan t  ºC. Besar kemungkinannya pelat baterai akan rusak sehingga kapasitas baterai berkurang, apabila muatan baterai turun 50%. Oleh karena itu, harus diusahakan agar muatan baterai tidak banyak berkurang.
Demikian pula pada temperature rendah, kapasitas baterai dapat berkurang sekali sehingga memungkinkan air baterai membeku karena dalam keadaan tersebut diatas berat jenisnya menjadi rendah (seperti diterangkan dalam butir 5.1.7)
c. Usahakanlah agar baterai selalu dalam keadaan bersih dan kering.
d. Perhatikanlah kebersihan sambungan pada terminalnya. Kalau terminalnya kotor atau terkena korosi, bersihkanlah atau cucilah dengan larutan tersebut diatas masuk ke dalam baterai. Sesudah terminal dibersihkan dan dipasang kembali, tutupilah dengan lapisan gemuk. Janganlah sekali-kali membuka atau memasang terminal dengan jalan memukulnya dengan palu.
e. Usahakan agar bagian atas dari baterai bebas daripadalogam. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya korsliting dan hilangnya muatan baterai.
 
 
4.2.7 Pengokohan baut-baut utama.
1. Baut kepala silinder
Untuk mesin baru atau mesin yang packing kepala silindernya baru diganti, periksa dan kokohkanlah baut kepala silindernya pada 60 jam yang pertama dan setiap 500 jam berikutnya. Dalam hal tersebut pergunakanlah kunci torsi, kokohkanlah sesuai dengan urutan dan tosri yang disebutkan dalam buku pedoman yang dibuat oleh pabrik. Hal tersebut diatas perlu dilakukan karena ada kemungkinan terjadi deformasi pada packingnya.
 
2. Baut bantalan utama dan pangkal batang penggerak.
Pada waktu bak minyak pelumas dan saringan isap dibersihkan, maka sesudah dipasang kembali kokohkanlah baut-bautnya dengan mempergunakan kunci torsi (lihat buku pedoman mesin yang bersangkutan).
 
3. Baut lainnya.
Periksalah keadaan baut atau sekerup roda gaya, pipa bahan bakar, penumpu mesin dan lain-lainnya terutama komponen yang bergerak dengan mempergunakan kunci torsi.
 
 
6. KERUSAKAN DAN PERBAIKANNYA.
6.1. Kebijakan mencari sumbe kerusakan.
1. Berfikir sebelum bertindak 
Sebelum melakukan suatu tindakan perbaikan, sebaiknya perhatikan setiap gejala atau tanda kerusakan itu dengan secermat-cermatnya. Jangan tergesa-gesa, tetapi rencanakanlah terlebih dahulu apa yang harus dikerjakan. Kemudian lakukanlah menurut urutan yang sebaik-baiknya. Perhatikan cara membuka atau membongkar, menyetel dan memasangnya kembali apabila anda terpaksa melakukan hal tersebut sendiri. Hal itu diperlukan supaya anda melakukan pekerjaan yang tetap dan dapat menyelesaikan dengan baik.
2. Pencegahan masuknya kotoran 
Kebersihan adalah factor utama yang perlu diperhatikan. Dengan demikian dapat dicegah masuknya kotoran yang menyebabkan mesin tidak bekerja dengan baik atau bahkan justru menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
 
3. Bagian-bagian mesin harus diperlakukan dengan hati-hati
Lakukanlah setiap pekerjaan dengan hati-hati dan jika ada komponen yang harus diganti, gantilah dengan yang sesuai dan berkualitas baik. Perhatian khusus ditujukan pada sistem bahan bakar, permukaan bantalan, serta komponen yang dibuat dari panduan alumunium.
 
4. Pekerjaan yang sempurna
Pakailah kunci yang sesuai untuk sekerup atau baut yang bersangkutan supaya tidak merusak dan tidak mencelakakan. Perkiraan yang salah terhadap berat suatu komponen tertentu memungkinkan jatuhnya komponen tersebut sehingga rusak atau melukai operator atau orang lain yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, pakailah alat dan perlengkapan pembantu yang sesuai sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan mudah, cepat dan sempurna.
 
 
6.2. Mesin tidak dapat distart
 
Kemungkinan Penyebab Kerusakan Perbaikan
1. Pada waktu distart, poros mesin tidak berputar sangat lamban dan tidak tersatur.
a. Pada sistem start dengan udara tekan.
1) Tekanan udara di daalm tangki terlalu rendah.
2) Kebocoran melaluipipa udara tekan.
3) Kebocoran melalui katup udara
 
b. Pada sistem start dengna listrik
1) Battery lemah atau mati 
2) Terminal battery kotor
3) Kawat listrik terlepas, rusak atau putus 
4) Kerusakan pada relai
 
c. Kerugian mekanis 
1) Kekentalan minyak pelumas terlalu tinggi.
2) Kemacetan pada beberapa bagian
3) Mesin terlalu dingin.
d. Motor starter rusak
 
 
Isi udara tekan. 
 
Perbaiki yang bocor atau rusak.
Bongkar,perbaiki atau ganti yang baru.
 
 
Isi atau ganti battery.
Bersihkan dan lapisi gemuk.
Perbaiki atau kokohkan sambungan-sambungannya
Perbaiki atau ganti dengan yang baru.
 
 
Panasi atau ganti dengan yang lebih sesuai.
 
Bongkar dan perbaiki.
Panasi
Perbaiki atau ganti.               
2. Alat pemanas rusak
a. Kerusakan sekering
b. Tegangan battery terlalu rendah
Ganti dengan yang baru
Isi battery.
3. Tak ada penyemprotan bahan bakar
a. Tidak cukup bahan bakar di dalam tangki.
b. Pipa bahan bakar tersumbat
c. udara di dalam sistem penyemprotan bahan bakar.
d. Pompa pengisi bahan bakar tidak mengisap
e. Plunyer pompa penyemprot bahan bakar sudah aus
f. Sambungan-sambungan antara governor dan pompa longgar atau terlepas
g. Kotoran atau karat pada pegas katup pompa.
h. Pegas pompa patah
Isi bahan bakar
 
Bersihkan
Keluarkan udara dari sistem bahan bakar
 
Bongkar pipa, bersihkan dan perbaiki.
 
Ganti dengan yang baru
 
Perbaiki 
 
 
Bersihkan 
 
Ganti dengan yang baru.
4. Nozel tidak bekerja dengan baik.
a. Katup nozel macet.
 
 
b. Nozel menetes
c. Sekerup pipa bahan bakar longgar
d. Pipa bahan bakar patah atau bocor
5.  Kebocoran pada nozel
Buka nozel dan ujilah dengan alat penguji nozel. Kalau nozel tidak bekerja dengan baik, bongkar dan perbaiki.
Sama dengan tersebut diatas.
Kokohkan 
Ganti dengan yang baru
Bersihkan permukaan sambungan-sambungan dang anti pakingnya (kalau ada)
 
5. Saat penyemprotan kurang tepat
a. Kesalahan penyetelan pada kopeling pompa penyemprot bahan bakar.
b. Kam sudah aus
c. Permukaan bagian yang menempel pada kam sudah aus
Betulkan,sesudah itu kokohkan kembali sekrupnya.
 
Ganti dengan yang baru.
Ganti dengan yang baru.
6. Kebocoran gas dari dalam silinder 
a. Katup isap atau katup buang macet atau muka katup tidak menutup sempurna pada dudukannya
b. Pegas katup patah
c. Cincin torak macet di dalam alurnya
d. Kebocoran melalui paking kepala silinder.
Bongkar dan perbaiki
 
 
ganti dengan yang baru
Bongkar dan perbaiki
Kokohkan baut-baut kepala silinder. Kalau masih bocor, ganti dengan paking yang baru.
 
 
6.3. Mesin dapat distart tetapi tiba-tiba mati.
 
 
Kemungkinan Penyebab Kerusakan Perbaikan
1. Air di dalam tangki bahan bakar. Buang air dan udara dai dalam tangki dan pipa bahan bakar
2. Lubang ventilasi bahan bakar tersumbat Bersihkan 
3. Saringan bahan bakar tersumbat Bersihkan atau ganti dengan yang baru
4. Katup pompa pengisi bahan bakar kotor atau tersumbat. Bersihkan 
5. Udara di dalam pompa bahan bakar .
a. Kebocoran pada pipa bahan bakar antara pompa dan saringan.
b. Baut pembuang udara pada pompa penyemprot bahan bakar kendor
Perbaiki kemudian buang udara dari dalam bahan bakar
Kokohkan 
 
 
 
 
6.4. Mesin dapat distart tetapi tekanan minyak pelumas tidak naik.
 
Kemungkinan Penyebab kerusakan Perbaikan
1. Kekurangan minyak pelumas Tambah 
2. Kekentalan minyak pelumas terlalu tinggi sehingga tidak terisap oleh pompa (hal tersebut sering terjadi pada keadaan dingin). Panasi atau ganti dengan minyak pelumas yang lebih sesuai
3. Alat pengukur tekanan rusak (diperkirakan demikian apabila ternyata minyak pelumas memancar keluar pada sambungan pipa (dilepaskan) Gantilah dengan yang baru.
4. Pipa alat pengukur tekanan buntu. Bongkar dan bersihkan 
5. Udara terisap masuk kedalam pipa isap pompa Periksa apakah paking pompa atau pipa isapnya bocor atau sudah rusak. Perbaiki atau ganti dengan yang baru.
6. Pipa isap dari pompa atau saringan isapnya buntu Bongkar dan bersihkan
7. Roda gigi atau rumah pompa sudah aus Bongkar dan periksa, ganti dengan yang baru.
8. Pada waktu memasang pompa pelumas, roda gigi dan rumah pompa lupa tidak diminyaki. Bongkar kembali dan diminyaki
9. Katup pengatur tekanan minyak pelumas rusak Bongkar dan periksa, gantilah dengan yang baru.
 10. Baut pembuang minyak pada saringan minyak pelumas longgar. Kokohkan
 11. Saringan dengan minyak pelumas tersumbat Bersihkan dan ganti elemennya
 
 
 
 
6.5 Pada waktu mesin bekerja, tekanan minyak pelumas berkurang.
 
Kemungkinan penyebab kerusakan Perbaikan
1. Kekentalan minyak pelumas berkurang karena terlalu panas sehingga tekannya pun berkurang.
a. Mesin bekerja terus menerus pada daya penuh
b. Kebocoran gas pembakaran melalui sela torak terlalu besar
c. Banyak bagian-bagian mesin yang macet dan aus (minyak pelumas mengandung serbuk logam)
 
 
Matikan mesin. Sesudah minyak pelumas menjadi dingin kembali, mesin boleh dijalankan lagi.
Bongkar mesindan gantilah cincin toraknya
Periksa dan perbaiki bantalan-bantalan poros engkol dan batang penggerak.
3 Tekanan minyak pelumas tiba-tiba turun dan tak dapat naik kembali.
a. Kerusakan bantalan utama poros engkol.
b. Pipa minyak pelumas rusak, bocor atau longgar sambungannya.
 
Bongkar, perbaiki, ganti bagian yang rusak
Perbaiki atau ganti
     3     Udara masuk ke dalam pipa, karena kekurangan minyak pelumas, sehingga tekanan minyak pelumas naik-turun. Isi minyak pelumas
 
 
6.6 Daya mesin berkurang.
 
Kemungkinan penyebab kerusakan Perbaikan
1. Jumlah bahan bakar yang disemprotkan tidak sesuai dengan yang diperlukan.
a. Penyetelan penyetop gerigi pengatur bahan bakar tidak tepat
b. Plunyer pompa sudah aus.
 
 
 
c. Sekerup penetap yang terdapat pada mekanisme pemutar plunyer pompa, kendor
d. Kebocoran pada pipa bahan bakar
 
 
e. Kotoran pada katup pompa
 
f. Kebocoran pada rumah katup
 
g. Pegas katup parah
 
Periksa dan setel. Biasanya bagian tersebut disegel. Buka dahulu.
Periksa dan setel dengan mempergunakan alat penguji pompa. Bersihkan atau ganti saringan bahan bakarnya. Perbaiki atau ganti dengan plunyer yang baru.
Perbaiki dan kokohkan sekrup pada tempatnya.
 
 
Periksa letak kebocoran tersebut dan perbaiki;kokohkan sekrup penyembungnya. Kalau patah, ganti dengan yang baru.
Bersihkan dan pasang kembali dengan sebaik-baiknya.
Perbaiki dan ganti katup dan dudukannya
 
Ganti dengan yang baru 
2. Nozel penyemprot bahan bakar rusak 
a. Lubang nozel tersumbat
b. Katup nozel kotor atau rusak.
c. Pegas katup patah
Bersihkan atau ganti nozel.
Bersihkan atau ganti dengan nozel yang baru.
Ganti dengan pegas baru
3. saat penyemprotan bahan bakar kurang tepat
a. Saat penyemprotan terlalu pagi sehingga terjadi ketukan (“knocking”)
b. Saat penyemprotan bahan bakar terlalu lambat;gas buang berwarna putih.
Lambatkan 
 
Cepatkan.
4. Kerusakan pada beberapa bagian mesin.
a. Keausan silinder dan cincin torak.
 
b. Ketidak sempurnaan kontak muka katup dan dudukannya.
c. Celah bebas katup kurang tepat
d. Cincin torak macet
e. Cincin torak patah.
f. Pendinginan kurang baik
 
g. Pelumas kurang baik.
Perbaiki silinder atau ganti silinder dan cincin torak;kalau perlu torak harus diganti.
Asah muka katup pada dudukannya.
 
Setel 
Perbaiki atau ganti
Ganti 
Periksa dan perbaiki thermostat,pompa air,radiator,dsb nya.
Periksa dan perbaiki pompa minyak pelumas, saringan, pendingin minyak pelumas dsb.nya.
 
 
6.7. Ketukan
 
Kemungkinan penyebab kerusakan Perbaikan
1. Saat penyemprotan bahan bakar terlalu pagi Lambatkan 
2. Tekanan penyemprotan bahan bakar kurang tepat.
Periksa nozzle dan setel tekanannya sesuai dengan pedoman
3. Nozel penyemrot bahan bakar rusak Ganti dengan nozel yang baru
4. Kebocoran gas dari silinder sehingga menurunkan tekanan kompresi.
Perbaiki silinder atau ganti silinder dan cincin torak; kalau perlu torak harus diganti.
5. Pendinginan kurang tepat (terlalu dingin) Periksa dan perbaiki thermostat, pompa air, radiator, dsb.nya
6. Bahan bakar kurang baik. Pakailah bahan bakar yang sesuai.
7. Minyak pelumas masuk ke dalam ruang bakar dan terbakar
a. Terlalu banyak minyak di dalam bak minyak pelumas
b. Cincin torak rusak atau macet.
 
 
c. Dinding silinder aus
d. Minyak pelumas terlalu encer.
 
Kurangi 
 
Bongkar, perbaiki atau ganti dengan yang baru. Bersihkan lubang-lubang minyak pada torak dan cincin torak
Perbaiki atau ganti
Pakailah minyak pelumas yang sesuai.
8. Bunyi mesin yang tidak normal (ketukan masih terjadi meskipun bahan bakar sudah dihentikan)
a. Keausan bantalan pangkal batang penggerak dan poros engkol.
b. Baut bantalan pangkal batang penggerak longgar atau patah.
c. Celah antara sisi torak dan dinding silinder terlalu besar.
d. Torak menumbuk bagian atau benda lain di dalam silinder.
 
 
Bongkar dan perbaiki
 
Bongkar dan perbaiki
 
Bongkar, perbaiki atau ganti tabung silinder dan torak yang sesuai 
Bongkar, periksa dan perbaiki 
 
 
6.8. Gas buang terlalu tebal.
 
Kemungkinan penyebab kerusakan Perbaikan
1. Warna gas buang putih atau biru.
a. Kerusakan torak dan cincin torak atau permukaannya belum saling menyesuaikan satu sama lain dengan dinding silinder sehingga minyak pelumas masuk ke dalam ruang bakar.
b. Minyak pelumas terdapat dalam pipa gas buang setelah mesin lama bekerja tanpa beban
c. Kebocoran gas dari dalam silinder sehingga tekanan kompresinya berkurang.
Ganti dengan yang baru atau untuk sementara waktu jalankan dulu dengan beban rendah sampai permukaan bagian yang bergesekan itu saling menyesuaikan.
 
 
Naikkan putarannya dan bebani mesin. Biasanya keadaan tersebut dapat diatasi.
 
Perbaiki silinder atau ganti silinder dan cincin torak; kalau perlu torak harus diganti.
2. Gas buang berwarna hitam
a. Terlalu banyak bahan bakar yang disemprotkan
b. Saat penyemprotan kurang tepat
c. Tekanan penyemprotan terlalu rendah
d. Penyemprotan tidak bekerja baik
1) Pegas mengatur tekanan patah.
2) Katup nozel macet sehingga pengabutan bahan bakar tidak sempurna.
e. Kekurangan udara 
1) Saat pembukaan dan penutupan katup kurang tepat.
2) Kebocoran gas dari dalam silinder.
3) Saringan udara tersumbat
Periksa dan setel penyetot gerigi pengatur bahan bakar
Periksa dan setel
Setel sesuai pedoman
 
Ganti dengan yang baru
Buka nozel dan ujilah dengan alat penguji nozel. Kalau nozel tidak bekerja baik, bongkar dan perbaiki.
 
Perbaiki 
 
Perbaiki silinder atau ganti silinder dan cincin torak; kalau perlu torak harus diganti.
Bersihkan 
 
6.9 Putaran mesin sukar diatur.
 
Kemungkinan penyebab kerusakan Perbaikan
1. Mesin tidak dapat mencapai putaran maksimum
a. Pegas governor patah
b. Banyak kerak karbon pada nozel penyemprot bahan bakar
 
Ganti dengan pegas baru dan setel governor
Bersihkan
 
2. Mesin bekerja melebihi putaran maksimum yang diperbolehkan 
a. Pegas governor terlalu kuat
b. Gerigi pengatur bahan bakar macet atau tak dapat bergerak bebas 
1) Kotoran atau endapan pada minyak pelumas.
2) Plunyer pompa penyemprot bahan bakar macet atau rusak
 
Setel penyetop pengatur bahan bakar pada governor.
 
 
Setel penyetop pengatur bahan bakar pada governor.
 
Bongkar dan bersihkan plunyer. Jika ternyata rusak, ganti dengan yang baru
3. Mesin dapat bekerja tanpa beban tetapi segera mati kalau dibebani.
a. Mekanisme governor macet pada posisi tanpa beban
1) Gerakan batang-batang governor kurang sempurna
2) Gerigi pengatur bahan bakar tak dapat bergerak bebas.
 
 
 
Periksa dan perbaiki
 
Periksa dan perbaiki
4. Mesin bekerja pada putaran tinggi dan tak dapat dimatikan
a. Batang-batang governor tak dapat kembali pada posisi stop
b. Gerigi pengatur bahan bakar rusak dan tak dapat kembali pada kedudukan stop
c. Sekrup penetap pinion pada pemutar plunyer terlepas.
 
Periksa dan perbaiki
 
Periksa dan perbaiki
 
 
Periksa dan setel kembali kemudian kokohkan.
 
 
 
 
 
 admin@pt-ltf.com
 
 

 

PT. LTF Indonesia

Pilihan Bahasa